Safari Ramadhan Hari Tanoe, Pencitraan Belaka?

Safari Ramadhan Hari Tanoe, Pencitraan Belaka?

Mustanir.com – Bersama pengurus DPP Partai Perindo, Ketua Umum Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo (HT) memulai Safari Ramadhan dengan mengunjungi Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (18/6).

HT bersilaturahmi ke Pondok Pesantren (Ponpes) Darussalam pimpinan Ahmad Hisyam Syafaat di Desa Karangdoro, Kecamatan Tegalsari. HT berbagi wawasan kebangsaan, ilmu dan pengalaman kewirausahaan, serta memberikan motivasi.

“Saya ingin generasi muda terus belajar, rajin, berkembang, tumbuh terus, akhirnya bisa maju dengan baik. Masa depan Indonesia di tangan generasi muda,” ujarnya, dalam siaran pers, Ahad (19/6).

Selain Ponpes Darussalam, HT bersilaturahmi ke Ponpes Al Falah dan Ponpes Mahfilud Duror di Jember. Di Ponpes Al Falah Jember, HT bertemu dengan Wakil Bupati Jember Abdul Muqit Arief, yang sekaligus merupakan pengasuh Pondok Pesantren Al Falah di dusun Karangharjo, Kecamatan Silo.

Dalam pertemuan tersebut, keduanya membahas berbagai mulai dari pendidikan hingga perkembangan Jember dalam berbagai hal termasuk perkembangan pertanian dan pariwisata.

Kemudian, HT bertamu ke Pondok Pesantren Mafilud Duror, Desa Suger, Kecamatan Jelbuk, Jember asuhan KH Ali Wafa Abdulah. Di Ponpes ini, HT mengajak santri untuk selalu fokus terhadap tiga kualitas. Kualitas pertama, HT menjelaskan mengenai hubungan dengan sang pencipta.

“Kita semua ingin sukses, tapi sukses dengan cara yang benar bukan menghalalkan segala cara. Makanya pikiran kita harus benar, itu pondasi penting,” katanya.

Selama lima hari pada 18-22 Mei, HT dan jajaran DPP Perindo berkeliling Pulau Jawa melalui jalur darat. Dari Banyuwangi, Jember, Lumajang, Surabaya, Gresik, Lamongan, Tuban, Rembang, Kudus, Semarang, Kendal, hingga Cirebon lalu menuju Jakarta. Estimasi jarak tempuh sekitar 1.500 kilometer. (rol/adj)

Komentar Mustanir.com

Hary Tanoe, salah seorang pengusaha dan pemilik media berita yang juga merupakan pendiri Partai Perindo ini, memang sedang gencar melakukan pencitraan dirinya sebagai seorang tokoh politik yang ramah dan dapat diterima oleh umat Islam.

Lebih jauh sesungguhnya berkaitan dengan urusan kepemimpinan, Islam jelas telah melarang seorang non-muslim untuk menjadi pemimpin dan pengatur urusan kaum muslimin, apapun alasannya. Dan sebaik apapun tingkat elektabilitasnya.

Demokrasi adalah sistem politik negeri ini yang menyebabkan orang-orang non-muslim bisa menjadi pemimpin bagi umat Islam. Demokrasi adalah lingkaran syaitan yang harus kaum muslimin jauhi dan buang jauh-jauh. Kembali kepada Islam, karena Syariat Islam, lebih dari cukup untuk menjadi pengatur kehidupan bagi manusia.

Categories