suaraislam.id

Terkait Penanganan Corona, Terbukti Pancasila Bukan Kebenaran Fakta

MUSTANIR.net – Pancasila sepi pemberitaan pada saat corona, padahal Pancasila dasar negara. Ibarat fondasi, mestinya Pancasila menjadi acuan dalam menyelesaikan persoalan bangsa, termasuk masalah wabah corona. Namun kenyataannya tidak. Jarang sekali saat pandemi memberitakan bagaimana pandangan Pancasila mengatasi wabah corona.

Wajar jika orang bertanya, Pancasila itu kebenaran fakta atau kebenaran imajinasi? Kalau kebenaran faka tentu faktanya telah terbukti bisa beri solusi urusan bangsa. Jika tidak mampu, berarti Pancasila kebenaran imajinasi sebatas kata-kata filsafat yang sulit menemukan metode penerapannya.

Wajar rakyat Indonesia sekarang terombang-ambing karena tidak punya fondasi yang benar dalam mengurai masalah mereka. Satu sisi cenderung komunis, di sisi lain kapitalis. Pancasila entah di mana letaknya. Paling dibacakan pada acara upacara kenegaraan saja. Setelah itu, Pancasila dikunci rapat tak berkutik ketika banyak persoalan yang dihadapi anak bangsa.

Dengan kondisi yang memprihatinkan ini membuktikan buatan manusia jauh dari sempurna, bahkan bisa sesat. Faktanya, manusia banyak kurangnya dari lebihnya. Mestinya rakyat mencoba cari solusi apa yang betul mengakar. Cari solusi bangsa.

Contoh rapuhnya Pancasila ketika menerapkan demokrasi kapitalis dalam mengatur negara. Padahal demokrasi jika dikaji bertentangan dengan Pancasila, terutama sila pertama Pancasila. Demokrasi menggambarkan seolah manusia tidak bertuhan, berbuat sesuka hati, termasuk dalam membuat aturan hidup bangsa. Sementara, Pancasila tidak mampu membendungnya karena rincian sila pertama Pancasila itu tidak jelas tuhannya. Apakah tuhan Islam, Hindu, Budha, dan lain sebagainya.

Karena tidak jelas itulah, sekarang perlu diperjelas. Kalau memang tidak bisa kasih solusi secara ideologis, mengapa harus dipertahankan Pancasila?

Jika bicara ideologis tak terlepas dari ide dan metode, apa metode Pancasila dalam menerapkan idenya yang termaktub dalam sila pertama sampai sila ke lima? Jika dengan demokrasi tidak tepat, apalagi kerajaan. Jadi, Pancasila tidak punya metode. Kalau diumpamakan, menurut Pancasila bahagia itu letaknya ketika berada di puncak Himalaya, tetapa jalan ke puncak tersebut tidak dilukis jelas. Bagaimana mungkin akan sampai ke puncak tersebut?

Disinilah Islam masuk beri solusi. Ketika bangsa Indonesia lemah ideologi maka Islam jadi solusi. Apalagi rakyat Indonesia mayoritas muslim yang siap menjadikan Islam sebagai ideologi.

Islam sebagai ideologi artinya ide Islam dilengkapi dengan metode. Ide Islam tidak diragukan lagi. Bahkan survei terbaru 90% suka ide Islam, dan tak kalah pentingnya adalah Islam juga punya metode yang siap menuju ide tersebut. Metode dalam menerapkan Islam itu adalah khilafah yang telah dirumuskan baginda Nabi ﷺ serta dilanjutkan oleh para sahabat, faktanya mampu menyelesaikan semua persoalam umat.

Banyak bukti ketika Islam diemban di sebuah negara, keberhasilan negara tersebut luar biasa. Baginda Rasul ﷺ awalnya dari kota kecil Madinah, namun karena Islam diterapkan dalam sebuah ideologi dapat membawa manusia ke puncak peradabannya.

Jadi, jika ingin tinggi peradabannya maka kembalilah kepada ideologi Islam. Wallahu a’lam. []

Sumber: AM Sulthan Fatih

Categories