Bolehkah Wanita Adzan Ditengah Jamaah Umum

1341028

Bolehkah Wanita Adzan Ditengah Jamaah Umum

Mustanir.com – Diantara syarat muadzin (orang yang mengumandangkan adzan) adalah laki-laki. Para ulama sepakat bahwa perempuan tidak diperbolehkan mengumandangkan adzan, karena dengan mengumandangkan adzan berarti ia meninggikan suara, akibatnya ia akan mengundang fitnah bagi yang mendengarnya.

Namun bagaimana jika ia sudah terlanjur adzan? Apakah adzannya sah atau perlu diulang? Apakah jika jama’ahnya wanita ia juga tidak boleh mengumandangkan adzan?

1. Mazhab Al-Hanafiyah

Para ulama dari kalangan madzhab Al-Hanafiyah berpendapat bahwa adzan seorang wanita dianggap tidak sah, bahkan ada yang menganggapnya sebagai sesuatu yang bid’ah (diada-adakan). Namun mereka berbeda pendapat jika ia terlanjur mengumandangkan adzan ditengah jama’ah laki-laki antara diulangi adzannya ataupun tidak.

Al-Kasani (w. 587 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah di dalam kitabnya Badai’ Ash-Shanai’ fi Tartibi As-Syarai’ menuliskan sebagai berikut :

فَيُكْرَهُ أَذَانُ الْمَرْأَةِ بِاتِّفَاقِ الرِّوَايَاتِ؛ لِأَنَّهَا إنْ رَفَعَتْ صَوْتَهَا فَقَدْ ارْتَكَبَتْ مَعْصِيَةً، وَإِنْ خَفَضَتْ فَقَدْ تَرَكَتْ سُنَّةَ الْجَهْرِ؛ وَلِأَنَّ أَذَانَ النِّسَاءِ لَمْ يَكُنْ فِي السَّلَفِ فَكَانَ مِنْ الْمُحْدَثَاتِ وَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «كُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ» ، وَلَوْ أَذَّنَتْ لِلْقَوْمِ أَجْزَأَهُمْ حَتَّى لَا تُعَادَ لِحُصُولِ الْمَقْصُودِ وَهُوَ: الْإِعْلَامُ

Adzan seorang wanita hukumnya makruh, karena dengan meninggikan suaranya dia telah berbuat maksiat, dan jika mengecilkan suaranya maka dia telah meninggalkan sunah adzan. Selain itu, adzannya seorang wanita tidak ada contoh dari para salaf, dan itu termasuk dari bid’ah. nabi SAW telah bersabda: (setiap hal baru yang diada-adakan adalah bid’ah) . Kalaupun dia telah terlanjur mengumandangkan adzan, maka hal tersebut diperbolehkan dan tidak perlu diulangi. karena telah tercapainya maksud dari adzan itu sendiri yaitu al-‘ilam(mengumumkan masuknya waktu shalat).[1]

Sedangkan Ibnul Humam (w. 681 H) ulama lain dari mazhab Al-Hanafiyah dalam kitab Fathul Qadirmenuliskan sebagai berikut :

وَيُعَادُ أَذَانُ الصَّبِيِّ الَّذِي لَا يَعْقِلُ وَالْمَرْأَةِ
وَالْجُنُبِ وَالسَّكْرَانِ وَالْمَجْنُونِ وَالْمَعْتُوهِ لِعَدَمِ الِاعْتِمَادِ عَلَى أَذَانِ هَؤُلَاءِ فَلَا يُلْتَفَتُ إلَيْهِمْ

Adapun adzan-adzan yang harus diulangi adalah adzannya seorang anak kecil yang belum mumayyiz, adzan seorang wanita, orang yang yang mabuk, gila, ataupun dungu. Karena adzan mereka tidak dianggap sah.[2]

Az-Zaila’i (w. 743 H) menguatkan pendapat sahabat-sahabatnya dari mazhab Al-Hanafiyah, dengan menuliskan dalam kitabnya Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq sebagai berikut :

وَأَمَّا أَذَانُ الْمَرْأَةِ فَلِأَنَّهُ لَمْ يُنْقَلْ عَنْ السَّلَفِ حِينَ كَانَتْ الْجَمَاعَةُ مَشْرُوعَةً فِي حَقِّهِنَّ فَيَكُونُ مِنْ الْمُحْدَثَاتِ لَا سِيَّمَا بَعْدَ انْتِسَاخِ جَمَاعَتِهِنَّ؛ وَلِأَنَّ الْمُؤَذِّنَ يُسْتَحَبُّ لَهُ أَنْ يُشْهِرَ نَفْسَهُ وَيُؤَذِّنَ عَلَى الْمَكَانِ الْعَالِي وَيَرْفَعَ صَوْتَهُ وَالْمَرْأَةُ مَنْهِيَّةٌ عَنْ ذَلِكَ كُلِّهِ، وَلِهَذَا «جَعَلَ النَّبِيُّ – عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ – التَّسْبِيحَ لِلرِّجَالِ وَالتَّصْفِيقَ لِلنِّسَاءِ» وَيُعَادُ أَذَانُهَا اسْتِحْبَابًا لِوُقُوعِهِ لَا عَلَى الْوَجْهِ الْمَسْنُونِ

Adapun adzannya seorang wanita termasuk bid’ah, karena hal tersebut tidak dicontohkan ulama salaf ketika shalat jama’ah masih disyari’atkan bagi mereka, apalagi setelah syari’at tersebut dihapuskan, selain itu seorang muadzin dianjurkan untuk memperlihatkan dirinya dengan mengumandangkan adzan ditempat yang tinggi dan mengeraskan suaranya, dan wanita dilarang melakukan hal-hal tersebut. Alasan lainnya dalam shalat berjama’ah ketika imam salah ataupun lupa rasulullah saw memerintahkan bagi laki-laki untuk mengucapkan tasbih (subhanallah) dan bertepuk tangan bagi wanita. Adapun jika ia terlanjur adzan maka dianjurkan untuk mengulangi adzan tersebut..[3]

Bahkan As-Sarakhsi (w. 483 H) seorang ulama dari madzhab yang sama, tidak memperbolehkan adzan sekaligus iqamat seorang wanita meskipun jama’ahnya khusus wanita. Dalam kitab Al-Mabsuthbeliau menulis:

وَلَيْسَ عَلَى النِّسَاءِ أَذَانٌ وَلَا إقَامَةٌ… فَإِنْ صَلَّيْنَ بِأَذَانٍ وَإِقَامَةٍ جَازَتْ صَلَاتُهُنَّ مَعَ الْإِسَاءَةِ لِمُخَالَفَةِ السُّنَّةِ وَالتَّعَرُّضِ لِلْفِتْنَةِ

Dalam jama’ah wanita, tidak diperbolehkan bagi mereka adzan maupun iqamat, jika mereka tetap shalat dengan adzan dan iqamat shalat mereka sah namun tidak baik karena telah menyelisihi sunah dan mengundang fitnah.[4]

2. Mazhab Al-Malikiyah

Hukum adzan wanita menurut madzhab ini adalah makruh dan tidak dianggap sah.

Al-Qarafi (w. 684 H) salah satu ulama mazhab Al-Malikiyah di dalam kitab Adz-Dzakhirah menuliskan sebagai berikut :

فَفِي الْجَوَاهِرِ يُشْتَرَطُ أَنْ يَكُونَ مُسْلِمًا عَاقِلًا مُمَيِّزًا ذَكَرًا بَالِغًا عَدْلًا عَارِفًا بِالْمَوَاقِيتِ صَيَّتًا حَسَنَ الصَّوْتِ فَلَا يُعْتَدُّ بِأَذَانِ كَافِرٍ أَوْ مَجْنُون أَو سَكرَان أَو مختبط أَوِ امْرَأَةٍ

Sifat-sifat yang harus dimiliki seorang muadzin adalah : Muslim, berakal, laki-laki, baligh, adil, mengetahui waktu-waktu shalat, bersuara bagus. Maka dari itu, adzannya orang kafir tidak dianggap sah, begitu pula orang gila, orang mabuk, kesurupan dan adzan wanita.[5]

     Selain itu, Al-Hathab (w. 954 H) seorang ulama dari madzhab Al-Malikiyah berpendapat bahwa adzan wanita hukumnya makruh. Dalam kitabnya Mawahibul Jalil beliau mengatakan:

وَأَذَانِ النِّسَاءِ لِلْفَرَائِضِ فَذَلِكَ مَكْرُوهٌ

Adzannya seorang wanita untuk shalat wajib itu makruh.[6]

3. Mazhab Asy-Syafi’i

Sebagaimana madzhab Maliki, madzhab ini pun meganggap adzan wanita didepan jamaa’ah umum tidak sah.

An-Nawawi (w. 676 H) salah satu ulama dalam mazhab Asy-Syafi’iyah di dalam kitabnya Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab menuliskan sebagai berikut :

لَا يَصِحُّ أَذَانُ الْمَرْأَةِ لِلرِّجَالِ لِمَا ذَكَرَهُ الْمُصَنِّفُ هَذَا هُوَ الْمَذْهَبُ

tidak sah adzannya wanita didepan laki-laki sebagaimana disebutkan penulis, dan ini adalah pendapat madzhab kami.[7]

Selain dalam kitab Al-Majmu’, AnNawawi menuliskan dalam Raudhatu At-Thalibin:

وَلَا يَصِحُّ أَذَانُ الْمَرْأَةِ، وَالْخُنْثَى الْمُشْكِلِ، لِلرِّجَالِ عَلَى الصَّحِيحِ الَّذِي قَطَعَ بِهِ الْجُمْهُورُ.

tidak sah adzannya wanita dan khuntsa (yang berkelamin ganda) didepan laki-laki sebagaimana pendapat yang shahih menurut jumhur.[8]

Zakaria Al-Anshari (w. 926 H) yang juga ulama mazhab Asy-syafi’iyah di dalam kitabnya Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib menuliskan sebagai berikut.

(وَلَا) يَصِحُّ أَذَانُ (امْرَأَةٍ وَخُنْثَى لِرِجَالٍ) وَخَنَاثَى كَمَا لَا تَصِحُّ إمَامَتُهُمَا لَهُم

Tidak sah adzannya wanita dan khuntsa (yang berkelamin ganda) didepan laki-laki, sebagaimana tidak sahnya dia menjadi imam bagi mereka (laki-lak.[9]

Ibnu Hajar Al-Haitami (w. 974 H) salah satu ulama mazhab Asy-Syafi’iyah di dalam kitab Tuhfatul Muhtaj menuliskan sebagai berikut :

فَإِنَّهُ مُخْتَصٌّ بِالذُّكُورِ فَحَرُمَ عَلَيْهَا التَّشَبُّهُ بِهِمْ وَمِنْ ثَمَّ حَرُمَ عَلَيْهَا رَفْعُ صَوْتِهَا بِهِ

Sesungguhnya adzan diperkhususkan untuk laki-laki, maka haram bagi wanita bertasyabuh (menyerupai) laki-laki. Maka haram juga baginya mengangkat suaranya dalam adzan.[10]

Al-Khatib Asy-Syirbini (w. 977 H) salah satu ulama mazhab Asy-Syafi’iyah di dalam kitab Mughni Al-Muhtaj menuliskan sebagai berikut :

وَيُنْدَبُ لِجَمَاعَةِ النِّسَاءِ الْإِقَامَةُ بِأَنْ تَأْتِيَ بِهَا إحْدَاهُنَّ لَا الْأَذَانُ عَلَى الْمَشْهُورِ فِيهِمَا؛ لِأَنَّ الْأَذَانَ يُخَافُ مِنْ رَفْعِ الْمَرْأَةِ الصَّوْتَ بِهِ – الْفِتْنَةُ

Dalam jama’ah wanita, disunahkan salah seorang dari mereka untuk iqomat, namun tidak disunnahkan adzan, karena dengan mengangkat suara ketika adzan akan mengundang fitnah.[11]

4. Mazhab Al-Hanabilah

Menurut madzhab Hanbali, adzan seorang wanita disyariatkan dan hukumnya adalah makruh.

Al-Mardawi (w. 885 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanabilah di dalam kitabnya Al-Inshaf fi Ma’rifati Ar-Rajih minal Khilaf menuliskan sebagai berikut :

مَفْهُومُ قَوْلِهِ ” لِلرِّجَالِ ” أَنَّهُ لَا يُشْرَعُ لِلْخَنَاثَى، وَلَا لِلنِّسَاءِ، وَهُوَ صَحِيحٌ، بَلْ يُكْرَهُ، وَهُوَ الْمَذْهَبُ. وَعَلَيْهِ الْجُمْهُورُ.

Maksud dari perkataan “bagi laki-laki” disini ialah bahwa adzan dan iqomah itu tidak disyari’atkan bagi al-khuntsa (yang berkelamin ganda) dan juga wanita, bahkan hukumnya adalah makruh hukumnya, dan itulah pendapat yang shahih dalam madzhab. Dan Jumhur juga sependapat dengan pendapat ini.[12]

5. Mazhab Azh-Zhahiriyah

Ibnu Hazm (w. 456 H) salah satu tokoh mazhab Azh-Zhahiriyah di dalam kitab Al-Muhalla bil Atsarmenuliskan sebagai berikut :

مَسْأَلَةٌ: وَلَا أَذَانَ عَلَى النِّسَاءِ وَلَا إقَامَةَ؛ فَإِنْ أَذَّنَّ، وَأَقَمْنَ فَحَسَنٌ.
ُرْهَانُ ذَلِكَ -: أَنَّ أَمْرَ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بِالْأَذَانِ إنَّمَا هُوَ لِمَنْ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – الصَّلَاةَ فِي جَمَاعَةٍ، بِقَوْلِهِ – عَلَيْهِ السَّلَامُ -: «فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ» وَلَيْسَ النِّسَاءُ مِمَّنْ أُمِرْنَ بِذَلِكَ، فَإِذَا هُوَ قَدْ صَحَّ فَالْأَذَانُ ذِكْرُ اللَّهِ تَعَالَى، وَالْإِقَامَةُ كَذَلِكَ؛ فَهُمَا فِي وَقْتِهِمَا فِعْلٌ حَسَنٌ.

Seorang wanita tidak diperbolehkan adzan dan iqamat, jika sudah terlanjur adzan maka tidak apa-apa karena ia termasuk pekerjaan yang baik (hasan). Adapun sebab pelarangannya bahwasanya rasulullah hanya menyuruh adzan kepada orang yang diwajibkan shalat jama’ah, yaitu laki-laki sebagaimana sabda beliau:

”Hendaknya ada diantara kalian yang mengumandangkan adzan, dan hendaknya yang menjadi imam adalah yang paling lebih tua usianya.”

Dan yang dimaksud rasulullah dalam hadits diatas adalah kaum laki-laki bukan perempuan. Adapun jika sudah terlanjur adzan ataupun iqamat maka tidak apa-apa karena keduanya adalah dzikrullah, yang merupakan pekerjaan yang hasan (baik)[13]

Wallahu’alam.

[1] Al-Kasani, Badai’ Ash-Shanai’ fi Tartibi Syara’i, jilid 1 hal150.

[2] Ibnul Humam, Fathul Qadir, jilid 1 hal 252-253.

[3] Az-Zaila’i, Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq, jilid 1 hal 94.

[4] As-Sarakhsi, Al-Mabsuth, jilid 1 hal 133.

[5] Al-Qarafi, Adz-Dzakhirah, jilid 2 hal 64.

[6] Al-Hathab, Mawahibul Jalil, jilid 1 hal 135.

[7] An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdab, jilid 3 hal 100.

[8] An-Nawawi, Raudhatu At-Thalibin wa Umdatu Al-Muftiyyin, jilid 1 hal 202.

[9] Zakaria Al-Anshari, Asnal Mathalib Syarh Raudhu At-Thalib, jilid 1 hal 129.

[10] Ibnu Hajar Al-Haitami, Tuhfatul Muhtaj , jilid 1, hal 466.

[11] Al-Khatib Asy-Syirbini, Mughni Al-Muhtaj , jilid 1, hal 320.

[12] Al-Mardawi, Al-Inshaf fi Ma’rifati Ar-Rajih min Al-Khilaf, jilid 1 hal 406.

[13] Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 2 hal 169.

Categories