
Akar Masalah Negeri Ini adalah Menerapkan Sistem yang Salah
MUSTANIR.net – Era Orde Lama dengan Demokrasi Terpimpinnya gagal. Selama 32 tahun rezim Suharto memimpin, kondisi negara terpuruk menjelang akhir abad. Lahirlah kemudian era Reformasi. Muncul gerakan rakyat berlepas diri dari Orde Baru karena rezim sebelumnya dianggap menumbuhsuburkan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN).
Seperempat abad lamanya era ini berlangsung. Bukan perbaikan yang didapatkan, tapi malah terjerumus dalam perilaku yang sama dengan Orde Baru. KKN bahkan lebih parah dibandingkan Orde Baru.
Apa yang salah?
Ternyata selama tiga perempat abad negeri ini merdeka, dengan rezim silih berganti, sistemnya tetap sama. Sistem sosialisme di masa awal kemerdekaan, dan kemudian kapitalisme demokrasi. Padahal sistem itu terbukti cacat dan gagal membawa kebangkitan.
Walhasil, mestinya rakyat melirik sistem Islam. Sistem yang berasal dari Allah subḥānahu wa taʿālā ini adalah harapan.
Mengapa?
Terbukti 13 abad lamanya sistem ini mampu menjadi mercusuar peradaban dunia. Secara imani, kewajiban kaum muslim untuk menegakkannya. Bukankah kita ingin hidup dalam ridha Allah subḥānahu wa taʿālā?
Sebagai seorang muslim mestinya kita cerdas dalam memilih sistem—Ada sistem dari Allah subḥānahu wa taʿālā, kok kita memilih sistem buatan manusia?
Buah Sistem Kapitalis Muncul Politik Pragmatis
Kemunculan politik pragmatis adalah buah sistem kapitalis. Sistem ini menjadikan keuntungan materi sebagai instrumen keberhasilan. Caranya adalah dengan berkuasa dan berbagi kekuasaan. Kebebasan berbuat dalam politik pun nyata merusak tatanan hukum dan kehidupan bernegara.
Oleh karena itu, agar rakyat keluar dari politik pragmatis, meninggalkan demokrasi adalah langkah pertama. Kemudian ada upaya sistemis membangun politik ideologis. Politik yang dibangun bukan saja atas dasar kepentingan bersama, tetapi juga dilandaskan pada ideologi yang shahih, yakni Islam.
Perlu juga kehadiran partai politik ideologis Islam yang siap mencetak negarawan sejati. Partai politik ideologis Islam akan menjadi garda terdepan dalam amar makruf nahi mungkar. Rakyat pun dididik dengan berpikir politik untuk mengurus kehidupannya sesuai dengan syariah Islam.
Keduanya, partai politik maupun rakyat, akan menjadi yang terdepan dalam mengoreksi penyelewengan penguasa untuk taat pada Allah dan Rasul-Nya.
Hanya orang-orang yang tidak mau berpikir yang mau terlibat di politik pragmatis, karena tidak bisa dipertanggungjawabkan kepada rakyat dan Allah subḥānahu wa taʿālā di akhirat kelak. Be careful, my brother! The punishment of Allah subḥānahu wa taʿālā in the afterlife is very painful.
Wallahu a’lam bi ash-shawaab. []
Sumber: Abdurrachman Malik
