Apa Lagi Kepretan Rizal Ramli yang Terbukti Selain 35.000 MW?

 Foto: Istimewa/detik

MUSTANIR.COM, JAKARTA. — Mantan Menteri Koordinator (Menko) Kemaritiman, Rizal Ramli, pernah mengatakan proyek 35.000 MW bisa mengganggu keuangan PLN. Pernyataan Rizal ini terbukti setelah surat Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, ke Menteri ESDM Ignasius Jonan, dan Menteri BUMN Rini Soemarno, beredar di publik.

Dalam surat bernomor S-781/MK.08/2017, yang dirilis 19 September 2017 itu, dijelaskan kondisi kondisi keuangan PLN mengkhawatirkan akibat besarnya kewajiban pembayaran pokok dan bunga pinjaman yang tidak didukung pertumbuhan kas bersih operasi. Ada potensi terjadinya gagal bayar.

Bukan itu saja, kondisi ini berpotensi memburuk karena PLN harus investasi untuk program pembangunan 35.000 MW yang merupakan penugasan pemerintah.
Nah, setelah proyek 35.000, apa lagi kepretan Rizal Ramli yang sempat ramai dan terbukti? Saat masih menjabat Menko Kemaritiman, Rizal Ramli pernah meminta PT Garuda Indonesia Tbk membatalkan rencana pembelian 30 pesawat Airbus 350 XWB. Pernyataan ini disampaikan Rizal saat serah terima jabatan Menko Kemaritiman dari Indoroyono Susilo ke dirinya, Kamis (13/8/2015) lalu.

Menurut Rizal, pesawat A350 XWB hanya cocok untuk penerbangan internasional jarak jauh. Sementara, rata-rata tingkat isian (load factor) penumpang pada penerbangan internasional jarak jauh Garuda hanya 30% atau tidak pernah penuh. Alhasil, rute internasional Garuda tidak menguntungkan secara bisnis.

Selain itu, kata Rizal, Garuda juga pernah memiliki pengalaman buruk saat pengadaan pesawat berbadan lebar yang dibiayai dari pinjaman Eropa. Pesawat itu juga melayani penerbangan internasional. Garuda saat itu, sempat dinilai gagal bayar dan armadanya akan disita namun langkah tersebut berhasil diselesaikan melalui program resrukturisasi.

“Beberapa minggu lalu saya ketemu presiden, saya sampaikan kalau saya nggak mau Garuda bangkrut lagi, jenis Airbus 350, itu hanya cocok untuk penerbangan ke Amerika-Eropa-Jakarta,” kata Rizal Ramli pada Agustus 2015 silam.

komentar mustanir.

Andai saja masih ada kejujuran dihati para pemangku kebijakan negeri ini maka sepertinya tidaklah rayat negeri ini mengalami nasib sebagaiman kata pepatah, tikus mati di lumbung padi, namun karena ketiadaan kejujuran itu makaa efeknya seluruh rakyat indonesia harus rela menerima kenyataan yang pahit sebagaiman saat ini. (detik/sk)

Categories