Sikap BKLDK Cirebon Raya Terhadap Tragedi Tolikara

BKLDK-Ciraya

Sikap BKLDK Cirebon Raya Terhadap Tragedi Tolikara

Mustanir.com – PAPUA MEMBARA, diakibatkan oleh pembakaran masjid baitul muttaqin di Tolikara-papua oleh kelompok “teroris” Kristen. Hal itu berawal saat Umat Islam di Tolikara, Papua, menjalankan sholat Idul Fitri 1436 H, tiba-tiba massa yang kurang lebih 70 orang melempari jamaah saat Takbir ke-7, lalu masjid diserbu dan dibakar orang-orang dari distrik.

Massa yang disebut dari GIDI Papua (Gereje Injili Di Indonesia) menyerbu dan membakar masjid karena hari ini (Idul Fitri) mereka juga punya acara. Sehari sebelumnya GIDI sudah layangkan SURAT PERINGATAN agar Umat Islam TIDAK TAKBIRAN DAN TIDAK MENJALANKAN SHOLAT IED.

Muslim dilarang Sholat Ied karena kata mereka hari ini adalah Harinya Yesus. Ada misionaris Luar Negeri juga disana untuk adakan acara GIDI hari ini. Setelah masjid dibakar, merembet ke rumah dan kios-kios pasar milik umat Islam. Barang-barang dijarah. 10 orang terkena luka bakar. Saat ini Umat Islam diungsikan . (pkspiyungan.org)

Jelas, dalam pandangan islam hal tersebut adalah perbuatan teraniaya. Karena Allah SWT berfirman: “Dan siapa yang lebih aniaya dari orang yang menghalangi menyebut nama Allah di masjid-masjid-Nya, dan berusaha merobohkannya? (TQS Al-Baqarah:114)

Namun, sangat disayangkan pemerintah yang seharusnya tegas dalam memandang Insiden ini, dan langsung mengusut tuntas pelaku pembakaran tersebut, guna menghindari Insiden yang makin merambah, malah mengeluarkan ungkapan yang melukai hati umat Islam.

Seperti yang dikutip oleh national.rimanews.com, menurut wakil presiden, Jusuf kalla. Ia mengkungkapkan, asal muasal pembakaran masjid tersebut soal speaker (pengeras suara). Jadi mungkin butuh komunikasi lebih baik lagi untuk acara-acara seperti itu,” kata Wapres, di Jakarta, Jumat (17/7/2015).

Jauh panggang dari api, mungkin peribahasa ini cocok dikalungkan pada leher wapres JK. Karena jika kita menelisik fakta yang terjadi di lapangan. Mana mungkin kasus pembakaran masjid tersebut berawal dari speaker, sementara menggunakan speaker untuk adzan saja di tolikara dilarang. Terlebih berjualan di hari minggu dan berjilbab pun di sana dilarang.

Bisa dibuktikan dengan surat yang dikeluarkan oleh Gereja Injil Di Indonesia (GIDI) Badan pekerja wilayah toli yang di dalamnya berisi pelarangan untuk melakukan shalat idul fitri 1436 di Wilayah Kabupaten Tolikara (Karubaga) dan pelarangan kaum muslimah memakai pakaian Jilbab. Dan hal ini disetujui langsung oleh pemda setempat. (pkspiyungan.org)

Ternyata bukan hanya JK saja yang memberikan komentar “nyeleneh” terkait pembakaran masjid di tolikara-papua. Hal senada pun dilontarkan oleh para wakil rakyat negeri ini. Seperti yang diungkapkan oleh Widya Chandra III di rumah dinasnya, Jakarta, Jumat (17/7/2015). Ia mengatakan, bahwa kasus pembakaran masjid di papua jangan disangkut-pautkan dengan SARA. (news.detik.com)

Bagaimana Insiden di papua kemarin jangan disangkut-pautkan dengan Insiden SARA, sementara Masjid adalah simbol dari sebuah agama, agama Islam. Terlebih masjid tersebut dibakar secara masal. Sangat jelas, bila Insiden ini disandingkan dengan Insiden yang bernuansa SARA.

Lain JK lain Widya Chandra, novanto pun, yang tak lain adalah politisi dari partai pohon beringin, turut melontarkan ungkapan nyelenehnya, ia mengatakan bahwa pembakaran masjid di papua mudah-mudahan murni kebakaran bukan karena disengaja. (news.detik.com)

Aneh, sungguh aneh, bagaimana mudah-mudahan murni kebakaran, sementara faktanya memang sudah amat jelas. Bisa kita lihat sendiri dari kronologisnya seperti apa, apakah insiden tersebut murni kebakaran atau karena dibakar secara sengaja. Hanya otak yang masih waras saja yang mengatakan bahwa hal tersebut murni karena dibakar.

Sahabat fillah, setidaknya dari insiden papua kemarin (17/07/15), ada beberapa hikmah yang bisa kita petik, diantaranya:

Pertama, istilah toleransi sejatinya hanya berlaku bagi kaum muslim yang menjadi mayoritas. Ketika kaum muslim menjadi minoritas, toleransi itu entah tiarap di mana, mungkin sudah MATI ditikam HAM.

Kedua, mandulnya sistem yang ada, sistem demokrasi, yang diterapkan di negeri mayoritas Muslim ini. Yang di mana sistem demokrasi di dalamnya menjamin kebebasan dalam segala aspek, termasuk kebebasan menodai kesucian agama. Karena sistem demokrasi, terlahir dari sistem sekulerisme, yakni suatu paham yang memisahkan agama dari kehidupan. Padahal paham SEPILIS (Sekulerisme, Pluralisme dan Liberalisme) difatwakan HARAM oleh Majelis Ulama Indonesia.

Ketiga, kedzaliman yang terjadi di papua harus segera dihilangkan. Sedangkan peran yang bisa menghilangkan kedzaliman tersebut adalah peran dari Negara. Karena ketika Negara lalai atau tidak tegas dalam menindak insiden ini, maka insiden serupa bahkan yang lebih parah dari ini akan terus berlanjut.

Keempat, dari rentetan kedzaliman yang menimpa kaum muslim, baik di papua maupun belahan negeri muslim lainnya, hal ini sejatinya bentuk penyadaran dari Allah pada kita, bahwa umat muslim akan terus merana bila tidak menerapkan aturan dari-Nya, Syariat Islam secara totalitas, baik dalam bingkai kehidupan maupun bernegara.

Sebab hanya syariat Islam yang bisa memberikan jaminan keadilan dan kedamaian, karena hukumnya datang langsung dari Zat Yang Maha Adil dan Bijaksana, Allah SWT.

Tentu syariat Islam tidak akan bisa terap secara kaffah atau totalitas tanpa adanya institusi penerapnya, yakni Khilafah Islamiyyah. Karenanya penting sekali Khilafah Islamiyyah hadir di tengah-tengah kita, guna menerapkan syariat Islam, agar Insiden seperti ini tidak berlanjut dan berkepanjangan.

Kelima, mari kita berdo’a untuk saudara-saudara kita di papua sana, semoga Allah teguhkan hati dan keimanan mereka untuk terus berjalan dalam syariat-Nya. Dan Allah pun menganugerahi pada mereka berupa surga dan Ridha-Nya atas keistiqomahan mereka dalam memegang aqidah Islam. Semoga pula, Allah menganugerahi yang sama pada Sahabat Fillah yang pikiran dan gerak langkahnya tertuju mengamati dan peduli atas insiden ini dan insiden-insiden umat muslim lainnya. Mari!

Categories