MUSTANIR.net – Para kapitalis dengan onggokan uang yang dimilikinya mampu membeli apa pun yang ada di Indonesia. Idiom keuangan yang maha kuasa benar-benar telah menjadi kenyataan. Di Indonesia, hukum bisa dijualbelikan, jabatan bisa dijualbelikan, politik transaksional telah menjadi budaya, bahkan negara ini pun telah dijual.

Demokrasi adalah sistem pemerintahan terburuk yang pernah ada. Demokrasi di Indonesia justru telah melahirkan utang negara lebih dari 5.000 triliun. Sementara rakyat yang telah dimiskinkan, masih harus menanggung utang negara dengan cekikan pajak yang mematikan. Sementara jutaan hektar tanah-tanah di negeri ini telah banyak yang dimiliki penjajah asing dan aseng.

Demokrasi yang tidak mengenal halal dan haram telah dengan masif membolehkan peredaran narkoba yang telah membunuh jutaan anak bangsa. Entah sudah berapa orang yang mati karena jeratan racun narkoba. Peredaran narkoba dalam demokrasi tidak akan pernah bisa dibendung, bahkan di beberapa negara, narkoba justru dilegalkan. Tujuannya cuma satu: materialisme.

Dengan legalisasi narkoba, maka demokrasi telah menjelma menjadi teroris sejati yang membunuh jutaan manusia di seluruh dunia. Bisnis senjata lebih dahsyat lagi dengan menjadikan permusuhan dan konflik antar negara, maka terjadilan transaksi jual beli senjata. Bisnis senjata dengan menciptakan konflik telah membunuh pula jutaan manusia di berbagai negara di dunia. Lihatlah apa yang terjadi di Palestina dan Suriah, dan konflik di Timur Tengah lainnya adalah dampak dari intervensi Barat. Demokrasi benar-benar terorisme.

Propaganda bahwa demokrasi adalah sistem terbaik telah mampu menipu berbagai komponen masyarakat di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Di Indonesia, banyak kalangan yang telah terhipnotis oleh kebusukan sistem demokrasi. Dari kalangan intelektual muslim hingga ulamanya banyak yang tertipu dengan demokrasi.

Bahkan tak jarang mereka mendewakan demokrasi tapi menolak sistem Islam, dengan dalih demokrasi tidak bertentangan dengan Islam. Padahal logikanya, jika demokrasi tidak bertentangan dengan Islam, mengapa tidak Islamnya saja yang langsung diterapkan?

Tapi faktanya justru sebaliknya, demokrasi selalu menolak kehadiran Islam politik dengan menuduh radikal dan intoleran. Demokrasi adalah terorisme sejati, maka sadarlah wahai kaum muslimin.

Demokrasi dalam pandangan Sǒkratēs adalah bentuk pemerintahan yang anarkis, memberikan kesetaraan yang sembrono kepada siapa pun, baik setara maupun tidak setara. Demokrasi memberikan ruang kebebasan tanpa batas. Anarkisme demokrasi akan berujung kepada kekuasaan tirani.

Diperkuat oleh pandangan Aristotélēs, bahwa demokrasi adalah bentuk negara yang buruk (bad state). Pemerintah yang dilakukan oleh sekelompok minoritas di dewan perwakilan yang mewakili keompok mayoritas penduduk itu akan mudah menjadi pemerintahan anarkis, menjadi ajang pertempuran konflik kepentingan berbagai kelompok sosial dan pertarungan elite kekuasaan.

Demokrasi adalah anak kandung kapitalisme sekuler. Miguel D Lewis mengatakan bahwa “Capitalism is religion. Banks are churches. Bankers are priests. Wealth is heaven. Poverty is hell. Rich people are saints. Poor people are sinners. Commodities are blessings. Money is God.”

Dalam pandangan Islam, prinsip-prinsip demokrasi menyalahi syariah Islam.

• Pertama, suara mayoritas mengalahkan suara Tuhan, melanggar QS al An’am: 116.

• Ke dua, kedaulatan hukum di tangan rakyat, melanggar QS al An’am: 57.

• Ke tiga, produk perundang-undangan ditentukan di parlemen, meski esensinya bertentangan dengan al Qur’an dan as Sunnah, melanggar QS al Maidah: 48.

• Ke empat, demokrasi mencampakkan hukum Allah dalam urusan rakyat, melanggar QS al Maidah: 50.

Banyak kalangan yang mengecam aksi terorisme dan menuduh Islam sebagai sumbernya, padahal Islam tidak pernah mengajarkan terorisme, tapi sebaliknya kepada demokrasi yang justru telah melahirkan terorisme disembah-sembah. []

Sumber: Ahmad Sastra

About Author

Categories