Sidang Ahok ke-12, Habib Rizieq Sebutkan Enam Kata Penodaan Al-Quran oleh Ahok

habib-rizieq-shihab-menjadi-saksi-dalam-sidang-terdakwa-_170228101221-378

Sidang Ahok ke-12, Habib Rizieq Sebutkan Enam Kata Penodaan Al-Quran oleh Ahok

MUSTANIR.COM, Jakarta – Ketua Dewan Pembina GNPF-MUI, Habib Rizieq Syihab bersaksi di Sidang kasus penistaan agama oleh Gubernur DKI, Batsuki Tjahja Purnama. Dalam kesaksiannya, Habib memaparkan enam ungkapan yang dinilai bermasalah bahwa dalam pernyatan Ahok di Kepulauan Seribu.

“Pertama, ‘jadi jangan percaya’, kedua ‘nggak pilih saya’, ketiga ‘dibohongi pakai’ , keempat ‘macam-macam itu’, kelima ‘karena takut masuk neraka’. Dan yang terakhir ‘dibodohin gitu’,” katanya dalam sidang Ahok di Gedung Kementan, Jakarta Selatan pada Selasa (28/02).

Ia pun memerinci dari enam ucapan tersebut. Pertama, ‘Jadi jangan percaya sama orang’ . Menurutnya, kata ‘orang’ mengandung makna menyeluruh. Mencangkup siapa saja yang menyampaikan surat Al-Maidah 51.

“Perkataan ini berarti telah mengajak masyarakat agar jangan percaya siapapun yang menggunakan Al-Maidah 51 untuk melarang ummat Islam memilih pemimpin,” tegasnya.

Selanjutnya, kata yang menjadi masalah adalah ‘nggak pilih saya’ dan ‘karena takut masuk neraka’. Ia menilai perkataan itu jelas, telah menyinggung konteks pilkada. Tidak ada hubungannya dengan kunjungan kerja.

“Ketiga, siapa yg dibohongi? Tentu artinya adalah umat Islam yg hadir dalam acara itu. Maksudnya dibohongi pakai Al-Maidah, berarti Al maidah sebagai alat membohongi bahkan sumber kebohongan,” ujarnya.

Selanjutnya, yaitu kata ‘jangan percaya sama orang’, menurut Habib maknanya mencangkup siapa saja. Baik itu, Rasulullah, sahabat, ulama, tabi’in, tabi’ut-tabi’in serta para ulama yang mendakwahkan isi Al-Maidah 51.

“Siapa yang membohongi umat Islam? Maksudnya, orang yang menggunakan Al-Maidah 51. Siapapun dia. Terdakwa tidak menyebut si A si B,” sambungnya.

Kata selanjutnya yaitu ‘macam-macam itu’. Habib menjelaskan bahwa konotasi kata ini ditujukan kepada orang, bahkan ke Al-Quran. Dan terakhir yaitu kata ‘dibodohin gitu’.

“Ternyata terdakwa bukan menyampaikan bukan banyak dibohongi, tapi dibodohi. Ini makin mempertegas dari pada penodaan yang dilontarkan terdakwa,” tukasnya. [knt/rs]

Komentar Mustanir.com

Sidang yang ke-12 dalam kasus penodaan Al-Qur’an oleh Ahok ini menandakan kepada kita bahwa keberpihakan pemerintah kepada sang penista Al-Qur’an sangat besar sekali. Inilah wajah asli demokrasi wahai kaum muslimin, dimana demokrasi akan tetap berpihak kepada mereka sang pemilik modal besar. Untuk itulah saatnya kaum muslimin buang dan campakkan demokrasi. Yuk kembali kepada sistem politik Islam, sistem yang turun dari Sang Maha Adil yakni Allah سبحانه وتعالى .

Categories