MUSTANIR.net – Penyembahan berhala tidak selalu berwujud di Arab.

Tiga dewi utama Mekah –al-Lat, al-‘Uzza, dan al-Manat– bahkan mungkin adalah dewi Yunani: Athena, Afrodit, dan Ananke. Orang-orang Arab pergi ke Syam pada bulan-bulan musim panas, dan kadang-kadang mereka membawa pengaruh dari sana ke Arab. Beberapa juga berbicara dengan pendeta dan rabi, dan berpindah agama menjadi Kristen dan Yudaisme.

Pada saat yang sama, ajaran sesat sedang didorong keluar dari Bizantium ke arah selatan hingga ke Arab –menjadikan Arab sebagai hamparan berhala dan mitologi. Orang-orang Arab juga melakukan perjalanan ke Yaman pada musim dingin, dan Yaman juga mayoritas penduduknya beragama Yahudi dan Kristen.

Karena mereka menganggap Syam sebagai tanah suci dan makmur, orang-orang Arab seperti ‘Amr bin Luhay menghadirkan berhala-berhala tersebut sebagai bentuk tiruan. Mereka mengaitkan kesuksesan Roma dengan dewa-dewa ini –seperti jimat keberuntungan.

Akhirnya, Mekah menjadi makmur, dan kemakmuran itu secara langsung dikaitkan dengan tempat tinggal para dewa tersebut. Mekah merupakan jalur perdagangan sekaligus tempat ziarah bagi para penyembah berhala Arab. Itulah salah satu alasan mengapa ikonoklasme Muhammad ﷺ sangat ditakuti dan dilawan dengan kejam.

Kita melihat hal serupa terjadi hari ini. Orang-orang Arab memandang kebesaran dan kemakmuran Barat, mengunjungi dan tinggal di sana, dan kemudian membawa pesonanya ke dunia Arab.

Alih-alih berhala dari kayu dan batu, mereka adalah berhala jiwa: sekularisme, nasionalisme, utilitarianisme, feminisme, korporatisme, Marxisme, dan budaya Anglo-Prancis. Dan kini, terdapat kemakmuran —lihat saja Dubai! Riyadh juga merasa bahwa hal ini dapat mendatangkan sambutan hangat, festival, dan selebriti, dan itu akan menyelesaikan semua masalah negaranya.

Namun seperti penyembahan berhala, semua hal ini juga mempunyai efek samping, yang paling utama adalah rusaknya tradisi dan keluarga, serta mengundang penyakit sosial modern ke dalam rumah kita. Bahkan dari sudut pandang materialis sekalipun, para ekonom terbaik di dunia tidak dapat memprediksi masa depan dengan tepat (perekonomian ini bisa hancur atau berubah secara mendasar kapan saja), dan kita sama sekali tidak berdaya di kancah dunia.

Jika Anda ingin menyelesaikan permasalahan ini, Anda harus menjadi seperti Muhammad ﷺ –tidak ada cara lain. Kita harus berprinsip, berani, dan sabar. Kita harus menjadi masyarakat yang selamat dan penyelamat. Kita tidak bisa begitu saja meniru setiap macan kertas di sekitar kita. Namun jika kita bersikap etis, tegas, dan sabar, maka Bizantium dan Persia yang agung pun akan terpuruk sekali lagi. []

Sumber: Mr. Bilal Muhammad

About Author

Categories