Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah (YPPH) Balikpapan Menggelar Pernikahan Massal 70 Santri

pernikahan-massal (472 x 313)

Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah (YPPH) Balikpapan Menggelar Pernikahan Massal 70 Santri

Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah (YPPH) Balikpapan kembali menggelar pernikahan mubarak untuk kesekian kalinya. Pada Ahad (29/03/2015) pagi, sebanyak 70 orang santri-santriwati dinikahkan secara massal di Masjid Ar-Riyadh, Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Ke-35 pasang pengantin putra ditempatkan di ruang utama sementara masjid yang sedang dalam perombakan itu. Sedangkan lokasi para pengantin putri bertempat di area khusus wanita, sekitar 100 meter di samping masjid.

Ketua YPPH Balikpapan Ustadz Zainuddin Musaddad mengatakan, di antara tujuan kegiatan ini untuk menjalankan salah satu syariat Islam yaitu pernikahan. Dengan harapan, kelak dari pernikahan massal ini akan lahir kader-kader pembela Islam.

“Cita-cita melahirkan generasi, cita-cita menjadi keluarga sampai detail, kiranya kita rekam kembali (harapan ini. Red). Sehingga kita betul-betul menjadi saksi dari keabadian kebahagiaan mereka (para pengantin), dunia dan akhiratnya,” ujar sang ustadz dalam sambutannya usai akad nikah.

Ada Krisdayanti
Dalam prosesi ijab-kabul, para pengantin dibagi menjadi lima kelompok (lima meja aqad). Setiap meja dikawal seorang petugas KUA Balikpapan Timur. Pantauan hidayatullah.com di lokasi acara, rangkaian pernikahan ini agak dihebohkan oleh “kehadiran” Krisdayanti.

Yang dimaksud adalah Krisdayanti binti Sabang, salah seorang pengantin putri. Karuan saja, saat nama yang mirip seorang artis terkenal itu disebut oleh pembawa acara, hadirin langsung kasak-kusuk.

Ada yang tertawa mendengarnya, ada pula yang bertanya-tanya terkait nama itu. Krisdayanti menikah dengan Suparman bin Cilele. Keduanya akan ditugaskan ke Biak, Papua.

“Mereka sama-sama asal Palopo (Sulawesi Selatan),” ujar Masykur, salah seorang panitia.

Yang bikin acara semakin heboh adalah Ustadz Jamaluddin Nur, dai asal Batam, Kepulauan Riau (Kepri). Ia diundang khusus oleh panitia untuk menyampaikan hikmah nikah.

Maklum, Jamaluddin yang juga Ketua Pimpinan Wilayah Hidayatullah Kepri ini merupakan peserta pernikahan Mubarak 100 pasang di Gunung Tembak pada 1997 silam.

Dalam ceramahnya, Jamaluddin membuat kesakralan acara agak mencair. Melalui pantun-pantunnya, pria yang dikenal humoris ini menyampaikan nasihat pernikahan dengan agak berbeda.

Para pengantin putra mengenakan seragam peci dan baju koko putih, serta bawahan sarung hijau. Sementara putrinya berbusana hitam motif bunga-bunga, dengan kombinasi hitam-putih.

Para pengantin putra dan putri itu tak pernah bertemu langsung sebelumnya. Mereka baru saling bertemu saat penyerahan mahar di rumah-rumah warga pesantren yang telah ditentukan. Sebelum menikah, mereka mengikuti kegiatan pembekalan pra nikah selama sekitar 2 pekan. Mereka berasal dari berbagai wilayah se-Indonesia.

Acara ini dihadiri oleh perwakilan dari Kementerian Agama Balikpapan, staf ahli Pemerintah Kota Balikpapan, Istri Walikota Balikpapan Arita Rizal Effendi, serta ribuan hadirin. Hadir pula KH Muhammad Arif Sulla, dai Indonesia yang kini bermukim di Arab Saudi.

Pada 16 Juni 2013 lalu, YPPH Balikpapan menggelar Pernikahan Mubarak Nasional Hidayatullah yang diikuti 49 pasang.* (sumber: hidayatullah/adj)

Pernikahan Yang Berkah

Rasulullah SAW bersabda, “Perempuan yang paling besar mendatangkan berkah Allah untuk suaminya adalah yang paling ringan maharnya.” (HR Ahmad, Hakim, dan Baihaqi). Dalam riwayat lain diungkapkan, “Sesungguhnya pernikahan yang paling berkah ialah yang sederhana belanjanya.” (HR Ahmad).

Dalam hukum munakahat (perkawinan Muslim) ditetapkan pemberian mahar (maskawin) dari suami kepada istrinya adalah wajib bagi sebuah pernikahan. Kendati agama tidak menentukan nilai mahar, tidak seyogianya bertolak belakang dengan prinsip Islam yang mempermudah pernikahan sebagai dasar pembentukan rumah tangga.

Mempermudah pernikahan berarti menutup pintu perzinaan yang dilarang keras dalam Islam. Pernikahan juga merupakan cara Islam untuk mencegah timbulnya berbagai penyimpangan seksual sebagai penyakit masyarakat yang harus dibasmi.

Islam mengoreksi adat jahiliah bangsa Arab yang berlebihan dalam menetapkan mahar. Mahar yang tinggi seringkali menjadi barrier bagi pernikahan. Akibatnya, banyak perkawinan yang tak dapat dilangsungkan karena ketidaksanggupan memenuhi tuntutan mahar yang tinggi dari pihak perempuan. Hal itu jelas menyalahi kehendak agama dan kemanusiaan.

Nabi menganjurkan memberi mahar walaupun berbentuk cincin besi. Sebab, mahar bukanlah simbol nilai perempuan dalam perkawinan, tetapi simbol kewajiban suami akan memberi nafkah kepada istrinya.

Dr M Sayyid Ahmad Al-Musayyar, guru besar Universitas Al-Azhar, Kairo, menyatakan, “Kami menyeru kepada seluruh pemimpin, agar mempermudah pernikahan sehingga kehormatan para pemuda dan pemudi akan terjaga dengan baik. Dengan menikah, mereka akan terbebas dari perangkap setan. Mahar yang paling murah adalah mahar yang paling banyak berkahnya bagi seorang wanita.”

Pernikahan merupakan peristiwa yang patut disambut dengan rasa syukur dan gembira. Oleh karena itu, pernikahan dirayakan dengan perhelatan atau walimah. Imam Ahmad meriwayatkan ketika Ali bin Abi Thalib meminang Fathimah, putri Nabi SAW, Rasul berkata, “Perkawinan mesti dirayakan dengan walimah.”

Walimah ada etikanya. Walimah bukan ajang pamer kebanggaan, status, dan kemewahan. Ia harus disesuaikan dengan keadaan lingkungan di sekitarnya. Menurut hadis Rasulullah SAW sebagaimana dijelaskan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari, seburuk-buruk pesta atau walimah adalah yang hanya mengundang orang-orang kaya, sedangkan orang-orang fakir dan miskin tidak diundang. Bandingkan etika yang diajarkan agama dengan fenomena pada sebagian kalangan masyarakat yang suka menggelar pesta pernikahan yang mewah dan berlebihan.

Categories