
Bagaimana Sebuah Penyimpangan Bisa Terjadi?
MUSTANIR.net – Setiap penyimpangan dalam politik maupun pemikiran tidak pernah bermula dari sebuah keputusan besar yang menggemparkan. Ia berawal dari satu kompromi kecil yang dibungkus dengan alasan, “ini demi kemaslahatan,” atau “ini hanya untuk sementara,” atau “ini tuntutan realitas.”
Lama-kelamaan, kompromi itu membesar hingga menjadi prinsip. Pengecualian berubah menjadi metode, dan berbagai konsep pun didefinisikan ulang.
Sikap mengorbankan prinsip disebut sebagai moderat, sikap mencari muka atau berkompromi dengan kebatilan disebut kebijaksanaan, sementara mundur dari prinsip-prinsip yang diyakini disebut fleksibilitas. Hingga akhirnya, sebuah masyarakat berpindah dari membela prinsip-prinsipnya menjadi membela berbagai alasan untuk meninggalkannya.
Demikianlah, suatu masyarakat tidak selalu dikalahkan di medan perang, tetapi sering kali dikalahkan di medan kesadaran. Ketika akidah dikosongkan dari maknanya, hukum-hukum digantikan oleh pertimbangan kepentingan, dan sikap diukur dengan untung-rugi sesaat, bukan dengan standar kebenaran.
Pada saat itulah penjajahan dianggap sebagai sesuatu yang bisa diterima, normalisasi dipandang sebagai pilihan politik, dominasi asing disebut sebagai kemitraan, dan ketergantungan kepada kekuatan internasional dianggap sebagai sebuah keniscayaan. Bahkan, proyek yang dahulu ditolak akhirnya diterima sebagai kenyataan yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Karena itu, yang paling berbahaya bagi masyarakat bukan hanya penyimpangan itu sendiri, melainkan langkah-langkah awal yang membuka jalannya, kata-kata yang memperindahnya, tulisan-tulisan yang membenarkannya, serta suara-suara yang membiasakan masyarakat dengannya hingga mereka kehilangan kepekaan untuk mengingkarinya.
Siapa pun yang tidak menghentikan langkah pertama, pada akhirnya akan mendapati dirinya hidup dalam kenyataan yang dibentuk oleh ribuan langkah kecil yang dahulu dianggap sepele.
Sebab, sebuah masyarakat tidak kehilangan kemuliaannya sekaligus dalam satu waktu. Kemuliaan itu direnggut sedikit demi sedikit, hingga suatu hari mereka tersadar bahwa agama, persatuan, dan kemandirian mereka telah hilang, padahal mereka merasa tidak pernah memberikan apa pun selain serangkaian kompromi kecil. []
Sumber: أحمد فرج الشّمالي
