Tidak Semua Marah itu Dilarang

Tidak Semua Marah itu Dilarang

(disadur dari tulisan Ainun Dawaun Nufus berjudul “Marahlah” dengan beberapa editing)

Mustanir.com – Tidak semua marah itu dilarang. Marah karena agama justru disyariatkan. Para ulama mengatakan bahwa ada kalanya marah justru harus (wajib). Misalnya, marah atas penghinaan terhadap Rasul saw., para nabi dan ummahatul mukminin; atas penodaan terhadap al-Quran dan as-Sunnah; atas pelecehan Islam; dan atas kemaksiatan-kemaksiatan lainnya.

Baginda Rasulullah SAW pun bisa marah, tentu semata-mata karena Allah SWT. Ada riwayat yang menyatakan: Sesungguhnya Nabi SAW tidak pernah marah terhadap sesuatu. Namun, jika larangan-larangan Allah dilanggar, ketika itu tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalangi rasa marahnya (HR al-Bukhari dan Muslim)

Marahlah saat Alquran diinjak-injak oleh orang-orang kafir. Marahlah saat rutusan bahkan ribuan umat Islam di negeri lain dibantai. Marahlah saat tempat-tempat suci seperti masjid diledakkan. Marahlah saat hijab Muslimah dilecehkan.

Marahlah (pula) saat sumber daya negeri ini dijarah habis oleh Kapitalis asing. Marahlah (pula) saat penguasa negeri ini menolak diterapkan Syariat Islam. Marahlah (pula) ketika penguasa negeri ini lebih memilih hukum kufur dibandingkan Syariat Islam.

Islam sebagai agama yang sempurna tentu mempunyai aturan tentang marah. Marah bukan hanya boleh, bahkan harus, saat kehormatan Allah SWT dan Rasul-Nya dilanggar. Sebaliknya, marah justru dilarang jika didorong oleh sentimen etnis, kelompok, golongan atau kebangsaan (’ashabiyah) karena semua itu hanya bersumber dari hawa nafsu dan setan. Wallahu a’lam. (adj)

Categories