Belajar Adab Dari Kitab Ayyuhal Walad Imam Al Ghazali

Belajar Adab Dari Kitab Ayyuhal Walad Imam Al Ghazali

Oleh M. Isa Anshary
(Mudir Ma’had Aliy Imam al-Ghazali, Solo)

Mustanir.com – Selama berabad-abad, Kitab Ayyuhal Walad karya Imam al-Ghazali dikenal sebagai salah satu kitab penting da lam pendidikan anak dan pendidikan jiwa manusia. Sebagai Pesantren Tinggi yang meng khu suskan pada program ‘Pendidikan Guru’, Ma’had Aliy Imam al-Ghazali juga memberikan perhatian penting pada kitab ini.

Imam al-Ghazali, Sang Hujjatul Islam, ditakdirkan hidup pada saat dunia Islam diuji dengan ‘Perang Salib’. Dr. Majid Irsan al-Kilani, dalam bukunya, Hakadza Dhahara Jilu Shalahuddin wa-Hakadza ‘Adat al-Quds, menjelaskan peran penting dari para ulama – seperti Syekh Abdul Qadir al-Jilani dan Imam al-Ghazali – dalam melahirkan generasi Shalahuddin, kemudian membebaskan Jerusalem. Itu semua diawali dengan pembenahan kon sep keilmuan dan pendidikan.

Setelah mengembara dan melakukan perenungan yang mendalam atas kondisi umat Islam, Al-Ghazali berusaha memperbaiki kondisi umat, dengan ke daerah kela hirannya, Thus, untuk membangun ma dra sah. Materi paling utama yang disampaikan di madrasah ini adalah tazkiyatun nafs, penyucian diri. Bagian paling utama dari tazkiyatun nafs adalah meluruskan pandangan seorang Muslim terhadap ilmu dan membangkitkan budaya ilmu.

Madrasah Al-Ghazali berkembang pesat. Murid-muridnya datang dari berbagai negeri. Setelah lulus, mereka kembali ke daerah asal masing-masing dan membangun madrasah serupa. Dari situlah kemudian muncul jaringan madrasah Al- Ghazali. Hasilnya, 88 tahun setelah kekalahan telak umat Islam pada Perang Salib periode pertama (1099), lahirlah generasi Shalahuddin. Mereka adalah alumni jaringan madrasah Al-Ghazali. Sebagian nya juga alumni jaringan madrasah Abdul Qadir Al-Jailani, yang melakukan karya serupa dengan Al-Ghazali.

Kitab kecil
Lahirnya Kitab Ayyuhal Walad ber mula ketika seorang murid menemui Imam Al-Ghazali. Ia telah menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam ber-mula zamah dengan gurunya itu. Berbagai jenis ilmu telah diwarisinya. Kitab-kitab karya Al-Ghazali, seperti Ihya’ ‘Ulumuddin, telah selesai dibacanya. Meski demikian, ia be lum puas. Saat hendak meninggalkan Sang Guru, murid itu datang meminta nasihat. Inilah contoh adab murid kepada guru. Ia tidak sekadar berbasa-basi untuk ber pamitan kepada gurunya, tetapi juga me minta nasihat wada’ (nasihat perpisahan) secara tertulis. Tujuannya agar selalu ingat dengan nasihat gurunya.

Al-Ghazali berkenan mengabulkan permintaan murid kesayangannya tersebut. Ia menuliskan baris-baris nasihatnya sehingga menjadi sebuah buku kecil. Barisbaris itu selalu diawali dengan kalimat “ayyuhal walad” yang berarti “wahai ananda”. Kalimat itu menunjukkan betapa akrabnya hubungan antara murid dan gu ru, seperti hubungan antara anak dan ba pak. Oleh karena itu, Al-Ghazali selalu me manggil muridnya dengan kalimat “ayyuhal walad”, wahai anandaku.

Lantas, siapakah nama murid yang karenanya Kitab Ayyuhal Walad itu di tulis? Nama murid yang berjasa bagi mun culnya kitab Ayyuhal Walad ini me mang tidak diketahui. Jadi, ia adalah pahlawan tak dikenal. Melalui dirinyalah, umat Islam hari ini bisa mengambil manfaat dari Kitab Ayyuhal Walad.

Al-Ghazali mengawali nasihatnya dengan kalimat yang sangat indah. Ia me manggil muridnya dengan panggilan penuh simpati juga mendoakannya. Kata Al-Ghazali, “Wahai ananda tercinta. Se moga Allah memanjangkan usiamu agar bisa mematuhi-Nya. Semoga pula Allah memudahkanmu dalam menempuh jalan orang-orang yang dicintai-Nya.”

Kata-kata Al-Ghazali ini memberi con toh tentang adab dalam menyampai kan nasihat. Al-Ghazali memanggil muridnya dengan sebutan “ananda tercinta”. Kalimat ini menjadikan orang yang diberi nasihat merasa tenang dan percaya kepada pem beri nasihat. Ini pun membuka sekat emosi antara guru dan murid. Guru memandang murid seperti anaknya sendiri yang harus disayangi. Sementara itu, murid memandang guru seperti orang tuanya sendiri yang harus dihormati.

Setelah memanggil dengan sebutan yang melahirkan ketenangan hati bagi muridnya, Al-Ghazali mendoakan muridnya dengan doa mengenai perkara mulia yang manusia selalu mengharapkannya, yaitu diberi usia yang panjang. Bukan sekadar panjang usia, Sang Imam mendoakan muridnya agar usia yang panjang itu bisa digunakan untuk mematuhi perintah- perintah Allah. Itulah usia yang penuh berkah.

Selanjutnya, Al-Ghazaly mendoakan muridnya agar Allah memudahkannya dalam menempuh jalan orang-orang yang dicintai-Nya. Jalan itu adalah jalan Islam, yaitu jalan yang ditempuh oleh orangorang yang Allah anugerahi nikmat. Me reka adalah para nabi, shiddiqin, syuhada’, dan shalihin. Agar bisa menempuh jalan tersebut, murid itu wajib bergaul dengan mereka.

Hargailah waktu!
Setelah mendoakan muridnya, Al- Ghazali mengingatkan bahwa nasihat yang akan ia sampaikan bukanlah sesuatu yang baru. Ia hanya menyampaikan kembali nasihat Rasulullah SAW, dengan menga takan, “Nasihat yang tersebar (dalam Kitab Ayyuhal Walad) itu ditulis dari perbendaharaan kerasulan ‘alaihis shalâtu was salâm.”

“Di antara sekian banyak nasihat yang disampaikan Rasulullah SAW kepada umatnya adalah sabda beliau, ‘Salah satu tanda bahwa Allah Ta’ala berpaling dari seorang hamba adalah menjadikan hamba itu sibuk dengan perkara yang tidak memberinya manfaat. Apabila seseorang kehilangan usianya sesaat saja untuk sesuatu di luar tujuan ia diciptakan, yaitu untuk beribadah, sungguh ia layak mengalami penyesalan yang berkepanjangan.

Barang siapa usianya telah melewati 40 tahun, namun kebaikannya belum mampu mendominasi keburukannya, bersiap-siaplah ia masuk neraka.'” Imam Al-Ghazali pun meng ingat kan muridnya agar tidak menyia-nyiakan waktunya meskipun sesaat untuk perkaraperkara yang tidak bernilai ibadah. Orang yang menyia-nyiakan waktu akan men derita penyesalan yang berke panjangan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dan Al-Baihaqi, Ra sulullah SAW bersabda, “Penduduk surga pasti akan menyesalkan waktu sesaat yang telah berlalu, ketika itu mereka tidak berzikir mengingat Allah.”

Usia 40 tahun sangat menentukan. Ketentuan ini memang tidak mutlak. Ada saja orang yang baru mendapat hidayah pada saat usianya sudah lebih dari 40 tahun. Akan tetapi, umumnya orang yang sudah berusia 40 tahun atau lebih cenderung sulit menerima hal-hal baru. Apabila telah terbiasa dengan penyimpangan dan keburukan, ia akan sulit diluruskan dan diminta meninggalkan keburukannya. Mengapa demikian? Karena pada usia 40 tahun pemikiran dan sikap manusia telah matang dan kokoh, entah matang dan kokoh dalam kebaikan atau matang dan kokoh dalam keburukan.

Ilmu dan amal
Al-Ghazali melanjutkan nasihatnya, “Wahai ananda! Nasihat itu mudah. Yang sulit adalah menerimanya. Sebab, ia terasa pahit bagi orang-orang yang mengikuti hawa nafsu karena hal-hal yang dilarang agama sangat disenangi hati mereka. Terkhusus bagi orang yang mencari ilmu rasmi serta sibuk menunjukkan kehebatan dirinya dan mencari kemewahan duniawi. Orang itu menyangka bahwa ilmu yang tidak diamalkan akan menjadi sarana bagi keselamatan dirinya. Oleh karena itu, ia tidak perlu mengamalkan ilmunya.”

Ilmu rasmi adalah istilah yang lazim dipakai di kalangan orang-orang sufi. Menurut Muhammad Al-Khadzimi dalam kitab Sirâj Azh-Zhulumât Syarh Risâlah Ayyuhâ Al-Walad, ada tiga makna mengenai ilmu rasmi. Pertama, sesuatu yang disebut ilmu sebatas tulisan dan nama, seperti filsafat. Kedua, ilmu yang diperoleh sebatas karena kebiasaan; bukan dengan maksud untuk diamalkan. Ketiga, ilmu yang sebenarnya bermanfaat, tapi menjadi tidak bermanfaat karena pemiliknya tidak mau mengamalkan tuntutan ilmu itu.

Al-Ghazali kemudian mengingatkan bahwa ilmu yang tidak diamalkan hanya akan menjadi bencana bagi pemiliknya. Al-Ghazaly menukil sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya orang yang paling keras siksanya pada hari kiamat adalah orang berilmu namun Allah tidak menja dikan ilmunya bermanfaat bagi dirinya.” (HR Ath-Thabarani dan Al-Baihaqi).

Tanda tidak bermanfaatnya ilmu seseorang adalah ketika ilmu itu tidak diamalkan. Ibarat manusia, ilmu yang tidak diamalkan adalah manusia tanpa pakaian. Manusia yang berjalan di tempat umum tanpa mengenakan pakaian tentu akan dikatakan sebagai orang gila dan orang tidak normal. Begitu pula ilmu. Ilmu tanpa amal adalah ilmu tidak normal. Sebab, amal adalah pakaian bagi ilmu. Oleh karena itulah, Al-Ghazali menyebut ilmu tanpa amal sebagai al-‘ilm al-mujarrad yang secara harfiah berarti ilmu telanjang.

Ilmu tanpa amal hanya membawa ben cana bagi pemiliknya. Oleh karena merasa diri nya berilmu, orang yang mengum pul kan ilmu tanpa disertai amal akan sulit menerima nasihat, terlebih jika nasihat itu datang dari orang yang secara level berada di bawahnya. Mengapa ia sulit menerima nasihat? Karena menerima nasihat adalah bagian dari amal, bahkan menjadi pem buka bagi amal-amal lainnya. Sementara itu, orang tadi terbiasa tidak mengamalkan ilmunya.

Kemudian, Imam Al-Ghazali melanjut kan nasihatnya, “Wahai ananda! Jangan lah jadi orang yang bangkrut amalnya! Jangan pula jadi orang yang hampa hati nya! Yakinlah bahwa ilmu tanpa amal itu tidak akan mendatangkan manfaat. Ilus trasinya sebagai berikut. Ada orang di pa dang pasir membawa 10 pedang dari India beserta senjata lainnya. Orang itu dikenal pemberani dan ahli strategi perang. Tibatiba datanglah seekor singa besar yang me na kutkan. Bagaimana pendapatmu? Apa kah senjata-senjata tadi mampu melin dungi nya dari terkaman singa tanpa menggunakannya atau memukulkannya? Sudah dapat diketahui, senjata-senjata tadi tidak dapat melindunginya kecuali dengan meng gerakkan atau memukulkannya. De mikian pula, jika seseorang membaca sera tus ribu masalah ilmiah yang ia keta hui dan pelajari, tapi tidak mengamalkannya. Ilmunya yang banyak itu tidak akan memberinya manfaat kecuali dengan mengamalkannya.

Ilustrasi lain dari Sang Imam adalah sebagai berikut. Ada orang menderita sakit panas atau sakit kuning. Obatnya adalah dengan sakanjabîn dan kasykâb. Orang tersebut hanya bisa sembuh dengan mengonsumsi keduanya. Dalam sebuah syair Persia disebutkan, “Jika engkau menimbang arak dua ribu pon, engkau tidak akan mabuk kalau tidak meminumnya.'”

Syekh Muhammad Amin Al-Kurdi An- Naqsyabandi menjelaskan maksud periba hasa ini. Ia berkata, “Engkau tidak bisa me rasakan lezatnya sesuatu kecuali apa bila mengerjakan dan mencobanya. Se orang Mukmin tidak akan merasakan lezatnya iman kecuali apabila melaksanakan apa yang menjadi hak Allah dan hak hamba-hamba Allah.”

Jadi, begitu pentingnya masalah ilmu dan amal, sampai-sampai Imam al-Ghazali me negaskan: “al-ilmu bi-laa ‘amalin ju nuunun, wal-‘amalu bi-laa ‘ilmin lam yakun.” (Ilmu tanpa amal adalah gila, dan amal tanpa ilmu tidak ada nilainya). Betapa indahnya jika isi Kitab Ayyuhal Walad ini ditanamkan—bukan sekadar diajarkan—pada anak-anak sedini mung kin, baik di rumah, sekolah, pesantren, maupun masjid. InsyaAllah, anak-anak akan menjadi manusia yang haus ilmu dan cinta amal saleh. (SUMBER)

About Author

24 thoughts on “Belajar Adab Dari Kitab Ayyuhal Walad Imam Al Ghazali

  1. Do you have a spam problem on this site; I also am a blogger, and I was wondering your situation; many of us have developed some nice methods and
    we are looking to swap techniques with others,
    please shoot me an e-mail if interested.

  2. Its such as you read my thoughts! You appear to know a lot about this,
    such as you wrote the e-book in it or something.

    I believe that you just can do with a few percent to
    pressure the message home a little bit, but other than that, that is excellent blog.
    An excellent read. I will definitely be back.

  3. I was suggested this website by way of my cousin. I’m now not certain whether this
    post is written by him as no one else recognize such targeted approximately my trouble.
    You’re amazing! Thanks!

  4. Excellent post. Keep posting such kind of information on your page.
    Im really impressed by it.
    Hi there, You’ve done a fantastic job. I will definitely digg it and in my view recommend
    to my friends. I am sure they will be benefited from this website.

  5. I enjoy what you guys are up too. This sort of clever work and exposure!
    Keep up the fantastic works guys I’ve added you guys to my
    blogroll.

  6. 日本の社会は、最先端のテクノロジーにおいて世界的に注目されています。特に、自動車産業では、日産などの大手企業が世界市場をリードしており、新車や自動運転車など、さまざまな環境に配慮した技術が導入しています。自動車技術の進展により、安全性が大きく向上し、ドライバーにとってより良いライフスタイルが提供されています。

    自動車の所有は、車両保険といった日本特有の制度に密接に関連しており、日本の運転者は、これらの制度に従い、運転のルールを確保しています。さらに、事故時の対応の普及が進んでおり、事故やトラブルの際に迅速に対応できるようになっています。これにより、日本国内では、安全性が提供され、交通事故の問題にも積極的に取り組んでいます。

    一方で、高齢化社会という重要な問題が日本において進行しています。高齢者の増加に伴い、医療分野での需要が急増し、看護師の不足が深刻な問題となっています。このため、看護師求人が増加しており、さらに介護職の再教育の需要も高まっています。政府は、新しい介護システムを活用した支援策を導入し、患者への支援を強化しています。

    また、医療の分野では、医療機器が急速に進化し、ケガに対する対応が向上しています。日本は、先進的な医療を提供し、特に高齢者医療において多くの技術革新が導入されています。さらに、医療従事者の専門性を高めるため、医療研修が重要視され、医療教育の充実が求められています。

    社会的な課題に対して、日本のNPOは積極的に取り組んでおり、福祉活動を推進しています。これにより、地域住民や高齢者に対する支援が強化され、ボランティア活動が日常的に行われています。災害支援活動も重要な役割を果たしており、特に日本では、震災などの自然災害時に、ボランティアが迅速に対応し、支援活動が行われています。

    さらに、情報技術が進展する中で、スマホゲームなどの新たな娯楽の形態が広がり、フィットネスへの関心が高まっています。日本では、フィットネスクラブの利用が増加し、健康維持に向けたライフスタイルが注目されています。また、サプリメントが重要な役割を果たし、ボディメイクのためのアイテムが多く流通しています。

    ファッションや美容においても、日本の市場は、常に新しいトレンドを追い求めています。衣類においては、ファッションデザイナーが注目され、特にスポーツウェアが人気です。美容業界では、スキンケアが進化し、エステなどのサービスも充実しています。ネイルアートやジェルネイルもトレンドとなり、ネイルスクールが活況を呈しています。

    このように、日本社会は、進展とともに進化しており、社会福祉が密接に関わり合っています。未来に向けて、進化する社会の実現に向けた取り組みが進んでおり、これらの挑戦を乗り越えるための準備が整いつつあります。

  7. 日本の社会は、技術革新において世界的に注目されています。特に、自動車産業では、日産などの大手企業が世界市場をリードしており、中古車やハイブリッド車など、さまざまな環境に配慮した技術が導入しています。自動車技術の進展により、環境への配慮が大きく向上し、利用者にとってより良いライフスタイルが提供されています。

    車の所有は、車両保険といった日本特有の制度に密接に関連しており、日本の運転者は、これらの制度に従い、運転のルールを確保しています。さらに、車両保険の普及が進んでおり、事故やトラブルの際に迅速に対応できるようになっています。これにより、日本国内では、安全性が提供され、安全運転の問題にも積極的に取り組んでいます。

    一方で、高齢化社会という社会的課題が日本において進行しています。高齢者の増加に伴い、看護分野での需要が急増し、医療スタッフの不足が深刻な問題となっています。このため、看護師求人が増加しており、さらに看護師転職の需要も高まっています。政府は、新しい介護システムを活用した支援策を導入し、患者への支援を強化しています。

    また、福祉の分野では、治療法が急速に進化し、疾病に対する対応が向上しています。日本は、治療の最前線を提供し、特に高齢者医療において多くの技術革新が導入されています。さらに、医療従事者の専門性を高めるため、医療資格取得が重要視され、専門知識の充実が求められています。

    社会的な課題に対して、日本のボランティア団体は積極的に取り組んでおり、地域活性化を推進しています。これにより、地域住民や高齢者に対する支援が強化され、社会貢献が日常的に行われています。地域支援活動も重要な役割を果たしており、特に日本では、台風などの自然災害時に、支援団体が迅速に対応し、避難所の設営が行われています。

    さらに、テクノロジーが進展する中で、スマホゲームなどの新たな娯楽の形態が広がり、健康管理への関心が高まっています。日本では、家庭用トレーニングの利用が増加し、美しい体作りに向けたライフスタイルが注目されています。また、栄養管理が重要な役割を果たし、ダイエットのためのアイテムが多く流通しています。

    ファッションや美容においても、日本は、常に新しいトレンドを追い求めています。衣類においては、ファッションデザイナーが注目され、特にスポーツウェアが人気です。美容業界では、スキンケアが進化し、脱毛などのサービスも充実しています。ネイルアートやジェルネイルもトレンドとなり、ネイルスクールが活況を呈しています。

    このように、日本は、進展とともに進化しており、文化が密接に関わり合っています。未来に向けて、持続可能な社会の実現に向けた取り組みが進んでおり、これらの挑戦を乗り越えるための準備が整いつつあります。

  8. Howdy would you mind letting me know which webhost you’re using?
    I’ve loaded your blog in 3 completely different internet browsers and
    I must say this blog loads a lot quicker then most. Can you suggest a good internet hosting provider at a honest price?

    Thank you, I appreciate it!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories