Bahaya Memilih/Menaati Pemimpin yang Tidak Taat kepada Allah dan Rasul-Nya

MUSTANIR.net – Akan ada hari nanti di yaumil akhiroh, orang yang dipanggang di atas api neraka. Kenapa? Karena menaati pemimpin yang tidak menaati Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana dijelaskan QS al-Ahzab 66:

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِى ٱلنَّارِ يَقُولُونَ يَٰلَيْتَنَآ أَطَعْنَا ٱللَّهَ وَأَطَعْنَا
ٱلرَّسُولَا۠

“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata, ‘Alangkah baiknya andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul’.”

Sebetulnya dia itu bukan menentang Allah secara langsung, dia hanya mengikuti pemimpin atau pembesarnya (bisa mengikuti ulama panutannya) sebagaimana dijelaskan dalam QS al-Ahzab 67:

وَقَالُوا۟ رَبَّنَآ إِنَّآ أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَآءَنَا فَأَضَلُّونَا ٱلسَّبِيلَا۠

“Dan mereka berkata, ‘Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar)’.”

Jadi, menaati pemimpin itu juga ada syaratnya yaitu pemimpin yang menaati Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana disebutkan di dalam hadist diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abdullah bin Shomit:

لاَ طَاعَةَ لأََِحَدٍ فِيْ مَعْصِيَةِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالٰى

“Tidak ada ketaatan terhadap seseorang dalam bermaksiat kepada Allah yang Suci dan Maha Luhur.”

Lantas, apakah pengertian maksiat itu? Pengertian maksiat dijelaskan di dalam al-Qur’an.

وَمَنْ يَعْصِ اللهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ

“Barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya, dan baginya siksa yang menghinakan.” (QS an-Nisa: 14)

Pengertian maksiat adalah melanggar ketentuan ketentuan Allah subḥānahu wa taʿālā. Jika pemimpin melaksanakan satu saja keputusan yang bertentangan dengan hukum Allah, sudah pasti dia bermaksiat.

Contohnya:

• Jika Allah melarang riba bahkan mengancam siapa yang melegalkan riba berarti mendeklarasikan perang melawan Allah dan Rasul-Nya, QS al-Baqarah 279, maka pemimpin itu tidak boleh melegalkan dalam kondisi apa pun. Jika tetap melegalkan, berarti dia bermaksiat

• Allah menetapkan hudud bagi pezina, pencuri, dan qishos bagi pembunuh tapi pemimpin tersebut tidak melaksanakannya bahkan melaksanakan hukum lainnya, maka dia bermaksiat.

• Hukum wajib mengirimkan pasukan untuk membebaskan saudara muslim yang lainnya. Jika dia tidak melakukan, maka dia bermaksiat.

• Rasul menjelaskan soal larangan individu (swasta) mengambil barang tambang, air dan padang gembalaan. Jika pemimpin itu mengizinkan swasta menambang, berarti bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Dan banyak sekali maksiat yang dilakukan oleh pemimpin itu jika ia tidak berhukum dengan hukum Allah dan Rasul-Nya. Bahkan disebut tidak beriman sebagaimana QS an-Nisa 65:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا۟ فِىٓ أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”

Lantas, boleh atau tidak kalau hanya sebagian hukum yang bisa dilakukan dan sebagian lagi tidak dilaksanakan?

Dijawab di al-Baqarah 85:

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ ٱلْكِتَٰبِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَآءُ مَن يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمْ إِلَّا خِزْىٌ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰٓ أَشَدِّ ٱلْعَذَابِ ۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

“Apakah kamu beriman kepada sebagian al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.”

Jadi, memilih pemimpin itu punya konsekuensi ke kehidupan akhirat kita. Jika pemimpin tidak pernah menjanjikan menjalankan syariat Islam secara kaffah, apakah masih berani kita memilihnya?

Jika masih berani, silakan ukur keyakinan kita akan kehidupan akhirat yang jauh lebih lama daripada setetes kehidupan dunia pada diri kita. Apakah keyakinan kita sudah kuat atau masih diselimuti masalah keduniaan?

Wallohu a’lam. []

Sumber: Gus Ali Fatoni

About Author

Categories