Akibat Demokrasi-Liberal: Autogate Bandara Soetta Menghina Rasulullah

autogate-indonesia

Akibat Demokrasi-Liberal: Autogate Bandara Soetta Menghina Rasulullah

Beberapa waktu lalu tersiar kabar jika Nama “Muhammad dan variannya seperti “Mohammed” menjadi nama paling populer yang diberikan kepada bayi-bayi yang baru lahir di Inggris. Kini, nama Muhammad kembali menjadi nama populer di Oslo, Norwegia, Demikian laporan Biro Statistik Norwegia (SSB).

“Ini sangat menarik,” kata Jorgen Ouren, Juru Bicara SSB, seperti dilansir The Local, Ahad (31/8).

Dari hasil survei diketahui, 4.801 anak laki-laki Norwegia memilih nama Muhammad atau variasi nama Muhammad seperti Mohammed. Disusul Jan (4.667) dan Per (4.155).

Laporan ini sekaligus untuk kali pertama menempatkan nama Muhammad diurutan teratas nama bayi terfavorit di negeri Skandinavia tersebut.
Populasi Muslim Norwegia diperkirakan mencapai 150.000 dari 4,5 juta penduduk negara itu. Sebagian besar dari mereka merupakan imigran asal Pakistan, Somalia, Irak dan Maroko.

Ironisnya, nama Muhammad sendiri terkena cekal di sistem autogate Bandar Udara Soekarno Hatta, Cengkareng. Petugas imigrasi sebelumnya mengatakan jika nama Muhammad dan Ali memang tidak bisa mendaftar di sistem autogate dan harus melewati pemeriksaan manual yang lebih ketat, namun hal ini disanggah oleh petugas lainnya dengan alasan yang macam-macam.

(Baca Juga: Mengenal 50 Tokoh Liberal (Racun Kaum Muslimin Di Indonesia)

Muhammad Edo gundah gulana. Bagaimana tidak, di negeri mayoritas penduduknya Muslim, nama Muhammad yang disandangnya ternyata berimbas pada perlakuan di imigrasi yang diskriminatif. Gara-gara nama Muhammad itu, dia tak bisa daftar autogate di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang, Banten.

Edo menuturkan kejadian yang dialaminya itu terjadi pada pekan lalu. Saat itu dia hendak pergi ke Sydney, Australia. Saat akan masuk pintu Imigrasi, dia mencoba untuk mendaftar autogate yang terletak di samping kanan. Dia pun bertanya kepada petugas Imigrasi yang berjaga di sana. Mengutip pemberitaan detik.com, petugas Imigrasi itu pun mengecek paspor Edo.

“Kata petugas Imigrasi itu, kalau ada nama Muhammad atau Ali tidak bisa,” terang Edo menceritakan pengalamannya, Rabu (18/3/2015). Jika demikian, berarti siapa pun orang yang punya nama Muhammad dan Ali harus melewati pintu dengan pemeriksaan manual yang dilakukan petugas imigrasi dengan lebih ketat, dalam istilah lain, nama Muhammad dan Ali dianggap harus lebih ketat diperiksa karena dianggap cenderung teroris.

Edo terkejut dengan keterangan petugas Imigrasi itu. “Ini Indonesia loh, di Australia saja tidak apa-apa nama Muhammad masuk autogate,” urai karyawan yang bekerja di bilangan di SCBD itu. Akhirnya Edo kemudian memilih masuk pintu Imigrasi dengan cara manual, dengan cara ikut antre. Padahal, kata dia, kalau lewat autogate tentu akan bisa lebih cepat. “Saya tidak mau berdebat dengan petugas, nanti malah nggak bisa ke luar negeri. Saya terima saja,” kata Edo.

Umat Islam seharusnya mengecam dan menuntut agar sistem Autogate yang rasis ini dan menghina Nabi Muhammad saw dicabut saja.

Standar Ganda Liberalisme

Tidak bisa dipungkiri bahwa kejadian-kejadian semacam ini merupakan imbas dari diterapkannya Liberalisme di tengah-tengah kaum Muslimin. Standar ganda yang ada di masa ini para kaum Liberal-lah (penganut Liberalisme) yang memegang kendali. Standar baik dan jahat adalah atas keputusan mereka. Sekalipun Indonesia merupakan negeri mayoritas beragama Islam, namun tetap saja Islam di Indonesia hanya sebatas agama spiritual yang hanya di tempatkan di masjid-masjid saja. Tidak boleh mencampuri kehidupan sosial masyarakat, apalagi menghukumi seseorang atas nama agama. Islam adalah agama spiritual dan juga politik, yang tidak hanya mengatur masalah peribadatan, tapi juga mengatut kehidupan sosial masyarakat.

Sebagai kaum Muslimin yang telah beraqidah, maka isu-isu semacam ini harus kita tampilkan kepada ummat agar ummat sadar bahwa di dalam alam demokrasi yang liberal, Islam bahkan nama Nabi kita, Muhammad, menjadi tak punya harga diri.

(Baca Juga: Mengenal 50 Tokoh Liberal (Racun Kaum Muslimin Di Indonesia)

Categories