Sistem Demokrasi Memperalat Rakyat

MUSTANIR.net – Semua rezim demokrasi tentu akan mengklaim bahwa apa yang dilakukan untuk kepentingan rakyat:

• Atas nama rakyat, mereka membuat aturan yang membebani rakyat.
• Atas nama rakyat, mereka memeras rakyat dengan berbagai pajak.
• Atas nama rakyat, mereka mengizinkan asing dan aseng mengeruk tambang dan kekayaan alam milk rakyat.
• Atas nama rakyat, mereka berutang untuk membiayai proyek-proyek kepentingan oligarki.
• Atas nama rakyat juga, mereka membebankan tagihan utang, dan bunganya untuk ditanggung rakyat.
• Atas nama rakyat, menindas rakyat sendiri.

Hanya orang tidak mau berpikir yang bisa menerima sistem demokrasi. Padahal kerusakan yang ditimbulkannya sudah terlihat terang benderang.

Contoh konkretnya, NKRI. SDA-nya terkaya di dunia. Secara geografis dan geopolitik sangat strategis. Penduduk nomor 4 terbesar di dunia setelah Cina, India, dan AS—mayoritas muslim pula. Saat ini kondisinya sangat memprihatinkan. Tentu tidak salah kalau ada yang mengatakan, “Tidak ada pemerintahan di negeri ini.”

Ironisnya Demokrasi

“Democracy is government of the the people, by the people and for the people.” (Abraham Lincoln, Presiden Amerika Serikat ke-16)

“Of the 1%, by the 1%, for the 1%.” (Joseph E Stiglitz, pemenang Nobel 2011)

Dua pernyataan di atas memberikan penjelasan sederhana tentang hakikat demokrasi secara konsep dan praktik.

Secara konsep, Lincoln menegaskan bahwa demokrasi adalah pemerintahan yang dilakukan oleh rakyat, berasal dari rakyat, dan untuk kepentingan rakyat. Namun dengan gamblang Stiglitz menamparnya dengan fakta praktiknya bahwa yang dimaksud rakyat hanyalah yang 1%. Mereka itulah para cukong kapitalis oligarki.

Jadi kesimpulannya, jika suatu negara menggunakan sistem demokrasi, sesungguhnya negara tersebut telah melakukan kejahatan terhadap rakyatnya sendiri. Itulah yang diungkap oleh Prof. Noam Chomsky (pemikir dan guru besar AS keturunan Yahudi), “State crimes against the people.”

Sangat tidak logis sekaligus memalukan jika ulama, akademisi, intelektual, mendukung negara yang menggunakan sistem demokrasi yang melakukan kejahatan terhadap rakyat.

Ingat bahwa apa yang kita lakukan di dunia ini, nanti akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah subḥānahu wa taʿālā di akhirat kelak. Penyesalan di akhirat tidak ada gunanya.

Wallahu a’lam bi ash-shawaab. []

Sumber: Abdurrachman Malik

About Author

Categories