Lebaran Terakhir Sang Pangeran

MUSTANIR.netPada September 1829, empat setengah tahun berlangsungnya Perang Jawa, sudah tampak jelas sedang mendekati akhir. Sebelum pertempuran Siluk 17 September 1829 yang sangat menentukan itu, Diponegoro sudah mengungkapkan sebuah firasat kepada Pangeran Mangkubumi bahwa perang sabil yang dipimpinnya akan berakhir. Pertanda ini diawali oleh meninggalnya Pangeran Prabuningrat, paman Diponegoro, yang syahid dalam mempertahankan daerah perbukitan Selarong.

Empat hari kemudian, Pangeran Ngabehi beserta dua orang putranya, Adikusumo dan Joyokusumo syahid di pegunungan Kelir dengan cara yang sangat mengenaskan. Kepalanya dipenggal dan dibawa ke keraton untuk diberikan kepada pimpinan militer Belanda. Pangeran Ngabehi bukan hanya paman Diponegoro tapi juga panglima senior dan penasihat kepercayaannya. Ketika mendengar syahidnya paman kinasihnya, Diponegoro menyadari bahwa ia kini tinggal sendiri dan merasa tidak bisa lagi mengendalikan apa yang terjadi pada mereka yang tertinggal.

Keadaan yang menimpa Diponegoro juga pernah diramalkan oleh seorang syarif dari tanah Arab yang bermukim di Majasto (Klaten), yang keberadaannya sangat tidak disukai oleh pihak Mangkunegaraan. Dalam babadnya, Diponegoro menceritakan obrolan antara dirinya dengan syarif yang memakai nama Jawa Mas Lurah ketika di Selarong. Saat itu Pangeran Diponegoro sedang tiduran. Kemudian mendekatlah Mas Lurah menemuinya lalu memijit kaki Pangeran Diponegoro. Tetapi lama-lama dia mengeluarkan air mata. Bertanyalah Pangeran Diponegoro dengan pelan: “Wahai Mas Lurah, ada apa kamu menangis?” Aku sangat kasihan melihatmu.” Pangeran Diponegoro tersenyum dan berkata: “Kamu kok kasihan, apa sebabnya?” Mas Lurah berkata: “Kamu ini sudah ditakdirkan menjadi pemimpin agama Islam di Jawa, tetapi tidak diberi teman walaupun hanya seorang.” Pangeran Diponegoro berkata: “Kok seperti orang mimpi kamu? Seisi tanah Jawa ini sudah menjadi temanku. Ada ulama, orang-orang berilmu tinggi, syarif, habit (orang-orang taat) dan syuhada yang tersebar di Jawa, begitu juga Kyai Mojo. Mas lurah dengan pelan berkata: “Semua itu akan berubah pada akhirnya.”

Setelah bulan September 1829 yang dilalui dengan perasaan getir di mana banyak panglima dan pendukungnya yang menyerah, bulan Oktober pun dilalui dengan sangat pahit. Sentot yang akhirnya menyerah, ibunda dan juga putrinya juga ditawan di sebuah desa di selatan Kulon Progo. Setelah hampir tertangkap pada pertengahan November oleh pasukan gerak cepat Belanda, Diponegoro berjuang selama tiga bulan di tengah rimba Bagelen barat dengan kondisi tubuh menderita demam akibat malaria tropika yang parah. Selama itu ia hanya ditemani oleh dua orang punokawannya yang sangat setia.

Saleh As’ad Djamhari menggambarkan rangkaian peristiwa ini sebagai garis batas akhir Perang Jawa dalam pengertian militer. Tekanan berat dari pihak Belanda sekarang berarti bahwa para panglima tentara Diponegoro tidak mempunyai pilihan selain mengakhiri perlawanan mereka dan menyerah. Kekuatannya telah kehilangan inti karena dalam tahap-tahap akhir perang itu tentaranya sudah tidak lagi punya tenaga dan semangat tempur. Sebagian besar panglima tentaranya sekarang menyerahkan diri karena putus asa, dan karena benar-benar kelelahan.

Walaupun panglima dan pendukung setia Diponegoro yang lain juga masih cukup banyak. Basah Hasan Munadi, seorang Arab-Jawa yang memimpin resimen kawal pribadi Barjumuah, masih menguasai daerah pegunungan Remo antara Bagelen dan Banyumas. Di tempat itu juga seorang basah berusia muda, yaitu Basah Ngabdulmahmud Gondokusumo yang bertahan dengan 300 prajurit pinilih. Ada juga kakaknya, yaitu Basah Ngabdulkamil Mertonegoro, seorang kepercayaan dan menantu Diponegoro dan Adipati Abdullah Danurejo yang mampu menggalang dukungan luas dari penduduk kabupaten Bagelen dan Banyumas. Di kawasan Ledok Kedu barat-laut dan daerah Karang Kobar, seorang panglima yang masih terus mengganggu Belanda dari markasnya di gunung Sundoro, yaitu Basah Imam Musbah. Dan di daerah Remolah akhirnya dipilih sebagai tempat persembunyian Diponegoro untuk memulihkan tenaga sembari merencanakan tindakan selanjutnya.

Dengan kondisi yang sangat memprihatinkan tersebut, Diponegoro tetap teguh dengan cita-cita agungnya yaitu menaikkan martabat Islam dan menjadikan dirinya sebagai sayidin panotogomo. Hasan Munadi yang telah berbicara dengan Pangeran Diponegoro, apakah ada keinginan untuk menyerahkan diri dan mau berunding dengan Belanda dengan hadiah hiburan diberi kekuasaan sebagian wilayah Jogja, dengan tegas beliau menolaknya. Akhirnya Hasan Munadi menjadi yakin bahwa satu-satunya jalan untuk membuat Diponegoro takluk adalah kekalahan militer atau penangkapan langsung, bukan dengan jalan perundingan.

Upaya Belanda yang dipilih ternyata juga bukan dengan perang total untuk menaklukkan Diponegoro. Ini terungkap ketika putra almarhum Pangeran Blitar coba diyakinkan oleh Kolonel Cleerens bahwa Belanda akan bertarung selama diperlukan untuk menaklukkan Diponegoro. Kemudian ia menjawab bahwa Diponegoro sangat yakin bahwa pihak Belanda tidak akan mampu memikul terus pengeluaran sekarang ini, dan apabila jika tetap bersembunyi satu atau dua tahun Belanda tidak akan sanggup membiayai serdadunya.

Dan ini terbukti, kecerdikan Kolonel Cleerens dan didukung kelicikan Jenderal de Kock, mulai menjalin komunikasi dengan pihak Diponegoro dengan tujuan perundingan. Yang sebenarnya bukan perundingan namun menangkap Diponegoro hidup atau mati. Ini sebagaimana surat perintah raja Belanda yang dibawa oleh Van den Bosch: “…Jangan melakukan perundingan apa pun dengan dia, hanya dengan syarat pemenjaraan seumur hidup penyerahan diri dan penangkapannya diizinkan. Tidak ada syarat lain apa pun juga yang dapat diterima.”

Maka pada 28 Maret 1830 bertepatan dengan 2 Syawal 1245 Hijriah di mana umat Islam biasanya sedang merayakan hari raya Idul Fitri, tipu daya Belanda berjalan sukses. Hari lebaran yang seharusnya penuh suka cita, berubah menjadi tragedi pengkhianatan yang tak terlupakan dalam sejarah. Diponegoro yang punya niat baik untuk bersilaturahmi dan melakukan perundingan, namun ditangkap dengan licik dan curang oleh Belanda. Inilah lebaran terakhir sang pangeran sebagai orang yang bebas sebelum beliau diasingkan selama 25 tahun.

Bagaimana lebaran kalian hari ini? Pastinya masih lebih baik daripada lebaran terakhir sang pangeran. Jadi tidak ada alasan lain selain terus untuk bisa meninggikan martabat Islam dengan melanjutkan kehidupan Islam agar Islam bisa diterapkan secara kaffah seperti perjuangan Pangeran Diponegoro dulu. []

Sumber: Ni’mat al Azizi

About Author

1 thought on “Lebaran Terakhir Sang Pangeran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories