Spionase di zaman Nabi Muhammad SAW dan Khulafaur ar Rasyidin

spionase-dalam-islam

Spionase di zaman Nabi Muhammad SAW dan Khulafaur ar Rasyidin

Mustanir.com – Aktivitas mematai-matai (spionase) adalah aktivitas yang diharamkan Islam, kecuali terhadap kafir harbi fi’lan, kafir harbi hukman dan ahlu riyab. Pengintaian terhadap karfi harbi sudah dicontohkan oleh baginda Rasulullah SAW  dan para khalifah setelahnya.

Di antara aktivitas mematai-matai adalah  seperti yang dilakukan  oleh Sariyah Abdullah bin Jahsyi. Ia diperintah Nabi SAW untuk mencari info jumlah pasukan Quraisy yang sedang  dalam perjalanan niaga menuju Syam.

Dalam peristiwa hijrah yang mendebarkan, saat Rasulullah SAW berada di gua Tsur bersama Abu Bakar ash Shidiq, Abdurahman bin Abu Bakar ash Shidiq bertugas sebagai spyer, memonitor rencana-rencana jahat  para tokoh Quraisy untuk membunuh Muhammad SAW.  Abdurrahman melaporkan semua informasi yang didapat kepada Nabi SAW yang tengah berada di gua. Abdurrahman berangkat menuju gua saat tengah malam dan pulang kembali ke rumah sebelum subuh tiba. Hal itu ia lakukan agar aktivitas pengintaiannya tidak diketahui Quraisy. Sedangkan jejak kaki Abdurrahman di pagi hari dihilangkan oleh kawanan kambing yang digembalakan oleh Amir bin Fuhirah. Suatu kordinasi yang sangat teliti dan cermat, hingga Nabi SAW berhasil sampai di Madinah bersama Abu Bakar, setelah mereka bersembunyi tiga hari di gua Tsur dengan logistik dan informasi yang cukup.

Pada perang khandak (al ahzab), Nua’im bin Masud seorang agen intelejen Rasululullah SAW berhasil melakukan infiltrasi ke dalam pasukan koalisi Ahzab yang terdiri dari Quraisy, Ghathafan dan Yahudi Bani Quraidhah yang sedang mengepung Madinah. Nu’aim berhasil memecah belah kesatuan Ahzab dengan menimbulkan desas-desus yang membuat ketiga kabilah itu saling curigai dan merasa akan dikhianati, ditikam dan dikorbankan oleh teman mereka sendiri. Pasukan Ahzab pun akhirnya bercerai berai di tengah terpaan badai kuasa Allah SWT.

Kebijakan Spionase Abu Bakar Ash Shidiq

Amanat –amanat dan perintah-perintah harian Khalifah Abu Bakar ash Shidiq syarat dengan nilai intelijen yang sangat tinggi. Ia mengetahui medan operasi dengan sangat baik. Kepada para komandan, Khalifah biasanya memberikan pengarahan sebagai berikut: ”Apabila datang utusan musuh kepadamu, maka muliakanlah mereka. Persingkatlah kehadiran mereka, sehingga mereka meninggalkan perkemahan prajuritmu tanpa mengetahui seluk beluknya. Jangan biarkan mereka berlama-lama, karena mereka akan melihat  kekuatanmu dan mengetahui rencanamu. Terimalah mereka di hadapan pasukanmu yang banyak perbekalannya, dan jangan biarkan prajuritnya berbicara dengan mereka, tetapi hendaklah engkau yang menjadi juru bicara bagi pasukanmu. Persoalan pribadi hendaknya engkau kesampingkan dulu, karena urusanmu nanti menjadi campur aduk. Akibatnya tugas utamamu mejadi terganggu. Dan perbanyaklah pengawalmu, agar sebagian dapat disebar dalam pasukanmu. Perbanyaklah penyergapan (serangan tiba-tiba) terhadap pos-pos penjagaan, tanpa sepengetahuan mereka. Jika kamu mendapati anak buahmu lengah dari penjagaannya, maka berilah hukuman yang tidak berlebihan, setelah itu perlakukan dengan baik kembali. Seranglah musuh-musuhmu secara bertubi-tubi pada malam hari dan jadikanlah serangan pertamamu lebih lama waktunya daripada serangan terakhir, sebab serangan terakhir itu mendekati siang, jadi lebih mudah mereka hadapi”.  (Intelijen dalam Alquran dan Dakwah Rasulullah SAW. Hal. 262. Rahnip MBA, Darut Taufik)

Sebelum memberangkatkan pasukan untuk memerangi pengikut nabi palsu Musailamah al Kazdzab,  Khalifah Abu Bakar memberi pengarahan kepada komandan Khalid bin Walid. ”Apabila engkau memasuki sebuah negeri musuh, maka janganlah engkau jauh dari pasukan. Sebab aku khawatir engkau diserang, karena itu adakanlah regu pengawal di sekelilingmu. Berjalanlah dengan menggunakan beberapa penunjuk jalan. Lepaslah regu penyelidik jauh ke muka, yang nanti akan menentukan tempat pemberhentianmu. Berjalanlah bersama teman-temanmu dalam formasi taktis dan carilah syahid, niscaya engkau akan dianugerahi kehidupan. Wallahu ‘alam bi ash Showab.[] Roni Ruslan

Categories