MUSTANIR.net – Memprihatinkan memang situasi yang seperti sekarang ini. Umat seakan terkungkung oleh aturan main demokrasi. Pilihannya hanya siapa pemimpin terbaik di antara yang ada. Tidak diberi kesempatan memilih sistem apa yang terbaik di antara sistem-sistem yang ada.

Angin seolah berhembus ke arah pengharusan mencoblos dengan ancaman dosa bagi yang tidak. Padahal sisi lain yang harus menjadi pertimbangan adalah, bahwa:

1. Tidak menerapkan hukum Allah adalah dosa besar.

Jika disertai keyakinan, akan menyebabkan kekafiran. Kalau tidak disertai keyakinan, jatuhnya kepada kezaliman atau kefasiqan.

(وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ [المائدة: 44])
(وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ [المائدة: 45])
(وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ [المائدة: 47])

تفسير الماوردي = النكت والعيون (43/2)
قال ابن عباس رضي الله عنه: أن من لم يحكم بما أنزل الله جاحداً به فهو كافر , ومن لم يحكم مقراً به فهو ظالم فاسق

Ibnu ‘Abbas, “Barang siapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah dengan disertai pengingkaran terhadap hukum Allah tersebut, maka dia kafir. Sedangkan barang siapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah namun masih mengakuinya, maka dia zhalim dan fasiq.”

التفسير المنير للزحيلي (5/125)
ومن أخطر أنواع الظلم: الحكم بغير ما أنزل الله

ٍSyaikh Wahbah az-Zuhaili, “Di antara macam kezaliman yang paling bahaya adalah berhukum dengan selain hukum Allah.”

2. Pemilu dalam sistem demokrasi adalah wasilah untuk berkuasanya seseorang yang akan menerapkan hukum atau bahkan membuat hukum kufur.

Karena menerapkan hukum kufur adalah haram bahkan menyebabkan kekufuran jika disertai keridhaan, maka wasilah yang mengantarkan kepadanya yaitu mencalonkan dan memilihnya, hukumnya juga haram. Berlaku kaidah mengatakan:

الوسيلة إلى الاحرام محرمة

“Wasilah kepada keharaman, hukumnya adalah haram.”

Atau juga kaidah:

للوسائل حكم المقاصد

“Hukum wasilah itu mengikuti hukum tujuannya.”

Maka haram mencalonkan pun haram, pula memilih penguasa yang tidak menerapkan syari’at Islam. Kecuali apabila calon benar-benar secara terang-terangan menyatakan akan menerapkan hukum-hukum Allah, maka bisa boleh memilihnya atau bahkan memungkinkan wajib.

3. Lantas kalau tidak memilih, apakah dosa?

Jawabnya: Ya, kalau diam saja tidak memperjuangkan khilafah sebagai alternatif satu-satunya pengganti demokrasi. Ini yang dimaksud tidak boleh abai terhadap urusan politik, tapi berpolitik tidak harus dengan aturan main demokrasi. Justru harus dengan politik Islam saja.

4. Apakah memilih sudah dalam taraf darurat?

Jawabnya: Belum, karena dikatakan darurat yang membolehkan mengambil keharaman adalah,

• Pertama, jika menyangkut hidup dan mati atau membahayakan jiwa;

• Ke dua: tidak ada jalan lain selain itu.

Selain pertama tidak benar-benar terealisasi (kalau tidak memilih tidak mati atau terluka), juga karena ada jalan lain yang bisa ditempuh umat untuk mewujudkan kepemimpinan yang syar’ie, yaitu berjuang untuk mengubah sistem kufur demokrasi menjadi sistem Islam, khilafah.

5. Bukankah khilafah masih lama, sedangkan memilih pemimpin ini mendesak tinggal menghitung hari?

Jawabnya: Justru jauh lebih mendesak khilafah, karena kewajiban khilafah sudah jatuh tempo sejak hampir 100 tahun yang lalu, bahkan lebih menurut hitungan kalender hijriyah.

6. Apa bahayanya jika umat terus memilih dalam konteks demokrasi?

Jawabnya: Akan berlarut-larut dalam kemaksiatan tidak menerapkan hukum Allah. Kata al-Imam Ibnu Hajar al-Haitami,

والتمادي في الفسق فسق

“Berlarut-larut dalam kefasikan itu merupakan kefasikan.”

Dan terus-menerus menjadikan umat menaruh harapan kebaikan dan kemuliaan dari aturan main demokrasi, padahal kemuliaan hanya akan didapatkan dari Islam.

تفسير ابن كثير ت سلامة (40/4)
عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه: “نحن قوم أعزنا الله بالإسلام فمتى. ابتغينا بغير الإسلام أذلنا الله”

Umar bin Khaththab, “Kita adalah umat yang telah Allah muliakan dengan Islam, maka saat kita mencari kemuliaan dengan selain Islam maka Allah justru akan menghinakan kita.”

7. Apakah ada dalil bahwa kita diperintahkan berlepas diri sistem atau aturan main kufur?

Jawabnya: Ada. Hadits Hudzaifah bin Yaman bertanya, kalau saja nanti umat islam tidak memiliki persatuan ‘jama’ah’ dan tidak pula dipimpin olah khalifah ‘imam’, hindari semua kelompok yang mengajak kepada neraka/kesesatan meski harus memegang kebenaran seperti menggigit akar pohon.

صحيح البخاري (51/9)
حذيفة بن اليمان، يقول: كان الناس يسألون رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الخير، وكنت أسأله عن الشر، مخافة أن يدركني، فقلت: يا رسول الله، إنا كنا في جاهلية وشر، فجاءنا الله بهذا الخير، فهل بعد هذا الخير من شر؟ قال: «نعم» قلت: وهل بعد ذلك الشر من خير؟ قال: «نعم، وفيه دخن» قلت: وما دخنه؟ قال: «قوم يهدون بغير هديي، تعرف منهم وتنكر» قلت: فهل بعد ذلك الخير من شر؟ قال: «نعم، دعاة على أبواب جهنم، من أجابهم إليها قذفوه فيها» قلت: يا رسول الله صفهم لنا، قال: «هم من جلدتنا، ويتكلمون بألسنتنا» قلت: فما تأمرني إن أدركني ذلك؟ قال: «تلزم جماعة المسلمين وإمامهم» قلت: فإن لم يكن لهم جماعة ولا إمام؟ قال: «فاعتزل تلك الفرق كلها، ولو أن تعض بأصل شجرة، حتى يدركك الموت وأنت على ذلك»

Jika al-Qur’an dan kekuasaan terpisah (diterapkan hukum sekular), ikutlah al-Qur’an saja walaupun kondisi menjadi sangat buruk akibat hukum dan penguasa kufur. Sebab, mati dalam ketaatan (dalam hal ini berlepas diri dari demokrasi dan memperjuangkan sistem Islam) lebih baik daripada hidup dalam kemaksiatan (hidup dengan mengikuti aturan main demokrasi tidak menerapkan hukum Islam, karena slogannya negara berdemokrasi bukan negara agama).

المعجم الكبير للطبراني (90/20)
عن معاذ بن جبل، قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: «خذوا العطاء ما دام عطاء، فإذا صار رشوة في الدين فلا تأخذوه، ولستم بتاركيه، يمنعكم الفقر والحاجة، ألا إن رحى الإسلام دائرة، فدوروا مع الكتاب حيث دار، ألا إن الكتاب والسلطان سيفترقان، فلا تفارقوا الكتاب، ألا إنه سيكون عليكم أمراء يقضون لأنفسهم ما لا يقضون لكم، إن عصيتموهم قتلوكم، وإن أطعتموهم أضلوكم» قالوا: يا رسول الله، كيف نصنع؟ قال: «كما صنع أصحاب عيسى ابن مريم، نشروا بالمناشير، وحملوا على الخشب، موت في طاعة الله خير من حياة في معصية الله»

Intinya, wajib berlepas diri dari paham atau sistem demokrasi, dan wajib memperjuangkan sistem Islam sebagai penggantinya. []

Sumber: Ustadz Azizi Fathoni, Khadim Ponpes Darul Muttaqin

About Author

Categories