Pertahanan, Keamanan, Hubungan Internasional, Globalisasi, Geopolitik, dan Politik Luar Negeri

MUSTANIR.net – “Negara yang kuat adalah negara yang menyiapkan diri untuk menyerang negara lain, bukan sekadar mempertahankan diri dari serangan musuh.”

Konsep pertahanan paling kuat adalah menyerang. Konsep ini, ada pada substansi jihad. Jihad adalah berperang di jalan Allah subḥānahu wa taʿālā dalam rangka menegakkan kalimat Allah.

Amerika meletakkan doktrin Monroe sebagai asas pertahanan negaranya. Doktrin ini menjadikan Amerika mengekspor perang ke luar negeri dengan melakukan berbagai invasi dan pendudukan. Bukan berdiam diri menunggu wilayahnya diserang musuh.

Dalam Islam, konsep jihad asalnya adalah ofensif. Bukan defensif. Namun negara harus siap dalam dua keadaan, baik ofensif maupun defensif.

Dalam Islam, konsep jihad hidup karena ada misi besar yang diusung. Yakni, misi menjadikan Islam sebagai rahmat bagi semesta alam. Konsep jihad hanya akan diterapkan mana kala dakwah sudah disampaikan, namun mendapatkan represi secara fisik.

Hubungan antar negara harus dibangun di atas asas perang. Sehingga secara psikologi, negara selalu bersiaga untuk dua keadaan: menyerang atau diserang.

Kesiapsiagaan ini, mengharuskan negara membangun industri di atas asas perang, dan berusaha memiliki persenjataan paling modern dan paling tangguh di zamannya. Dalam konsep perang, ketersediaan alutsista adalah faktor penting untuk menentukan kemenangan.

Tidak boleh industri berjalan sendiri hanya berorientasi pada ekonomi. Seluruh industri harus dikonsolidasi dan dibangun di atas asas perang. Sehingga industri bisa menopang penuh kebutuhan akan pelaksanaan kewajiban jihad, baik ofensif maupun defensif.

Keamanan dalam negara wajib dijaga dengan menegakkan hukum-hukum syariah. Keadilan pemimpin akan menjadi jaminan bagi keamanan negara. Pemimpin zalim akan menimbulkan krisis internal negara, dan akan mudah diserang oleh negara lainnya.

Hubungan internasional Islam dilakukan adalah dalam rangka menebarkan risalah Islam ke seluruh penjuru alam. Dakwah dan jihad menjadi metode baku mengemban risalah Islam.

Sementara hubungan ekonomi, budaya, telekomunikasi, transportasi, dan berbagai interaksi lainnya hanyalah teknis (uslub) saja. Sepanjang, hubungan itu menopang misi dakwah dan mengemban risalah Islam, maka negara akan membangun hubungan itu. Hanya saja, negara akan mengklasifikasi negara lainnya pada dua jenis.

Pertama, negara yang secara de facto memerangi umat Islam yang terhadapnya tidak ada hubungan apa pun yang dijalin. Negara seperti Amerika dan Zionis Yahudi adalah musuh Islam sehingga haram membangun hubungan interaksi dalam bentuk apapun.

Ada pun negara yang statusnya hanya de jure melawan Islam, terkategori darul kufur, masih dimungkinkan membangun interaksi dengan pertimbangan utama kemaslahatan dakwah Islam. Bukan mencari materi.

Dalam isu globalisasi, Islam harus menjadi arus mainstream yang mengatur interaksi dunia. Tidak boleh Islam tunduk pada narasi global yang menjajah umat manusia, seperti ide HAM, demokrasi, pasar bebas, sekulerisme, pluralisme, emansipasi, dan ide sesat lainnya.

Secara konstelasi global, umat wajib paham bahwa dunia saat ini dikuasai oleh ideologi kapitalisme dan sosialisme. Maka Islam, harus hadir dalam pentas peradaban global dan melawan dua ideologi kufur ini.

Geopolitik Islam adalah berusaha melakukan unifikasi seluruh negeri Islam ke dalam satu yurisdiksi negara. Itulah, negara khilafah. Namun proses unifikasi itu baru akan terjadi, mana kala suatu wilayah telah mampu ditegakkan khilafah.

Selanjutnya dari wilayah tersebut, Islam akan melakukan unifikasi secara geopolitik, menyatukan setiap negeri Islam kembali ke pangkuan daulah khilafah. []

Sumber: Ahmad Khozinudin

About Author

Categories