Rafah Membara, Tak Ada Bantuan Militer dari Negeri Muslim

MUSTANIR.netKeras kepala dan keras hati. Begitulah watak penjajah Israel. Walaupun kalah melawan mujahidin di kota Gaza, masih belum puas melakukan genosida di Palestina.

Sejak 7 Mei 2024 serangan Israel menyasar Rafah, berdalih mengembalikan sandera yang ditahan di Gaza dan melenyapkan Hamas. Realitanya Israel tetap membunuh secara brutal rakyat sipil di tenda-tenda pengungsian terutama anak-anak dan wanita. Relawan kemanusiaan internasional pun menjadi korban bom skala ton-tonan dan fosfor putih beracun yang terlarang.

Sejuta kecaman dan sanksi Mahkamah Internasional dialamatkan pada Israel agar menghentikan genosida. Tapi tetaplah penjajah Israel pekak tuli. Karena menguasai Palestina adalah ambisi Israel.

Bukti yang ke sekian kalinya, saat September 2023 sang penjahat perang (Netanyahu)  berpidato di Majelis Umum PBB seraya menunjukkan peta Timur Tengah Baru (The New Middle East). Peta yang menggambarkan Tepi Barat dan Jalur Gaza bagian dari Israel.

Ya, Israel memang tak akan berhenti sampai gol ambisinya mewujudkan Israel Raya (Greater Israel). Yaitu tanah terjanji yang membentang dari sungai Nil hingga sungai Eufrat. Hal ini tertulis eksplisit dalam prasasti cita-cita Zionis di pintu masuk gedung Parlemen Israel (Knesset).

Berarti setelah Palestina, sasaran aneksasi Israel adalah wilayah Arab seperti Lebanon, Yordania, Suriah, Irak, Arab Saudi, Mesir (gurun Sinai, Ismailia dan Iskandariah). Wilayah yang berlimpah Sumber Daya Alam (SDA) dan geopolitik strategis yang akan menjadikan Israel mencengkram dunia.

Di Mana Militer Negeri-negeri Muslim?

Sudah berbilang dekade penderitaan Palestina dengan tumpahan darah dan air mata yang tak terkira. Tapi sampai detik ini uluran tangan kaum muslim belum membuahkan hasil (kemerdekaan Palestina). Tanpa mengurangi rasa hormat, perlu kiranya muhasabah terkait uluran tangan tersebut agar tak terjatuh pada lubang yang sama.

Selama ini uluran tangan sekadar kecaman terhadap serangan Israel, lantunan doa, bantuan kemanusiaan (obat-obatan, uang, makanan/minuman), dan boikot produk Israel. Uluran tangan seperti ini harus diakui tak vis-à-vis dengan tindakan militer penjajah.

Dalam tataran kebijakan negara, beberapa pemimpin negeri muslim menempuh upaya diplomasi melalui PBB. Dengan mendukung solusi dua negara atau pemberian sanksi internasional pada Israel. Realitanya selama puluhan tahun PBB selalu menganakemaskan Israel, tak ‘memihak’ Palestina.

Hal yang wajar. Karena telaah sejarah terbukti Israel lahir buah perselingkuhan PBB-Inggris-Amerika Serikat (AS). Tak patut berharap pada PBB yang hakikatnya lembaga penjaga entitas penjajah Israel. Artinya tak ada solusi tuntas selain jihad militer seperti yang dilakukan Hamas.

Diakui berhadapan dengan Hamas saja, Israel kalah telak, tapi tak lah cukup. Karena di belakang Israel ada negara-negara super power (AS, Inggris, Prancis, dan Jerman). Sehingga diperlukan mobilisasi jihad dalam kesatuan dan persatuan negeri-negeri muslim (khilafah).

Sayangnya, walaupun beberapa negeri muslim memiliki kekuatan militer (alutsista dan personel) melampaui Israel, belum ada yang pasang badan mengerahkan militernya ke Palestina selain Yaman. Yang di luar akal, saat muslim Palestina berdarah-darah, beberapa pemimpin negeri muslim khususnya Arab mencari muka untuk normalisasi dengan Israel.

Menolak embargo minyak pada Israel. Sukarela mengizinkan pesawat tempur AS dan negara Barat lainnya melintasi wilayah udaranya untuk membantu Israel. Bahkan mencegat serangan rudal mujahidin Palestina dan Yaman yang diarahkan ke Israel.

Mengapa terjadi demikian?

Bermula dari Pengkhianatan Pemimpin Arab terhadap Islam

Para pendiri Zionis Yahudi paham, penghalang mereka mendapatkan tanah terjanji (Palestina) adalah khilafah Turki Utsmani. Mereka berusaha mewujudkan proyek meruntuhkan khilafah Turki Utsmani dengan melibatkan khilafah dalam Perang Dunia I (tahun 1914-1918). Khilafah Turki Utsmani terjun bersama pihak Poros (Jerman, Austria, Bulgaria) melawan pihak Sekutu (Inggris dan Perancis). Tumpukan uang yang semula untuk membeli tanah Palestina dari tangan khilafah, dialihkan Zionis Yahudi untuk membantu pihak Sekutu.

Untuk mempercepat kejatuhan Khilafah Turki Utsmani, Zionis bekerja sama dengan Thomas Edward Lawrence (intelijen Inggris) untuk melakukan propaganda menghembuskan nasionalisme Arab di wilayah Hijaz.

Diakui, kondisi khilafah Turki Utsmani saat itu ‘sakit parah’. Sehingga mudah sekali pemimpin Hijaz saat itu termakan propaganda tersebut.

Alhasil saat perang dunia I berkecamuk, Syarif Husein Ali (gubernur Hijaz) menyatakan diri memisahkan diri dari khilafah Turki Utsmani dan memihak Sekutu. Mirisnya tentara muslim Hijaz memerangi saudara sesama muslim (tentara khilafah Turki Utsmani) hanya untuk orang-orang kafir. Telaklah Kejatuhan khilafah Turki Utsmani sebelum Perang Dunia I berakhir.

Sebagai balas jasa, Inggris mengangkat Syarif Husein bin Ali menjadi penguasa Arab. Lalu Syarif Husein bin Ali bagi-bagi kue kekuasaan untuk anak-anaknya. Daerah Hijaz (Mekah dan Madinah) untuk anak bungsunya (Pangeran Ali). Daerah Yordania, Yerusalem Palestina untuk anak ke duanya (Pangeran Abdullah). Dan daerah Damaskus, Suriah, Irak, Kuwait untuk putra sulungnya (Pangeran Faisal).

Pemimpin Sekuler Mengidap Wahn

Dengan kajian sejarah ini dapat membuka tabir, penyebab di balik membatu dan membisunya pemimpin Arab terhadap penderitaan Palestina. Dapat membuka layar di balik ‘mesranya’ pemimpin Arab dengan AS dan penjajah Israel.

Tak bisa dinafikan, hal ini juga menjangkiti mayoritas pemimpin negeri-negeri muslim lain yang sekuler. Secara rinci, penyebabnya yaitu:

• Pertama, ikatan nasionalisme lebih mengakar kuat dalam jiwa pemimpin negeri-negeri muslim.

Ikatan akidah Islam tak lagi menjadi standar. Ukhuwah Islam tergerus oleh sekat-sekat imajiner serta kebanggaan suku dan bangsa. Nasionalisme inilah yang memecah persatuan tubuh muslim, sehingga tutup mata telinga terkait masalah selain negerinya.

• Ke dua, pemimpin boneka.

Kekuasaan pemimpin negeri-negeri muslim hari ini hakikatnya pemberian dan restu dari negara superpower seperti AS, Inggris, Prancis, Cina. Mereka tak berani mengambil kebijakan yang berseberangan dengan ‘tuannya’. Mereka lemah dan tunduk pada ‘tuannya’. Bagai kerbau dicucuk hidung begitulah gambarannya, karena mereka takut kehilangan kekuasaannya. Mereka terlalu mencintai dunia dan takut mati (wahn).

Maha benar sabda Rasulullah ﷺ yang disampaikan lebih dari 1.400 tahun lalu terkait kondisi ini:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لِثَوْبَانَ: كَيْفَ أَنْتَ يَا ثَوْبَانُ، إِذْ تَدَاعَتْ عَلَيْكُمُ الْأُمَمُ كَتَدَاعِيكُمْ عَلَى قَصْعَةِ الطَّعَامِ تُصِيْبُونَ مِنْهُ؟ قَالَ ثَوْبَانُ: بِأَبِي وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَمِنْ قِلَّةٍ بِنَا؟ قَالَ لَا، بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ، وَلَكِنْ يُلْقَى فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنُ قَالُوا: وَمَا الْوَهْنُ؟ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ : حُبُّكُمْ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَتُكُمْ الْقِتَالُ

Artinya: Dari Abu Hurairah raḍiyallāhu ‘anhu, dia berkata, ”Aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ berkata kepada Tsauban raḍiyallāhu ‘anhu, “Bagaimana kamu hai Tsauban, ketika umat-umat mengerumuni kamu (umat Islam), seperti kamu berkerumun pada satu wadah makanan yang kamu peroleh?” Tsauban bertanya, ”Demi ayahku dan ibuku, wahai Rasulullah, apakah itu karena kami berjumlah sedikit?” Rasulullah ﷺ menjawab, “Tidak, bahkan jumlah kamu pada waktu itu banyak, tetapi telah tertanam ke dalam hati kalian al-wahn.” Mereka (para sahabat) bertanya, ”Apakah al-wahn itu, wahai Rasulullah?” Rasulullah ﷺ menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR Abu Dawud dan Ahmad)

Wallahu a’lam bish-shawab. []

Sumber: Desti Ritdamaya

About Author

Categories