Ada Unsur Islam Nusantara dalam Penghinaan Simbol Islam di NTT

kemenag-dki-tari_20160104_172307

Ada Unsur Islam Nusantara dalam Penghinaan Simbol Islam di NTT

Mustanir.com – Masyarakat Islam Indonesia kembali dikejutkan dengan beredarnya foto penghinaan terhadap simbol Islam. Sejumlah penari perempuan dengan tidak mengenakan busana Islam syar’i menari-nari di atas karpet hijau yang lazim digunakan sebagai tempat shalat di Masjid-masjid, mushala atau aula-aula gedung.

Beredarnya foto ini makin menambah deretan tindak penginaan terhadap Islam yangbelakangan secara massif terjadi. Mulai dari alas sandal dengan motf kaligrafi surat Al Ikhlas, terompet dengan bahan sampul Alquran, celana dengan motif kaligrafi, tutup botol yang tercetak dengan kaligrafi, dan disusul suara azan yang digunakan untuk iringi lagu Natal di Kupang, NTT.
Selidik punya selidik, foto yang memperlihatkan penghinaan terhadap karpet shalat itu justru bersumber dari kegiatan Kementerian Agama sendiri. Tepatnya Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta. Naudzubillah min dzalik, sungguh keterlaluan.
Ceritanya, pada Ahad 3 Januari 2016 kemarin, Kemenag RI memperingati Hari Ulang Tahun atau Hari Amal Bakti ke-70. Kemenag DKI pun mengadakan upacara peringatan Hari Amal Bakti ke-70 tersebut digelar di halaman Kantor Kementerian Agama (Kemenag) di Jalan DI Panjaitan, Jakarta Timur.
Usai upacara, ditampilkanlah beberapa tarian daerah, sebagai bukti adanya Islam Nusantara. Pertama dipertunjukkan tarian adat Aceh, tari Saman. Usai tari Saman, barulah dilanjutkan dengan tari Bali. Terjadilah hal-hal yang semestinya tidak terjadi. Para penari Bali itu dengan berlenggak-lenggok menari-nari di atas karpet shalat.
“Kasihan.. Islam Nusantara mengangkat budaya lokal menginjak simbol Islam. Tarian lokal angkat ketiak kemana-mana buat merayakan HUT Amal Bakti Kemenag. Semoga Allah berikan hidayah kepada kita semua,” komentar Sekretaris Komisi Dakwah MUI Pusat, Fahmi Salim, melalui akun facebooknya, Senin (04/01) di atas postingan foto itu.
Bukan hanya melalui Facebook, Fahmi Salim juga mengingatkan melalui akun Twitternya. “Gambar bisa kirim pesan. Islam di bawah, Nusantara di atasnya.. Semoga tidak. #berpikirkeras,” tulisnya melalui akun @fahmisalim2. “Cukup minta maaf. Kita bangsa pemaaf kok. Selesai urusan? Hehehe,” cuitnya lagi. (si/adj)
Komentar Mustanir.com
Kejadian yang cukup menghebohkan dunia maya di Indonesia ini setidaknya banyak yang merasakan keprihatinan dan dirasa menyakiti hati kaum muslimin di Indonesia. Kejadian yang serupa, berupa perendahan simbol Islam memang kerap terjadi. Semoga terjadi karena ketidaktahuan. Bukan terjadi karena kesengajaan dan ada rencana untuk merendahkan Islam.
Sebagai seorang muslim, kaum muslimin memiliki peran masing-masing dalam rangka membela Islam. Dengan kejadian diatas setidaknya kita bisa bersuara untuk membela terhapap Islam. Dalam ranah yang lebih besar, dukungan dan pembelaan terhadap penerapan Syariat Islam di muka bumi ini adalah sebuah pembuktian kepedulian kita terhadap Islam. Terlebih lagi jika kita bergabung dengan jamaah yang juga berjuang dalam penerapan Syariat Islam, apapun nama jamaahnya.

Categories