
Islam ala Prabowo? Bukan ala Rasulullah ﷺ?
MUSTANIR.net – Di negeri +62 memang selalu ada inovasi luar biasa. Sejak zaman dulu umat Islam mengenal istilah Islam kaaffah. Islam yang menyeluruh, utuh, lengkap sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ. Hari ini umat dipertontonkan dengan branding baru: “Islam ala Prabowo.”
Luar biasa. Saking kreatifnya, agama yang sudah sempurna sejak turunnya ayat:
﴿الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا﴾
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian, telah Aku cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Aku ridai Islam sebagai agama kalian.” (QS al-Maidah: 3)
…ternyata masih juga dipandang “kurang sempurna” hingga perlu disempurnakan dengan embel-embel tokoh politik.
Apakah Islam ala Rasulullah ﷺ yang menegakkan akidah, syariah, dan sistem hidup —termasuk politik, hukum, ekonomi, hingga negara— sudah tidak relevan dan tidak laku? Apakah “Islam kaffah” ala Rasulullah ﷺ sudah kedaluwarsa sehingga perlu dipromosikan dengan wajah baru: Islam ala figur duniawi?
Kalau begini logikanya, nanti bisa lahir serial baru: “Islam ala Menteri”; “Islam ala Artis”; “Islam ala Selebgram”; dan jangan-jangan nanti sampai ada “Islam ala Sponsor Pemilu”.
Sungguh menggelikan sekaligus menyedihkan.
Islam bukan milik seseorang. Islam bukan franchise politik yang bisa diwaralabakan sesuai kepentingan penguasa. Islam adalah wahyu Allah, syariah yang diturunkan melalui Rasulullah ﷺ untuk mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk politik dan kekuasaan.
Dalam perspektif Islam, menempelkan Islam pada nama tokoh atau rezim adalah bentuk reduksi ajaran Islam itu sendiri. Islam mengajarkan bahwa standar kita hanya Islam ala Rasulullah ﷺ, yang telah terbukti menata masyarakat dengan syariah, tegaknya sistem pemerintahan Islam, dan diterapkan secara kaaffah.
Ada pun “Islam ala Prabowo” jelas hanya gimmick politik. Sebuah komoditas, demi menjinakkan umat Islam agar merasa terwakili, padahal sejatinya mereka sedang digiring untuk puas dengan Islam “versi ringan” alias Islam yang telah mengalami sekularisasi: Islam seremonial, Islam simbolik, Islam kemasan.
Padahal Islam justru menuntut penerapan hukum Allah secara menyeluruh. Tidak ada “ala siapa-siapa.” Islam hanya satu: Islam yang diteladankan oleh Rasulullah ﷺ.
Jadi, pertanyaan tajam untuk kita renungkan: Apakah kita rela menukar “Islam ala Rasulullah ﷺ” yang paripurna dengan “Islam ala Prabowo” yang sekadar brosur politik? []
Sumber: Arief B Iskandar
