Tips Agar Menikah Sempurnakan Separuh Agama

Tips Agar Menikah Sempurnakan Separuh Agama

Berikut ini tips agar pernikahan benar-benar menyempurnakan separuh agama kita:

1. Kendalikan masalah syahwat sejak sebelum menikah!

Kalau sebelum menikah tidak bisa menjaga kesucian diri, setelah menikah biasanya lebih parah lagi.

Misalnya sebelum nikah suka melampiaskan syahwat dengan cara menonton blue film, mengakses pornografi, melakukan masturbasi (terutama pria), sangat mungkin setelah menikah pun takkan merasa cukup, karena otak sudah terlanjur rusak.

Jika menonton materi pornografi atau melakukan masturbasi atau berpacaran diperbolehkan dalam Islam sebagai solusi bagi yang belum menikah, tentunya Rasulullah akan menganjurkannya. Tapi ternyata yang dianjurkan buat para pemuda pemudi yang belum menikah justru Berpuasa!

“Wahai para pemuda, barangsiapa dari kalian mampu memberi nafkah maka hendaknya dia menikah karena ia lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa belum mampu maka hendaknya dia berpuasa karena ia adalah kendali baginya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Maka, coba belajar kendalikan syahwat sebelum menikah. Semakin sering melampiaskan syahwat pada hal-hal yang diharamkan Allah sebelum menikah, semakin sulit menjadikan pernikahan sebagai penyempurna separuh agama.

2. Adil dalam memandang pernikahan

Banyak yang tidak adil memandang pernikahan hanya dari bagian yang enaknya saja, positifnya saja, padahal pernikahan itu sama saja seperti kehidupan pada umumnya, terdiri dari kebaikan dan juga keburukan.

Ketidakadilan dalam memandang pernikahan membuat orang berharap besar pada pernikahannya.

“Waah, pernikahan bisa menggenapkan separuh agamaku…”

“Pernikahan bisa membuatku lebih rajin beribadah!”

Kata siapa? Justru ketika menikah godaan syetannya lebih berat. Ada yang jadi makin malas shalat tepat waktu, jadi malas ikut pengajian, makin males baca Quran, makin males hafal ayat, dengan alasan mengurus anak lah, beberes rumah, ngerjain tugas kantor, de el el es be.

3. Miliki visi pernikahan

Sahabat Ummi, tanpa visi, sebuah pernikahan akan diserang rasa hambar. Bukankah segala amalan bergantung niat atau tujuannya? Oleh sebab itu penting merumuskan tujuan pernikahan kita dengan membuat visi pernikahan. Misalnya kita ingin membentuk keluarga yang seperti apa, berkontribusi apa untuk umat?

Contoh gampang, lihatlah orang yang punya anak lebih dari 10, tidak mungkin bisa demikian kalau orangtuanya tidak punya visi memiliki keluarga besar kan? Visi ini juga bisa membantu kita menyaring calon pasangan sebelum menikah looh. Kalau tidak sevisi yaa jangan diterima! Lihat pula keluarga penghafal quran, kalau tidak punya visi kuat yaa tidak mungkin bisa kan?

Nah, sekarang lihat juga rumahtangga kebanyakan! Apakah memiliki visi di dalamnya? Biasanya sih tidak, itu sebabnya digoncang prahara sedikit saja sudah tumbang. Seorang suami, hanya karena fisik istri berubah setelah melahirkan sekian anak, bukannya dimodali untuk kembali tampil oke, malahan menyalahkan istri dan berselingkuh dengan wanita lain, ini contoh pemimpin rumahtangga yang tidak bervisi kuat, sangat mudah melupakan janji pernikahan untuk setia pada pasangan.

Lalu, apa visi pernikahan Sahabat yang ada di sini? Setelah menikah, apa yang ingin dicapai? Tanpa visi, seriously… Pernikahan akan sangat mudah terombang-ambing. Sedangkan yang punya visi saja bisa terjatuh, apalagi yang tidak.

4. Istikhoroh

Terakhir, pastikan sebelum memutuskan untuk menikah dan menentukan pasangan hidup, Sahabat semua melakukan shalat istikhoroh. Ini merupakan kunci kemantapan hati dan ketenangan dalam mengarungi pernikahan kelak. Maka, tolong jangan diabaikan.

Semoga tulisan ini termasuk dalam kategori ‘saling menasehati dalam kebenaran dan dalam kesabaran’. Sehingga kita semua tidak termasuk ke dalam golongan orang yang merugi. Aamiin.

Categories