Tentang Yesus, Mesias dan Kristus

Tentang Yesus, Mesias dan Kristus

Hj Irena Handono, Pakar Kristologi, Pendiri Irena Center

Dalam Bibel seringkali Yesus disebut sebagai Mesias dan juga disebut sebagai Kristus. Apa arti Mesias dan Kristus?

Mesias berasal dari bahasa Ibrani: massiach/massaha yang berarti, melantik; mengurapi; mengurut. Pemberian gelar mesias kepada seseorang menunjukkan bahwa orang tersebut telah dilantik dan ditentukan Tuhan untuk memegang jabatan tertentu dengan ritual meminyaki sebagai simbol pelantikan tersebut.

Mesias bagi Yahudi diberikan kepada seorang penguasa dan pemimpin agama serta panglima perang yang akan membebaskan bangsa Israel dari penjajahan dan perbudakan.

Menurut Michael Baigent, Mesias yang dinanti-nantikan para pengikut Yesus dalam hal ini adalah Kristen, adalah Kepala Pemerintahan sekaligus pemimpin agama.

Sedangkan menurut ajaran Yahudi, ajaran yang diyakini oleh Bani Israel, yang menjadi Mesias adalah Daud dan keturunannya yang telah dan akan menjabat sebagai Panglima Perang sekaligus yang membebaskan Israel dari penjajahan dan perbudakan. Hal ini tercantum dalam Kitab Penjanjian Lama II Samuel 7: 11 – 17.

II Samuel 7:8 Oleh sebab itu, beginilah kaukatakan kepada hamba-Ku Daud: Beginilah firman TUHAN semesta alam: Akulah yang mengambil engkau dari padang, ketika menggiring kambing domba, untuk menjadi raja atas umat-Ku Israel.

Namun kini kita melihat sosok Yesus. Apakah Yesus merupakan keturunan Daud as ‘menurut daging’ (secara biologis), seperti yang dikatakan oleh Paulus dalam tulisannya Roma 1: 1-5? Dan ini juga yang diyakini dan menjadi doktri gereja selama ini?

Roma  1:3-4 tentang Anak-Nya, yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud, dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita.

Kalau kita membaca dalam Kisah Para Rasul 9:20, Matius 1: 18, 20, 24 dan 25 dalam ayat-ayat ini jelas-jelas menginformasikan bahwa tidaklah mungkin Yesus adalah keturunan Daud seperti yang dikatakan oleh Paulus dalam Roma 1:3.

Selanjutnya kita melihat dari sang Ibu Yesus sendiri, Maryam. Dan ternyata ia bukanlah berasal dari garis keturunan Daud as namun dari garis keturunan Harun as.

Bagi umat Yahudi awal, yakni mereka yang hidup sebelum dan pada masa awal pergerakan Kristen, mereka tidak mengenal ajaran kepercayaan mengenai Mesias yang mati terbunuh dan bangkit dari kematian. Umat Yahudi pada masa itu hanya mengenal Mesias sebagai Panglima Perang yang selalu menang, sehingga kalau ada mesias yang mati terbunuh mereka mencemooh sebagai mesias yang gagal bahkan disebut sebagai mesias palsu yang tidak memenuhi nubuat kitab suci para nabi. Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa tidak ada mesias yang disalibkan dan mati bangkit kembali.

James H Charles Worth, mengatakan: Kepercayaan kepada mesias yang mati ditiang salib adalah tahayul yang sangat berbahaya, ini adalah sebuah kekafiran. John Davidson, mengatakan:  Kepercayaan kepada kebangkitan tubuh kasar (di dunia) adalah kemauan orang-orang tolol.

Di dalam Lukas 24:46, Kata-Nya kepada mereka: “Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga,

Ucapan seperti ini merujuk kepada Kitab Perjanjian Lama tapi kenyataannya di dalam Perjanjian Lama, kalimat tersebut tidak ada. Dan telah menjadi perdebatan para kristolog yang pada ujung-ujungnya diketahui bahwa ini adalah ayat-ayat ciptaan penulis Injil Lukas yang dijejalkan kepada mulut Yesus.

Sedangkan Kristus, menurut Paulus adalah Anak Allah yang ‘menurut daging’ berasal dari keturunan Daud (Roma 1:3-4). Di sini terlihat bahwa Paulus memaksakan kemauannya padahal secara biologis Yesus jelas bukan keturunan Daud.

Kriteria Kristus menurut Paulus adalah penebus dosa yang mati, dikubur kemudian dibangkitkan kembali pada hari ketiga (I Korintus 15:3-4). Untuk meyakinkan kepada Yahudi tentunya Paulus selalu merujuk kepada kitab para nabi namun tidak dapat dibuktikannya. Di sini Paulus berhadapan dengan  penyembah berhala di Asia Kecil, Yunani, Mesir, dan Timur Tengah yang kala itu mempertuhankan/menyembah Dewa KRISTUS TAMMUS dll. Paulus selanjutnya berusaha untuk memperkenalkan Yesus seperti yang ada pada Tammus:

– Tammus lahir dari seorang Perawan dan Yesus juga harus lahir dari seorang perawan.

– Tammus tertikam lambungnya, Yesus dibuat cerita kalau dia ditikam pada lambungnya.

– Tammus tiga hari tiga malam dikubur maka Yesus juga harus tiga hari tiga malam di dalam kubur.

Dijelaskan oleh Michael Beagent, Richard Leigh dan Henry lincoln (the messianic legacy): Kalau Paulus ingin menantang para penyembah berhala Dewa Tammus, Yesus harus bisa menandingi setiap mukjizat Tuhan-tuhan lama, sebagai akibatnya kehidupan dewa Tammus harus diukirkan kepada kehidupan Yesus.

Yesus yang tadinya diharapkan menjadi mesias yang gagah berani, pemimpin Israel dalam pembebasan dari penjajah Romawi berubah menjadi kristus yang tidak berdaya, disiksa dan menyerahkan dirinya untuk disalib dalam rangka menebus dosa manusia. Dengan kedudukan ini maka ajaran Yesus menjadi kabur dan tidak penting lagi untuk digantikan kedudukannya dengan Kristus penyembah berhala yang baru.

Para penyembah berhala di Romawi, Babilonia, Persia dan Mesir menyembah Kristus dengan kriteria sebagai berikut: Lahir 25 Desember. Anak Allah. Mati terbunuh dan bangkit pada hari ketiga. Terangkat ke surga. Kriteria tersebut dianut oleh Paulus sejak kanak-kanak yang diwujudkan dalam upacara & festival penyembahan “Herakles Kristus” di Tarsus. Itulah yang terus dipertahankan hingga sekarang. []

Categories