Apa Tuhan Berubah Pikiran?

Apa Tuhan Berubah Pikiran?

Mustanir.com – Infallibility atau infalibilitas secara makna bahasa berarti lepas dari kesalahan. Ini adalah sebuah doktrin gereja yang menyatakan sesuatu tidak mungkin melakukan kesalahan.

Di lingkungan Gereja Protestan doktrin ini dikenakan pada Alkitab, atau disebut dengan Infalibilitas Alkitab, yang mempunyai makna, bahwa ayat-ayat AlKitab tidak mungkin salah. Ayat-ayat Alkitab adalah merupakan wahyu tuhan yang tidak mungkin memiliki kesalahan.

Di lingkungan Gereja Katolik, doktrin ini tidak dikenakan pada Alkitab sebagai wahyu tuhan, tapi dikenakan pada Paus, dikenal dengan Papal Infallibility atau Infalibilitas Paus. Infalibilitas Paus berarti Paus sebagai pemimpin tertinggi, wakil Tuhan, Holy Father (Bapa suci), ia terjaga dari dosa. Walau doktrin ini mengakui bahwa Paus tidak suci sempurna tapi doktrin ini meyakini bahwa  seorang Paus bebas dari dosa sekalipun ia telah berbuat dosa.

Ex cathedra atau Tahta Kepausan. Setiap statemen yang berstatus Ex Cathedra yang dikeluarkan oleh Paus maupun lembaga kepausan mempunyai derajat yang sama dengan ayat-ayat dalam Alkitab, yakni tidak mungkin salah. Dengan label Ex Cathedra, lembaga kepausan bisa mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang mempunyai derajat yang sama dengan wahyu tuhan. Mempunyai sifat yang sangat mengikat bagi setiap pemeluk Katolik dan dianggap sebagai keputusan suci yang harus ditaati sebagaimana wahyu-wahyu dalam Alkitab.

Salah satu contoh doktrin Ex Cathedra adalah sebagai berikut,

“There is but one universal Church of the faithful, outside of which no one at all can be saved” (Pope Innocent III, Fourth Lateran Council, 1215.)

“Hanya satu gereja, di luarnya tidak ada keselamatan”, demikian pernyataan ex cathedra Paus Innocent III di konsili ke-IV Lateran. Doktrin ini dikenal dengan Extra Ecclesiam Nulla Salus. Dengan doktrin ini maka menjadi sandaran hukum bagi pembantaian Muslim, Yahudi yang berada di Palestina dan Andalusia.

“We declare, say, define, and pronounce that it is absolutely necessary for the salvation of every human creature to be subject to the Roman Pontiff” (Pope Boniface VIII, the Bull Unam Sanctam, 1302.)

“Kami menyatakan dan mengumumkan bahwa sangat penting untuk keselamatan umat manusia untuk bergantung kepada Roman Pontiff (Sang Paus)”, demikian pernyataan ex cathedra Paus Bonafice VIII pada tahun 1302.

“[The Holy Roman Church] firmly believes, professes and teaches that none of those who are not within the Catholic Church, not only Pagans, but Jews, heretics and schismatics, can ever be partakers of eternal life, but are to go into the eternal fire ‘prepared for the devil, and his angels’ (Mt. xxv. 41), unless before the close of their lives they shall have entered into that Church; also that the unity of the Ecclesiastical body is such that the Church’s Sacraments avail only those abiding in that Church, and that fasts, almsdeeds, and other works of piety which play their part in the Christian combat are in her alone productive of eternal rewards; moreover, that no one, no matter what alms he may have given, not even if he were to shed his blood for Christ’s sake, can be saved unless he abide in the bosom and unity of the Catholic Church.” (Mansi, Concilia, xxxi, 1739.) (Pope Eugene IV, The Bull Cantate Domino, 1441)

“Gereja Katolik meyakini, mengakui dan mengajarkan bahwa siapapun yang tidak berada dalam Gereja Katolik, tidak hanya pagan, tapi Yahudi, heretik dan skismatik, sesungguhnya mereka bisa mendapatkan bagian dari kehidupan abadi di surga namun mereka akan masuk neraka yang kekal yang telah disiapkan untuk syaitan, kecuali sebelum meninggal telah beriman kepada gereja Katolik”. Ucapan Paus Eugene IV tahun 1411.

*Heretik adalah orang-orang sesat dalam hal ini adalah Muslim.

*Skismatik adalah orang-orang Kristen yang memisahkan diri dari gereja Katolik, yang dimaksud di sini adalah orang-orang Protestan.

Namun lebih jauh lagi, ada hal yang bertentangan dengan doktrin infalibilitas, Gereja Katolik Roma akhir-akhir ini mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan Muslim,

“The Church’s relationship with the Muslims. ‘The plan of salvation also includes those who acknowledge the Creator, in the first place amongst whom are the Muslims; these profess to hold the faith of Abraham, and together with us they adore the one, merciful God, mankind’s judge on the last day’ ” (Catechism of the Catholic Church, 1994, p.223).

“Hubungan Gereja dengan Muslim. Konsep keselamatan termasuk orang-orang yang mengakui Sang Pencipta, termasuk Muslim yang mengimani Abraham dan dengan kita mereka menyembah Tuhan Yang Maha Pengampun, Hakim seluruh manusia di hari akhir.”

Sebuah pertanyaan dari orang-orang atheis memprotes sikap Gereja Katolik,

“Jika Muslim bisa selamat karena berpegang pada keyakinan (yang sama yakni) Abraham, kenapa Yahudi tidak? Did God change His mind sometime after 1441?”

Padahal pada  Konsili Lyons I (1245M), diserukan kepada para uskup dan raja-raja untuk mengucilkan dan menurunkan tahta Kaisar Frederick II dan membentuk Perang Salib baru di bawah kepemimpinan St. Louis (raja Prancis) melawan Muslim yang mereka sebut Saraken.

Konsili Lyons II (1274M), menuntut agar perang Salib terus dilanjutkan melawan Muslim di Palestina dalam Perang Salib dengan mencari taktik baru untuk mendapatkan kembali Palestina dari Turki.

Apakah Tuhan berubah pikiran setelah 1441 tahun?[]

SUMBER

Categories