SISTEM PENDIDIKAN ISLAM DALAM KHILAFAH

SISTEM PENDIDIKAN ISLAM  DALAM KHILAFAH

oleh : Susi Susanti

1.  Pendahuluan

MUSTANIR.COM – Bahaya terbesar yang saat ini mengancam kaum Muslimin adalah ketika umat kehilangan identitas peradabannya. Identitas peradaban merupakan aset utama yang dimiliki masyarakat manapun, saat masyarakat ditimpa dengan segala macam bencana  hingga meluluh-lantakkan seluruh negeri yang membawa banyak penderitaan. Namun, jika sebuah masyarakat sadar akan identitas  dan karakter peradabannya, sudah tentu mampu bangkit dan menghadapi berbagai macam bencana dan penderitaan bahkan mampu mendorong untuk kuat dalam menghadapi segala persoalan.

Setelah perang dunia pertama berkecamuk dan kekuasaan Daulah terkikis oleh pengaruh Barat, saat itu pula mengalir hampir ke seluruh penjuru negeri Muslim pengaruh peradaban Barat yang memenuhi segala kegiatan masyarakat bahkan hingga merasuk kedalam jiwa, perilaku dan pemikiran kaum Muslim, tidak ada lagi ruang kosong yang tersisa, kecuali bagi yang kuat bertahan di tengah air bah yang mengalir di setiap aliran darah jiwa-jiwa kaum Muslimin.

Saat ini tidak dapat dipungkiri lahirnya sebuah era yang disebut sebagai the Age Abundance knowledge (zaman keberlimpahan ilmu pengetahuan dan teknologi) oleh professor James Duderstadt, yang dimana zaman yang tidak mampu menjawab krisis kemanusiaan,  krisis ekonomi,  krisisk moral, krisis politik, dan krisis generasi.  Produksi Teknologi dan ilmu pengetahuan  saat ini berkembang dengan pesat namun tidak mampu menciptakan dunia lebih baik, manusia terus – terusan memproduksi ilmu pengetahuan namun juga terus menerus memproduksi krisis, Seperti analogi penyair, Al – Akhtal yang mengambarkannya “ seperti penyakit Ruam, tersembunyi tetapi terus meyebar serentak”.  terjadinya sekulerisasi pendidikan dan kekeliruan dalam penerapan sistem pendidikan, yang berakibat pada tidak munculnya di tengah – tengah umat pakar ilmu pengetahuan yang arif, pemimpin yang ikhlas, para mujtahid dan fuqaha, ahli tafsir, ahli teknik, dan enginerring yang mendalami ilmu pengetahuan dan teknologi yang dilandasi keimanan terhadap Allah dan Rasul-Nya.

2.  SEKULERISASI PENDIDIKAN DINEGERI MUSLIM

Proses sekulerisasi pendidikan dinegeri – negeri muslim akibat pengaruh hegemoni barat terus berestafet dengan ideologi kapitalisme yang menjadi driver utama dalam dunia modern saat ini, sehingga berkembangnya pragmatisme dalam pendidikan  yang tercermin dari tujuan pendidikan yang cenderung materialistik, yang jauh dari harapan pendidikan islam  yaitu untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan memperbaiki kualitas kepribadian.

Didunia Arab terutama, sebagai pusat peradaban islam, telah benar- benar menghapus bab Al – Walaa’ dan Baraa’ (loyalitas dan pengingkaran) dari subyek tauhid menyusul  arus perbuahan kurikulum  dibalik isu radikalisme. di Maroko, menyusul ledakan bom disana, menghasilkan seruan untuk menghapus kata jihad dari setiap buku sekolah, hal yang sama berlaku di Kuwait , Yaman dan Uni Emirat Arab dimana presiden mereka menyeru kepada jajaran menterinya : “kita harus menerapkan perubahan kurikulum pendidikan sebelum seorang penterjemah datang dari Amerika, ini karena kita adalah orang – orang muslim dan tidak ada ruginya mengurangi dosis agama kita!” .

Diindonesia khususnya di wilayah kota kota besar , saat ini sedang marak fenomena aksi kekerasan dijalanan (Klithih)  diwilayah jogjakarta yang tidak hanya menimbulkan ketakutan juga telah mengorbankan nyawa yang umumnya baik korban maupun pelaku masih berstatus sebagai pelajar di DIY, yang telah menewaskan seorang siswa SMA Muhamadiyah 1 Jogjakarta  yang semakin membuat geram warga sekitar (edupost.id). Adalah dampak pendidikan sekuler yang menjadikan para pelajar menjadi pragmatis.
pada tahun 2016 ditetapkan kurikulum pendidikan islam, pemerintah mengeluarkan sebuah kurikulum versi baru yaitu mempromosikan islam moderat yang menekankan pada pemahaman islam yang damai, toleran dan moderat.  menurut menteri agama RI kurikulum baru ini sebagai bentuk respon pemerintah untuk mempromosikan perdamaian ditengah meningkatnya penyebaran doktrin radikal dilembaga – lembaga akademis. Kementrian agama juga bergerak kelevel regional dengan memfasilitasi sebuah forum sinergi halaqoh ulama ASEAN 2016 yang terdiri dari kalangan ulama dan pesantren se – Asia tenggara demi mempromosikan islam moderat dan nilai moderatisme islam yang dianut oleh organisasi ASEAN. Yang pada kenyataanya forum ini menolak bentuk islam  seruan jihad dan menanamkan pemikiran politik islam yang mendukung penegakan syariah dan khilafah.

3.  PENDIDIKAN ISLAM HAKIKI

Dalam pandangan islam, manusia dikatakan baik dan manusia beradab adalah, manusia yang kenal dengan tuhan nya, tahu akan dirinya, dan menjadikan nabi Muhammad Saw sebagai uswah hasanah , mengikuti jalan pewaris Nabi (ulama) serta manusia harus mampu memahami potensi dirinya dan bisa mengembangkan potensinya.
Rasulullah SAW menjadikan aqidah Islam sebagai landasan dalam mendidik kaum Muslimin. Seperti yang diriwayatkan H.R Bukhari dan Nasa’I dari Abi Barkah, ketika dimasa Rasulullah SAW terjadi gerhana matahari yang bertepatan dengan meninggalnya putra beliau, orang- orang lalu berkata : “Gerhana matahari ini terjadi karena meninggalnya Ibrahim”. Maka Rasulullah SAW segera menjelaskan kepada mereka dengan sabdanya :

“sesungguhnya gerhana matahari dan bulan tidak terjadi karena kematian atau kelahiran seseorang, akan tetapi keduanya termaksud tanda-tanda kekuasaan Allah, dengannya Allah menperingatkan hamba- hamba NYA. Apabila kalian melihat kejadian demikian, maka shalatlah dan berdo’a, sampai keadaan yang kalian lihat itu kembali sedia kala”. Dengan jelas kejadian tersebut mengambarkan bahwa Rasulullah SAW telah menjadikan Aqidah Islam sebagai dasar ilmu pengetahuan umum dalam menjelaskan peristiwa gerhana matahari dan bulan. Dengan jelas kejadian tersebut mengambarkan bahwa Rasulullah SAW telah menjadikan Aqidah Islam sebagai dasar ilmu pengetahuan umum dalam menjelaskan peristiwa gerhana matahari dan bulan, Menurut prof. Syed Muhammad Naquid al – Attas, dalam bukunya, islam and secularism merumuskan bahwa tujuan pendidikan adalah untuk melahirkan orang yang baik (to produce a good man).
Dari pernyataan diatas, bisa disimpulkan, Pendidikan dalam islam adalah upaya sadar,  terstruktur, terprogram, dan sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan yang telah digariskan syariat islam adalah :

  1. Membentuk manusia bertaqwa yang memiliki kepribadian islam (syakhsiyyah islamiyyah) secara utuh, yakni pola fikir dan pola sikapnya berdasarkan aqidah islam.
  2. Menciptakan ulama, intelektual dan tenaga ahlidalam jumlah berlimpah disetiap bidang kehidupan yang merupakan sumber manfaat bagi umat, melayani masyarakat dan peradaban serta akan membuat Negara islam menjadi Negara terdepan, kuat dan berdaulat sehingga menjadikan islam sebagai ideologi yang mendominasi dunia.

Didalam khilafah Islam tidak akan muncul peluang timbulnya kebodohan dikalangan umatnya, sebab Allah SWT mewajibkan kepada setiap Muslim untuk menuntut ilmu dan membekali dirinya dengan berbagai macam ilmu pengetahuan untuk keperluan kehidupannya serta keperluan umatnya.  Atas dasar ini Negara wajib menyempurnakan  sector pendidikannya melalui pendidikan bebas biaya bagi seluruh rakyatnya, karena ilmu pengetahuan adalah kebutuhan manusia yang paling pokok, yang telah menjadi kewajiban bagi khilafah untuk menjamin, sabda Rasulullah SAW :“sesungguhnya termaksud tanda –tanda datangnya hari kiamat adalah hilangnya ilmu dan luasnya kebodohan”(ibid.h.471).

Dalam dunia pendidikan islam, Perempuan juga memberikan kontribusi dalam memajukan ilmu pengetahuan, seperti Universitas Qarawiyyin yang didirikan oleh Fatimah al – Fihri pada tahun 859 M, perempuan memainkan peran penting dalam penjagaan dan pengembangan metode pembelajaran hadits dan fiqh, mereka memberi ijazah dan mempunyai otoritas yang sama dalam ijtihad sebagimana laki – laki. ulama Hadits terkemuka, ibn Hajar al – Ashqalani menerima ijazah dari 53 guru perempuan. Hal ini jelas berbeda dengan yang terjadi di barat yang terkenal dengan fenomena “ Matilda Effect” , yang sering digambarkan perempuan diabaikan kontribusinya dalam mengembangkan ilmu pengetahuan hanya karena seorang perempuan, selain banyak perempuan yang berhak mendapat  hadiah Nobel penghargaan tersebut lebih diberikan kepada kolega laki – laki atau suami mereka yang terjebak dalam dominasi gender.

Pada masa kejayaan khilafah Islam , diberbagai kota besar tersebar perpustakaan  besar yang berisi kitab  dan maraji’ (rujukan) yang langka yang turut melengkapi perpustakaan, termaksud yang ada di istana khalifah yang diperuntukan bagi kaum pelajar, ulama, penerjemah, dan penyalin dapat ditemui perpustakaan-perpustakaan, Al Maqrizi menyebutkan bahwa di Madrasah al- Fadliliyah terdapat perpustakaan yang sangat besar tempat tersimpannya koleksi kitab yang jumlahnya mencapai 100.000, padahal dimasa itu belum ada percetakan. Ibnu AL qifti juga menyebutkan disana terdapat 6500 kitab mengenai ilmu dan teknik , falak (astronomi).

Islam yang suci memiliki tujuan untuk menghindarkan akal manusia dari jurang kesesatan dan penyelewengan yang tidak jelas, Islam telah memasang kendali yang amat kokoh dengan memerintahkan setiap Muslim agar mempelajari dan mengunakan aqidah sebagai pengikat yang kuat, Islam menyerahkan segala aturan dan pemikiran mengenai urusan rakyat banyak kepada yang berwenang(penguasa/ khalifah) yang bertanggung jawab terhadap urusan rakyat, baik dalam ide dan pemikiran yang berurusan dengan kurikulum dan metode pendidikan dari tingkat rendah hingga peguruan tinggi hingga menjadikan aqidah Islam sebagai satu satunya asa bagi kehidupan seorang Muslim. Dengan tujuan seperti ini, output yang akan dihasilkan dari pendidikan islam adalah generasi bertaqwa, tunduk dan patuh pada hukum Allah. Tujuan hakiki inilah yang akan menghantarkan kemajuan masyarakat, pembangunan yang produktif dan luhurnya peradaban. []

Daftar  bacaan Dan Referensi :

  1. Al Baghdadi, Abdur Rahman, system pendidikan dimasa khilafah Islam, Al izzah 1996
  2. Fika komara, Muslimah Negarawan,Granada publish, 2016
  3. Ulwan, Dr Abdullah Nashih, pendidikan anak dalam Islam, insan kamil, 2012
  4. Ahmad al- Qashash, Peradaban islam vs asing , Thariqul izzah, 2009
  5. www.edupost.id
  6. Makalah konferensi perempuan internasional, hizbut tahrir Indonesia, 2017

Categories