Bretton Woods Yang Superfisial, Analisis Kritis Moneter Internasional

bretton-woods-monetary-conference

Bretton Woods Yang Superfisial, Analisis Kritis Moneter Internasional

Sistem moneter dunia yang terbentuk melalui persetujuan-persetujuan Bretton Woods memunculkan dollar AS sebagai mata uang internasional dalam pasar ekonomi global paska Perang Dunia menggantikan poundsterling Inggris. Dengan itu kemudian AS mencetak uang kertas dollarnya melebihi jumlah emas yang ada. Hal ini mengakibatkan AS mendapatkan keuntungan sepihak sepanjang dunia mempercayai dollar. Di tengah kepercayaan dunia yang mulai goyah, akhirnya pada 15 Agustus 1971, Presiden AS Richard Nixon mengakhiri sistem yang membuat dollar dapat ditukar dengan emas dan sejak itulah berakhir sistem Bretton Woods. Sistem baru kemudian muncul ketika minyak bumi berfungsi sebagai emas. Sistem petro-dollar ini merupakan instrumen untuk tetap mengekalkan hegemoni dan keuntungan bagi AS. Tetapi konfigurasi sistem moneter internasional semacam ini tidak dapat bertahan terus menerus karena bertentangan dengan hukum moral, utamanya prinsip-prinsip kejujuran, keadilan, dan kebebasan.

Menjelang akhir Perang Dunia II, di dalam konferensi moneter internasional antara negara-negara Sekutu di Bretton Woods pada tahun 1944, sistem moneter internasional secara formal terbentuk dan melahirkan persetujuan-persetujuan untuk membentuk lembaga- lembaga keuangan multilateral yang mengenakan bunga. IMF, Bank Dunia dan IBRD terbentuk pada 27 Desember 1945, kemudian GATT pada 1947. IBRD kemudian diserap oleh Bank Dunia menjadi grup Bank Dunia yaitu IBRD, IDA, IFC, MIGA, dan ICSID. Dan GATT akhirnya dibubarkan tahun 1995 dan sebagai gantinya dibentuk WTO. Persetujuan-Persetujuan Bretton Woods ini memberikan enam implikasi terhadap sistem moneter internasional hingga saat ini.

Pada akhir abad ke-17 berdiri bank pertama di dunia, yaitu Bank Inggris, yang menandai transformasi Eropa dengan sistem ekonomi riba yang kemudian akan menjalar ke seluruh dunia (Tawney 1954, 69-70, 135- 136). Dari sini kemudian muncul istilah moneter dengan standard emas yang berkembang dari penggunaan dalam negeri.

Pada saat itu masing-masing negara menetapkan nilai uangnya atas dasar emas. Itu artinya bank sentral harus memiliki cadangan emas senilai dengan uang kertas yang diterbitkan. Sistem ini mengandung masalah karena produksi emas tergantung hasil tambang dan bank sentral tidak dapat melaksanakan kebijakan moneter dan mendorong pertumbuhan ekonomi melalui pengenaan suku bunga. Tetapi hal ini tidak terjadi secara internasional, karena sebagai contoh dalam dunia Islam yang melarang riba, apabila terjadi kelangkaan pada koin emas dan perak di pasar, maka dapat digunakan komoditi yang melimpah di pasar, dan mempunyai umur simpan (shelf-life) seperti gandum, barli, kurma, garam, beras, dan gula sebagai uang (Hosein 2007, 14-16). Standard emas berakhir tahun 1936 ketika negara-negara yang termasuk dalam gold block countries melepaskan standard emas. Tulisan ini akan menganalisa dan mengevaluasi secara kritis apa dan bagaimana sistem moneter internasional berkembang dari Bretton Woods hingga petro- dollar dan bagaimana prediksi masa depan sistem moneter internasional.

Pendekatan yang digunakan dalam tulisan ini dekat dengan interpretasi teori stabilitas hegemoni yang diperkenalkan oleh A.F.K Organski (2000, 6-16) bahwa hegemon adalah jinak dan perlu bagi stabilitas sistem internasional untuk membuat peraturan-peraturan dalam hubungan internasional dan memaksa kepatuhan terhadap peraturan- peraturan itu oleh negara-negara lain. Dan teori harus dapat memberikan kesempatan bagi kemungkinan hegemon ganas yang mengendalikan sistem moneter saat ini. Itu karena konfigurasi sistem moneter internasional dan petro-dollar yang berakar pada ide liberal institusionalis berfungsi sebagai instrumen untuk melanggengkan hegemoni dan keuntungan bagi AS (Gilpin 1987, 314-316).

Sistem moneter didefinisikan sebagai rangkaian peraturan dan undang- undang yang berhubungan dengan pengaturan dan pengendalian uang yang beredar dalam suatu negara. Dalam sistem moneter terdapat tiga unsur pokok, yaitu: standard uang, jenis-jenis uang, dan lembaga- lembaga penciptaan uang serta pengendalian uang. Oleh karena itu, dalam UU No. 7 tahun 1992 tentang perbankan yang telah diubah dengan UU No. 10 tahun 1998 pasal 1.2. sistem moneter terkait erat dengan perbankan karena pokok-pokok perbankan adalah lembaga keuangan yang memberikan kredit dan jasa-jasa dalam lalu-lintas pembiayaan dan peredaran uang. Pengertian bank menurut UU No. 7 tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan UU No. 10 tahun 1998 pasal 1.2. adalah “badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.” Dengan demikian, sistem moneter internasional adalah cara untuk mendesain stabilitas moneter internasional (inflasi, tingkat nilai tukar, dan tingkat bunga) dan keuangan (institusi keuangan dan regulasi) yang berlaku pada skala antar-negara.

Sistem moneter internasional dan sistem perbankan internasional adalah fenomena yang sangat unik dalam sejarah moneter dan ekonomi manusia. Dengan kata lain, tidak pernah di dalam sejarah manusia pernah mengalami ketidakadilan secara unik yang sekarang di alami dalam dunia uang dan perbankan (Hosein 2010, 17-18).Hal itu, mungkin, menjelaskan mengapa terjadi ketidaktahuan yang aneh atas realita perbankan dan uang modern. Dalam kaitan itu, seperti yang diprediksi Judy Shelton (1994, 6-10) uang-petro bahkan memainkan peran yang tidak wajar dalam sistem moneter baru yang akan muncul untuk menggantikan sistem yang ada saat ini, sebagai akibat dari ambruknya dollar AS yang tidak dapat dihindari (Hosein 2010; Shelton 1994). Hal itu karena di dalam sistem moneter internasional terdapat ‘kanker’ yang tertanam di dalamnya.
Kanker itu adalah ketika sistem moneter internasional mengeluarkan moralitas dari kebijakannya. Tidak ada hubungan antara uang dengan moralitas. Dengan demikian, sistem monetar internasional dan perbankan internasional telah memainkan peran yang tidak adil di dunia saat ini. Hal ini tidak cukup dijelaskan apabila kita membatasi diri untuk menjelaskannya murni dari analisis ekonomi dan moneter.

Terdapat pertanyaan-pertanyaan non-ekonomi dan moneter yang juga harus dijawab jika kita ingin memahami secara penuh subjek ini. Sebagai contoh, emas dan perak terus berfungsi secara sukses sebagai uang sepanjang sejarah peradaban manusia, hingga peradaban modern Barat muncul dengan agenda untuk menegakkan dominasinya di seluruh dunia (Jastram 2009, 189). Arnold Toynbee (1948, 166) secara jujur menyatakan bahwa “peradaban modern dunia Barat tidak lain dan tidak bukan bertujuan untuk menggabungkan seluruh umat manusia dalam sebuah masyarakat tunggal yang besar dan mengendalikan atas segala sesuatu yang ada di bumi, udara, dan laut…”Agenda itu tercermin dari penjajahan yang dilakukan negara-negara Barat terhadap banyak dunia non-Eropa melalui berbagai agresi militer fisik dan kini melalui imperialisme moneter internasional di mulai sejak akhir Perang Dunia II (Gokay 2006, 3-6).

Pertama, pasal-pasal persetujuan IMF melarang penggunaan emas sebagai uang. Hal itu dilakukan dengan melarang segala kaitan antara emas dengan berbagai macam mata uang selain daripada dengan dollar AS. Pasal 4, Bagian 2 (b) Pasal-pasal persetujuan IMF tahun 1944 dalam Pasal-pasal persetujuan IMF (1944) menyatakan:

…exchange arrangements may include (i) the maintanance by a member a value for its currency in terms of the special drawing right or another denominator, other than gold, selected by the member, or (ii) cooperative arrangements by which members maintain the value of their currencies in relation to the value of the currency of currencies of other members, or (iii) other exchange arrangements of a member’s choice.

Kedua, karena 70% stok emas dunia paska Perang Dunia II berada di tangan Amerika Serikat (AS), maka AS berani menentukan bahwa dollar AS sebagai mata uang internasional yang dikaitkan dengan emas.Hal ini misalnya terdapat dalam misalnya seperti yang tercantum pada IMF Articles of Agreement Pasal XXXI, Bagian 2 (d); IBRD Articles of Agreement Pasal II, Bagian 2 (a); Pasal XI, Bagian 2 (d); IDA Articles of Agreement Pasal 2, Bagian 2 (b); IFC Articles of Agreement Pasal 2, Bagian 2 (a), (b), Bagian 3 (c); dan Convention Establishing the MIGA Pasal 5 (a). Hanya dollar AS yang dapat ditukarkan dengan emas dengan kurs 1 ounce (=28,35 gram) emas seharga 35 dollar AS (Suwartoyo 1992, 321). Berdasarkan aturan ini, seluruh mata uang di dunia tidak dapat menukar emasnya begitu saja dengan emas, akan tetapi mereka harus mengaitkan mata uangnya pada dollar AS. Konsekuensi utama dari kebijakan ini adalah AS mendominasi dan mengatur mata uang dunia hingga tanpa diragukan lagi mereka menjadi negara adidaya.

Ketiga, karena AS merupakan satu-satunya negara yang mengaitkan kembali mata uangnya dengan emas maka mereka dapat mencetak uang terus menerus tanpa batas. Dengan kata lain, jumlah uang yang beredar tidak lagi disesuaikan dengan persediaan emas yang mereka miliki (Suwartoyo 1992, 322). Mereka dengan mudah dapat menciptakan kekayaan dari sesuatu yang tiada. Sistem Bretton Woods ini berakhir bulan Agustus 1971 ketika Presiden AS Richard Nixon melepaskan kaitan dollar dengan emas.

Keempat, AS menikmati pendapatan yang besar dari percetakan mata uang dollar dengan hanya mengandalkan seigniorage, yaitu selisih biaya cetak dengan nilai nominal uang (Kamasa 2012, 164).AS kemudian mendapatkan keuntungan begitu banyak akan komoditi dari negara- negara yang menggunakan dollar dalam transaksinya. Dengan kata lain, seigniorage mengirimkan kekayaan (penguasaan atas sumber-sumber alam dan kekuasaan (wewenang dan pengaruh) pribadi, perusahaan, dan pemerintah kepada korporatokrasi yang menciptakan uang fiat, yaitu uang kertas yang didasarkan atas dasar kepercayaan. Istilah korporatokrasi dicetuskan oleh John Perkins untuk menggambarkan tiga pilar aktor yang membentuk kebijakan luar negeri AS: perusahaan multinasional, bank internasional dan pemerintah (Perkins 2004, 77-83; & 2009, 35). Dikenal juga sebagai the financial ruling classes, yaitu mereka yang embeded dengan institusi keuangan yang menggerakkan mesin Wall Street. Mereka bukan hanya memiliki lobi atau koneksi kuat dengan Presiden AS, tetapi juga sangat menentukan dalam pengambilan kebijakan pemerintah untuk keuntungan mereka (Kamasa 2012).

Kelima, seluruh negara anggota IMF diwajibkan untuk menaruh 25% cadangan emas miliknya di IMF. Pasal XIII, Bagian 2 (b) Pasal-pasal persetujuan IMF menyatakan:

(b) the Fund may hold other assets, including gold, in the depositories designated by the five members having the largest quotas and in such other designated depositories as the Fund may select. Initially, at least one-half of the holdings of the Fund shall be held in the depository designated by the members in whose territories the Fund has its principal office and at least forty percent shall be held in the depositories designated by the remaining four members referred to above. However, all transfers of gold by the Fund shall be made with due regard to the costs of transport and anticiapted requirements of the Fund. In an emergency the Executive Board may transfer all or any part of the Fund‟s gold holding to any place where they can be adequately protected.

Isi perjanjian yang serupa terdapat juga di IBRD Articles of Agreement Pasal V, Bagian 11 (b). Aturan-aturan ini sesungguhnya sangat canggung, superfisial, dan memberikan kesan yang salah bahwa sistem moneter yang baru ini entah bagaimana dikaitkan dengan emas. Faktanya, emas yang ditaruh di IMF berfungsi semata-mata sebagai sarana agar negara-negara anggota dapat mencari pinjaman berbunga dari IMF dengan jaminan emas yang mereka taruh. Yang paling penting, dengan mematuhi kewajiban untuk menaruh emas itu, IMF akan mengetahui jumlah cadangan emas setiap negara anggota. Hal ini kemudian dipastikan lebih lanjut dengan kewajiban bahwa seluruh negara anggota harus melaporkan kepada IMF setiap penjualan dan pembelian emas yang mereka lakukan. Pasal VIII, Bagian 5 (a, i-iv) Pasal-pasal persetujuan IMFmenyatakan:

(a) The Fund may require members to furnish it with such information as it deems necessary for its activities, including, as the minimum necessary for the effective discharge of the Fund‟s duties, national data on the following matters:

(i) official holdings at home and abroad of (1) gold, (2) foreign exchange;
(ii) holdings at home and abroad by banking and financial agencies, other than official agencies, of (1) gold, (2) foreign exchange);
(iii) production of gold;
(iv) gold exports and imports according to countries of 
destination and orgin.

Keenam, hanya pemerintah, melalui bank sentral, Kementerian keuangan atau badan fiskal sejenis, yang dapat menukar dollar AS dengan emas. Rakyat biasa diwajibkan untuk menggunakan mata uang fiat dan tidak dapat menukar mata uang mereka dengan emas. Pasal V, bagian 1 dan Pasal XIV, Bagian 2 (a) Pasal-pasal persetujuan IMF menyatakan:

Each member shall deal with the Fund only through its Treasury, central bank, stabilization fund, or other similar fiscal agency, and the Fund shall deal only with or through the same agencies.

Each member shall designate its central bank as a depository for all the Fund‟s holdings of its currency, or if it has no central bank it shall designate such other institution as may be accepted to the Fund.

Dari enam implikasi di atas, terdapat dua pertanyaan yang harus dijawab apabila kita ingin memahami secara penuh sistem moneter internasional yang berlaku saat ini, dan belum banyak kajian akademis yang menanyakan dua pertanyaan yaitu mengapa IMF melarang negara anggotanya menggunakan emas sebagai uang? Mengapa hukum internasional melarang penggunaan emas dan perak sebagai uang? Mengapa IMF, yang dipengaruhi kuat oleh AS, begitu tertarik untuk mengetahui cadangan emas negara-negara di dunia?

AS mempunyai pengaruh yang kuat terhadap IMF karena enam alasan: (1) struktur keuangan IMF didasarkan oleh dollar AS; (2) Kementerian Keuangan AS menjalankan pengaruh yang kuat terhadap IMF; (3) AS menyediakan sebagian besar sumber daya yang dapat diberikan sebagai pinjaman dan secara efektif mengendalikan keputusan sebagian besarpinjaman; (5) AS merupakan negara dengan jumlah terbesar kuota (setoran iuran IMF); dan (6) kantor pusat IMF berada di Washington (Wallace 2006, 9-10).

Apa yang tidak diungkapkan adalah dollar AS akan tetap dapat ditukar dengan emas sepanjang AS masih nyaman untuk menghormati kewajiban hukum untuk melakukan hal itu. Dan bahayanya, jika Pemerintah AS dapat membatalkan kewajiban hukumnya untuk menukar dollar AS dengan emas seperti yang diatur dalam Pasal-pasal persetujuan IMF, mereka juga dapat menolak untuk mengembalikan 25% atau lebih dari emas dunia yang disimpan di AS sesuai dengan persyaratan dari IMF. Seperti yang telah diketahui bersama, Pemerintah AS telah meninggalkan kewajiban hukumnya untuk menukar dollar AS dengan emas karena mereka telah mencetak dollar AS melebihi persediaan emas yang ada. Mereka bahkan telah menolak audit emas milik dunia yang disimpan di AS.

Dengan demikian, jawaban singkat kedua pertanyaan tersebut adalah mungkin karena mereka yang merancang sistem moneter yang tidak adil ini dan mereka sendiri yang mengendalikan IMF memang ingin mengekalkan suatu sistem yang tidak berkeadilan. Dan itulah sebabnya mereka menaruh pada pasal-pasal persetujuan IMF larangan penggunaan emas sebagai uang dan simpanan emas dunia wajib mengalir kepadanya. Hal ini karena emas mempunyai nilai intrinsik dan berfungsi dengan jujur dan stabil sebagai alat tukar, pengukur nilai, dan penyimpan nilai di bandingkan dengan mata uang fiat, seperti dollar.

Banyak kajian seperti yang dibuat oleh Murray N. Rothbard (2009, 8- 14) dan Judy Shelton (2010, 509) menjelaskan bahwa emas mempunyai korelasi negatif dengan dollar. Apabila harga dollar naik maka harga emas turun. Apabila dollar mengalami penurunan maka emas akan terus meroket. Grafik di bawah ini tidak hanya mengisahkan harga emas tetapi ini adalah kisah dollar. Grafik ini menunjukkan pertumbuhan eksponensial harga emas dari tahun 1968-2013. Kenaikan harga emas terjadi mulai tahun 1971, saat terjadinya Nixon Shock. Sistem moneter fiat saat ini memerlukan lebih banyak dollar AS untuk membeli 1 troy ounce (=31,1035 gram) emas yang sama karena daya beli dollar jatuh secara konsisten. (Sumber: Frassminggi Kamasa, Direktorat Jenderal Amerika dan Eropa Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia)

Tabel-Gold-Fixing
Grafik 1. Pertumbuhan Eksponensial dari Harga Emas 1968- 2013. Area yang gelap mengindikasikan resesi AS (Sumber: http://research.stlouisfed.org – Updated 18/03/2015)

Di samping perannya dalam perekonomian, emas juga memegang peran penting dalam percaturan politik internasional. Contoh dari besarnya peran emas dalam politik tindakan Pemerintah AS yang menginvasi Irak dan Libya di tahun 2003 dan 2012 karena keduanya ingin menggoyang hegemoni moneter AS. Pada Oktober 2000, Irak mencoba menjual minyaknya dengan Euro (CNN 2000), sementara Libya pada tahun 2011 mencoba memperkenalkan dinar emas sebagai sebagai mata uang Afrika (Russia Today 2011). Di Indonesia, kita mengetahui bersama begitu berkuasanya Freeport MacMoran di Papua yang telah melakukan kejahatan lingkungan, kejahatan perpajakan, kejahatan etika dan moral, kejahatan kemanusiaan, dan kejahatan menguras kekayaan Indonesia lewat manipulasi administrasi dan menjadikan pusat pertambangan Freeport sebagai industri pertambangan misterius dan rahasia (Rais 2008, 161-163). Seperti diketahui bersama bahwa kompleks tambang emas Grasberg milik PTFI di Papua adalah yang terbesar di dunia dengan produksi sebesar 1,44 juta oz (=40,8 ton) emas di tahun 2011.

Kabut misteri dan keanehan larangan penggunaan emas yang telah dilarang dalam hukum internasional mulai terkuak ketika Presiden Prancis Charles de Gaulle, anggota senat AS Ron Paul, dan PM Malaysia Mahathir Mohamad mempertanyakan hal tersebut. Berikut ini dikemukakan kritik mereka terhadap sistem moneter yang berlaku sekarang.

Presiden Prancis Charles de Gaulle dalam konferensi pers pada bulan Februari 1965 mengatakan (Editorial of The New York Sun 2011):

…the fact that many countries accept as a principle that the U.S. dollar is as good as gold for paying the difference that exists in favor of the U.S. trade balance. This simple fact leads the Americans to get into debt and to get into debt for free at the expense of other countries, because what the U.S. owes them is paid, at least in part, with dollars that only they can create. Considering the serious consequences and the crisis that would arise under such a system, we think that measures must be taken in time to avoid it. We consider necessary that the international trade be established as it was before the great misfortunes of the world on an indisputable monetary base, one that does not bear the mark of any particular country. Which base? In truth, nobody can imagine, how one can have any real standard criterion other than gold…

Apakah konsekuensi serius dan krisis yang akan terjadi di bawah sistem moneter internasional yang telah Presiden Charles de Gaulle ingatkan di tahun 1965? Keruntuhan sistem moneter internasional yang mungkin lebih tepat di sebut sebagai ‘melelehnya uang’. The financial meltdown akan menjadi momen yang dramatis karena mereka yang mempunyai uang asli akan bertahan darinya dan para spekulator yang sukses mengeksploitasi melelehnya uang akan mendapatkan keuntungan yang sangat besar. Masyarakat luas akan kehilangan kekayaannya dan terjebak dalam kebangkrutan moneter. Mereka akan terperangkap dalam parade kertas yang tidak bernilai sebagai uang. Katastrofa sosial pun tidak terhindarkan.

Pada April 2002, anggota Senat AS Ron Paul mengirimkan surat seperti di bawah ini kepada Kementerian Keuangan AS dan the Federal Reserve Bank menanyakan mengapa IMF melarang mata uang yang didukung oleh emas bagi negara anggotanya (Paul 2008, 359).

Dear Sirs,

I am writing regarding Article 4, Section 2b of the International Monetary Fund (IMF)‟s Articles of Agreement. As you may be aware, this language prohibits countries who are members of the IMF from linking their currency to gold. Thus, the IMF is forbidding countries suffering from an erratic monetary policy from adopting the most effective means of stabilizing their currency. This policy could delay a country‟s recovery from an economic crisis and retard economic growth, thus furthering economic and political instability.

I would greatly appreciate an explanation from both the Treasury and Federal Reserve of the reasons the United States has continued to acquiesce in this misguided policy. Please contact Mr. Norman Singleton, my legislative director, if you require any further information regarding this request. Thank you for your cooperation in this matter.

Ron Paul
U.S. House of Representatives

Surat tersebut hingga saat ini belum pernah dijawab oleh Federal Reserve Bank (Bank Sentral AS yang merupakan milik swasta) dan Kementerian Keuangan AS karena memang tidak ada penjelasan jujur selain fakta bahwa uang asli (emas) akan menyingkirkan uang palsu (fiat).

Pada tahun 2004, PM Malaysia Mahathir Mohamad melancarkan kritik bahwa sistem moneter yang berlaku sekarang ini adalah tidak adil. Untuk menghapus ketidakadilan tersebut, ia mengusulkan agar dunia kembali pada emas dan perak sebagai alat tukar. Menurut Mahathir, penggunaan uang kertas telah memerangkap dunia terhadap agenda Barat yang coba menguasai dunia dengan menggunakan sistem keuangan yang berat sebelah. Kedua, penggunaan uang kertas telah menyebabkan kegiatan jual beli mata uang yang mengakibatkan ketidakadilan dalam sistem keuangan dunia. Ketiga, uang kertas tidak memiliki nilai intrinsik yang kemudian menyebabkan nilainya susut dengan kadar yang begitu besar (Mohamad 2009).

Berdasarkan berbagai implikasi dan kritik di atas diperoleh berbagai kemungkinan alasan pelarangan penggunaan emas dan ketertarikan AS untuk mengetahui cadangan emas negara-negara di dunia sebagai berikut. (1) Untuk mencegah kemungkinan emas digunakan sebagai uang yang dapat mengancam dan menyebabkan melelehnya sistem moneter fiat; (2) Ketika negara-negara anggota IMF menaruh 25% cadangan emasnya pada IMF dan mereka mulai mengambil berbagai pinjaman dari IMF yang dilindungi dengan emas, maka akan menjadi mungkin bagi mereka untuk terus menyimpan lagi cadangan emas mereka pada IMF. Dengan melakukan hal yang demikian maka mereka telah memberikan informasi strategis mengenai cadangan emasnya; (3) Apabila mereka menyimpan emasnya maka bagaimanapun juga mereka tidak dapat menggunakannya untuk hal-hal yang dapat menguntungkan mereka. Dan dengan demikian ketentuan Pasal-pasal persetujuan IMF telah membuka jalan bagi AS pada akhirnya dipercaya dengan menyimpan sebagian besar cadangan emas dunia.

Minyak_Indonesia

Berakhirnya Sistem Moneter Bretton Woods
Amerika Serikat (AS) terikat dalam hukum internasional untuk menukar dollar AS dengan emas dengan kurs $35 per troy ounce. Oleh sebab itu adalah perbuatan yang ilegal dan immoral bagi AS untuk menerbitkan lebih banyak dollar daripada yang dapat mereka tukar dengan emas. Dan seperti diketahui bersama, di dalam sistem Bretton Woods, setiap uang yang dicetak diciptakan dari hutang (Mishkin 2008, 445-447, 457). Hal itu persis yang dilakukan oleh Pemerintah AS untuk membiayai Perang Vietnam.

Tekanan dan tantangan dari negara-negara, utamanya Prancis dan negara-negara Arab penghasil minyak kepada AS, terhadap sistem Bretton Woods bersama dengan beban biaya Perang Vietnam dan gejolak minyak pada tahun 1973 berperan sebagai katalisator yang substansial bagi berakhirnya sistem Bretton Woods. Tekanan itu terjadi karena defisit pada neraca pembayaran internasional.

Neraca pembayaran mempengaruhi kurs mata uang lokal terhadap dollar AS karena dari neraca pembayaran akan terlihat besarnya permintaan dan penawaran mata uang dollar AS. Jika posisi neraca pembayaran sedemikian rupa sehingga lebih banyak kewajiban membayar ke luar negeri daripada penerimaannya, permintaan dollar akan bertambah dan berarti nilai mata uang lokal menurun. Dan begitu juga sebaliknya. Anggaran penerimaan negara-negara, yang melakukan transaksi dengan dollar AS, menjadi lebih kecil dari anggaran yang mereka keluarkan karena nilai dollar yang terus menurun akibat perilaku AS yang menciptakan kekayaan dari sesuatu yang tiada (Kamasa 2012, 131-140, 173-176).

Neraca pembayaran dalam standar emas yang artifisial seperti pada Bretton Woods menuntut AS untuk displin dan hati-hati dalam pengeluaran dan peredaran uangnya. Pertama-tama, karena peredaran dollar yang terlalu besar akan menurunkan rasio antara besarnya persediaan emas dan jumlah dollar yang beredar. Menurunnya rasio ini akan menurunkan pula kepercayaan masyarakat pada dollar, yang akhirnya menyebabkan semua orang menukar dollarnya dengan emas. AS yang terancam kehabisan persediaan emas, menyadari bahwa hal ini dapat mematikan sistem yang sedang berjalan.

Kedua, peredaran dollar yang berlebihan mengakibatkan inflasi; selanjutnya ekspor akan merosot, sedang impor meningkat; hal ini akan mengakibatkan neraca perdagangan cenderung defisit. Neraca pembayaran AS telah defisit di tahun 1968, dan sepanjang tahun 1960 jarak antara kurs dollar dengan emas ($35) dan harga emas di pasar terbuka terus melebar. Hal itu memberikan tekanan yang luar biasa pada negara-negara untuk membeli emas dari AS dengan kurs $35 dan menjualnya kepada pasar terbuka. AS tidak dapat menyanggupinya karena stok emas AS turun hingga mencapai batas psikologis di bawah $10 milyar akibat moral hazard dari pencetakan dollar (Shelton 1994).

Grafik 2. Transaksi Berjalan Neraca Pembayaran AS surplus/defisit sebagai % dari PDB (keduanya dalam nominal dollar) 1958-2009

US_PDB
(Sumber: Bureau of Economic Analysis)

Tabel 1. Penurunan dollar AS dibandingkan dengan harga emas.

Tabel Emas_Dollar

Mengetahui permainannya telah terkuak, Presiden Richard Nixon secara unilateral mengakhiri sistem Bretton Woods pada 15 Agustus 1971 (Judisseno 2005, 67-68). Presiden Nixon menyebut tindakan para “spekulator” sebagai alasan pengingkaran kewajibannya daripada mengakui ketidakmampuan, atau lebih tepat disebut sebagai kejahatan moneter, AS untuk memenuhi kewajibannya dalam Pasal-pasal persetujuan IMF. Menurut Joanne Gowa hal itu dilakukan karena Pemerintahan Nixon mempunyai konsensus akan keutamaan otonomi nasional di atas pemeliharaan rezim standard moneter internasional (Gowa 1983, 13, 190).

Grafik 3. 92% devaluasi nilai dollar dalam 65 tahun

Deavaluasi Dolar_65
Sumber: http://www.surlytrader.com/devaluation-of-the-dollar/

Hal itu pada gilirannya memberikan AS kebebasan untuk mendevaluasi mata uang dollar dan menjalankan defisit secara besar-besaran (Kadlec 2012). Devaluasi itu dilakukan AS karena nilai dollar menciut terhadap nilai emas. Menciutnya nilai dollar ini dilakukan akibat memburuknya situasi ekonomi AS yang ditandai dengan besarnya angka inflasi. Sejak Nixon shock, AS mengalami inflasi yang terburuk dalam sepanjang sejarah mereka dan ekonomi yang paling stagnan sejak Depresi Besar pada era 1930-an (Lehrman 2011). Inflasi ini mengakibatkan daya beli dollar AS yang disimpan di tahun 1971 jatuh seharga 18 sen di tahun 2010, jatuh sebesar 81%, atau kehilangan 92% dari daya beli aslinya sejak 1944-2009. Dan karena dollar berkorelasi negatif dengan emas maka harga emas terus meroket dari $35 di tahun 1971 menjadi $1.700 per troy ounce di tahun 2011.

Grafik 4. Penurunan daya beli dollar

Dolar Decline
Sumber:http://online.wsj.com/news/articles/SB10001424053111904007304576494073 418802358

Dengan praktek semacam ini, AS telah melanggar prinsip dasar pacta sunt servanda yang menjadi inti hukum internasional dan hubungan internasional. Pacta sunt servanda adalah prinsip yang mensyaratkan bahwa kesepakatan yang telah ditandatangani harus dipenuhi. Ketidakadilan dan ketidakbebasan dalam sistem moneter ini secara aneh dan misterius masih diterima oleh negara-negara di dunia sebagai sistem moneter internasional yang menentukan hajat hidup orang banyak.

Sistem ini merusak tatanan pasar yang bebas dan adil karena setiap persetujuan yang menyaratkan bahwa emas hanya dapat dijual dengan dollar AS merupakan pelanggaran terhadap pasar yang bebas. Dan karena dollar AS tidak dapat lagi ditukar dengan emas maka hal itu juga merupakan pelanggaran terhadap pasar yang adil.

Adalah hal yang menakjubkan mengetahui bahwa sedikit negara yang pernah merespons sejak tahun 1944 dan hingga saat ini, Pasal-pasal persetujuan IMF, untuk menunjukkan bahwa emas sejak dari dulu digunakan sebagai uang dan apabila dilarang maka itu merupakan perbuatan yang mengingkari eksistensi emas sebagai penyimpan nilai yang telah bertahan ribuan tahun. Adalah hal yang juga menakjubkan bahwa banyak negara yang gagal mengetahui karena uang yang mempunyai integritas adalah uang yang selalu mempunyai nilai intrinsik, maka moralitas telah ditinggalkan ketika uang dengan nilai intrinsik digantikan dengan uang fiat.

Dan dua tahun setelah berakhirnya Bretton Woods, AS mulai melakukan manuver yang mengagetkan dunia. Pada saat berlangsungnya Perang Arab Israel pada Oktober 1973 yang bersamaan dengan embargo minyak Arab kepada AS, muncullah sistem moneter petro-dollar menggantikan sistem Bretton Woods. Apa dan bagaimana sistem tersebut?

Lahirnya Sistem Petro-Dollar, Lautan Minyak Berfungsi Sebagai Emas
Apa yang terjadi setelah Nixon shock adalah berakhirnya konvertibilitas superfisial dollar pada emas dan berlakunya sistem petro-dollar, yaitu konvertibilitas dollar AS kali ini dikaitkan dengan lautan “emas hitam”. Dengan kata lain, berlakunya sistem petro-dollar adalah karena lautan minyak bumi yang kini berfungsi sebagai emas.

AS menginginkan minyak berfungsi sebagai emas dalam sistem moneter petro karena mengetahui bahwa dunia yang terus mendesak penukaran akumulasi dollar mereka dengan emas akan meruntuhkan sistem Bretton Woods dan mengakhiri hegemoni dan keuntungan bagi AS.

Pada tahun 1970-an terlihat bangkitnya kekuatan ekonomi di Arab Saudi dan negara-negara pengekspor minyak lainnya di Jazirah Arab. Perang Arab-Israel pada tahun 1973 membuka kesempatan bagi negara- negara Arab yang kaya minyak untuk menekan negara-negara Barat yang pro-Israel, terutama AS. Pada tanggal 19 Oktober 1973, Arab Saudi memerintahkan penurunan produksi sebanyak 25% dan memulai politik embargo minyak terhadap AS dan beberapa negara industri utama lain(Suwartoyo 1992, 482). Tindakan tersebut diikuti negara-negara Arab lain. Kepanikan timbul di kalangan pengusaha-pengusaha pengilang minyak internasional dan negara-negara industri yang sangat tergantung pada minyak, dan mengakibatkan makin melonjaknya harga. Harga minyak mengalami peningkatan sebesar 400% dari $3 menjadi $12 per barel dalam satu tahun sejak dimulainya perang Yom Kippur yang bersamaan dengan politik embargo minyak terhadap AS (Hosein 2010).

Kenaikan harga minyak ini tidak hanya menguntungkan perusahaan- perusahaan minyak AS dan Inggris tetapi juga, yang lebih penting, negara-negara Arab penghasil minyak pada umumnya. Hal ini menciptakan peluang yang kemudian secara cerdas dieksploitasi oleh AS untuk mencari jalan mengganti sistem moneter superfisial yang berdasarkan emas dengan sistem moneter baru yang berdasarkan minyak bumi.

Menlu AS Henry Kissinger sukses bernegosiasi dengan Raja Faisal dari Arab Saudi pada awal 1974 untuk mendapatkan kesepakatan yang mensyaratkan minyak dijual hanya dengan dollar AS (Spiegel 1985, 267). Kesepakatan ini membuat Arab Saudi menjadi begitu kaya dan kemudian membujuk negara-negara Arab penghasil minyak lainnya untuk bergabung. Ini adalah kelahiran dari petro-dollar.

Pada tahun 1975 negara-negara OPEC setuju untuk memberikan harga ekspor minyaknya hanya dengan dollar AS. Karena minyak adalah barang yang berharga bagi suatu negara dan karena kebanyakan negara adalah importir minyak, maka persetujuan ini menciptakan permintaan yang terikat pada mata uang dollar di pasar global. Keadaan ini membawa pada overvaluation dollar AS di pasar uang internasional. Dan oleh sebab itu, nilai dollar AS sekali lagi secara artifisial bertahap naik, diperkuat, dan dipelihara (Iseri 2009, 139).

Diplomasi Kissinger berhasil mendapatkan persetujuan bahwa penghasilan tambahan (windfall profit) yang kini datang kepada negara-negara Arab penghasil minyak akibat dari meroketnya harga minyak sebagai konsekuensi dari merosotnya nilai dollar AS akan diinvestasikan di bank-bank internasional dalam bentuk deposito berjangka. Negara-negara Arab akan menginvestasikan petro-dollar dalam bentuk surat-surat utang Pemerintah AS, misalnya.

Hal itu dinamakan oleh Kissinger sebagai daur ulang petro-dollar (Engdahl 2003, 3-4) yaitu pendaurulangan aset-aset kekayaan petro- dollar negara-negara pengekspor minyak kepada negara-negara pengimpor minyak untuk membeli minyak hanya dengan dollar AS. Uang petro dari negara-negara pengekspor minyak tersebut kemudian akan menjadi sumber pembiayaan esensial bagi perekonomian pasar maupun industri yang berkembang di seluruh dunia. Konsekuensi logisnya, pasar keuangan internasional kembali dikendalikan oleh dollar AS yang dikaitkan dengan minyak. Dengan cara demikian, petro-dollar telah merubah mereka menjadi tengkulak yang menawarkan faidah.

Quid pro quo dari persetujuan ini adalah perjanjian pertahanan rahasia di mana AS akan menjamin keamanan rezim Saudi, keamanan ladang minyak, dan juga suplai senjata (Engdahl 2004, 150-156). Mengingat Perang Dingin berlaku pada masa itu dan terdapat kemungkinan bahwa Uni Soviet berusaha untuk membiayai revolusi yang akan menggulingkan para monarki Arab dari tahtanya, maka ini merupakan diplomasi yang brilian dari Kissinger.

Raja Arab Saudi nampaknya tidak menyadari bahwa ia telah menandatangani perjanjian yang abnormal. Sebagai akibat dari persetujuan tersebut, maka minyak berfungsi sebagai emas atas nama dollar AS. Persetujuan ini benar-benar bertentangan dengan prinsip pasar yang bebas dan adil. Setiap persetujuan bahwa minyak hanya dapat dijual dengan dollar AS merupakan pelanggaran terhadap pasar yang bebas. Dan karena dollar AS tidak dapat lagi ditukar dengan emas maka hal itu juga merupakan pelanggaran terhadap pasar yang adil. Dengan sistem petro-dollar, AS tidak lagi memperhatikan hubungan antara cadangan emas dengan jumlah sirkulasi dollar AS. Harga emas dapat terus naik tanpa menimbulkan ancaman nyata bagi dollar AS. Sejak tahun 1975, harga resmi emas sepenuhnya diserahkan kepada mekanisme pasar. Sejak itu pula harga emas meroket dari $35 per troy ounce (oz) di tahun 1971 hingga mencapai $1.800 di tahun 2012.

Dengan sistem petro-dollar ini pula, AS mendapatkan tiga keuntungan dengan segera.Pertama, sistem ini meningkatkan permintaan dollar AS secara global. Kedua, sistem ini meningkatkan permintaan surat-surat utang AS. Ketiga, sistem ini membolehkan AS untuk membeli apapun, utamanya minyak bumi sebagai komoditi utama dunia, dengan dollar yang dapat ia cetak sebanyak mungkin. Bahaya terbesar dari sistem moneter petro adalah membiarkan mereka yang mengendalikan sistem perbankan dunia untuk menciptakan uang sebanyak mungkin yang mereka inginkan. Uang (kekayaan) kemudian dapat digunakan untuk mengeksploitasi mereka yang melawan the financial ruling class dan memperkaya mereka yang mendukungnya. Faktanya, banyak orang di dunia sudah hidup dalam keadaan yang sengsara akibat imperialisme moneter.

Pandangan Dari Masa Depan
Menurut Adam Smith, kisah tentang uang, kebanyakan adalah kisah tentang penipuan dan kecurangan yang dilakukan oleh penerbit uang (Shelton 1994, 165).Sistem moneter saat ini menggunakan uang artifisial untuk mengantikan uang asli . Hal itu adalah manifestasi penipuan dan kecurangan (fraud). Uang artifisial sangat berbeda dengan uang asli karena uang asli mempunyai nilai intrinsik, sedangkan uang artifisial tidak. Satu-satunya nilai dari uang artifisial diberikan kepadanya oleh kekuatan-kekuatan pasar. Nilai pasarnya akan bertahan sepanjang dan hingga ada kepercayaan publik dan permintaan terhadapnya di pasar. Permintaan itu sendiri berdasarkan kepercayaan, dan kepercayaan adalah sesuatu yang dengan mudah dapat dimanipulasi atau direkayasa (Judy 1994, 340). Indonesia mengetahui kenyataan ini dengan cara yang pahit ketika mengalami krisis moneter tahun 1997. Segala sesuatu yang secara serius menganggu kepercayaan publik akan menyebabkan gelombang spekulatif yang akan menyebabkan melelehnya uang artifisial (dalam bentuk kertas, plastik, dan uang elektronik). Soft currencies, seperti rupiah, akan bubar apabila hard currencies, seperti dollar, meleleh.

Selama ini AS terus mengulur waktu mencegah melelehnya dollar. Skenario ‘kiamat’ tersebut untuk sementara waktu dicegah dengan quantitative easing (QE). QE adalah penciptaan uang dengan cara injeksi likuiditas ke sistem perbankan yang terancam bangkrut karena praktek kejahatan perbankan yang ugal-ugalan (imprudent) (Mahathir 2011). Dengan berlakunya QE 1, 2, 3, dan 4 sejak 2008 hingga 2012 yang berjumlah total sekitar $7 triliun maka AS tidak perlu lagi mencetak uang kertas karena hal tersebut merupakan suatu proses yang rumit dan membutuhkan banyak biaya. Yang Federal Reserve Bank butuhkan adalah cukup menulis satu cek dan menyerahkan cek itu kepada bank. Apabila cek itu sampai ke bank ia masih belum menjadi bentuk uang. Hanya setelah bank meminjamkan nilai cek itu dan orang ramai meminjamnya dari bank dan akan ada kontrak yang sah untuk membayar pinjaman maka itu akan menjadi uang. Sebagian dari uang dalam sistem moneter yang ada sekarang terjadi dengan proses demikian.

Konsekuensi logis dari guyuran QE ini adalah hutang AS akan semakin menggunung. Pada tahun 2013, utang AS sudah mencapai $15,977 triliun (sekitar Rp 150 kuadriliun) dan menyebabkan penutupan pemerintahnya selama 16 hari. Dan Pemerintah AS sepakat untuk menaikkan pagu utangnya dari $14,300 triliun menjadi maksimal $16,700 triliun yang berarti uang baru dapat terus diciptakan hingga mencapai batas pagu untuk kemudian dibuat batas pagu yang baru lagi demikian dan seterusnya.

Apabila AS gagal membayar utang dan defisit anggarannya maka ia akan mengalami gagal bayar. Seperti yang ditulis oleh Ralph Benko (2011) dan Judy Shelton (2009) jika AS gagal bayar maka akan muncul katastrofa dunia keuangan global dan semakin membuat dollar AS meleleh (kehilangan nilainya). Dan sebagaimana diketahui bersama, daya beli dollar AS telah meleleh hingga 92% dalam kurun waktu 65 tahun (1944-2009).

Persiapan Dan Peringatan Bagi Muslim dan Masyarakat Umum
Dengan demikian besar kemungkinan, melelehnya dollar akan membawa keruntuhan kepada seluruh mata uang kertas di dunia karena saat ini lebih dari 60% dari seluruh cadangan mata uang asing dalam bentuk dollar. Apabila dollar mulai tidak berlaku (demonitized), makan sistem uang fiat akan bubar dan memunculkan sistem keuangan yang baru. Sistem keuangan yang baru adalah dalam bentuk uang elektronik, ketika uang tidak dapat dilihat dan tidak dapat dipegang. Faktanya, era tanpa uang tunai ini sudah muncul saat ini dengan variasi namanya. Uang elektronik kini ini sudah menguasai 70% sistem keuangan dunia dan digunakan terutama pada transaksi uang dalam jumlah besar sementara uang kertas tetap dipergunakan untuk transaksi skala kecil.

Sistem moneter elektronik ini tidak lagi membutuhkan alat cetak, tinta, dan kertas. Yang dibutuhkan ialah keahlian dalam mengetik data masuk dan data keluar. Dengan sistem ini, otoritas moneter mengetahui berapa banyak uang yang dimiliki oleh warga, darimana didapatkan, untuk apa digunakan, dan ke mana saja dipergunakan. Ini adalah bentuk sistem spionase keuangan yang sangat canggih dan terencana dengan hebat. Selain itu, uang jenis ini mempunyai bahaya yang lebih besar dibandingkan sistem moneter sebelumnya karena dasar transaksi hanya pada transfer dan nilai uang dapat dibuat dan diubah dari ketikan byte di komputer. Dan setiap saat otoritas moneter dapat menutup rekening warga yang tidak nyaman dengan sistem ini. Trend ini adalah ancaman bentuk kediktatoran moneter yang harus diantisipasi dan diwaspadai. (Sumber: Frassminggi Kamasa, Direktorat Jenderal Amerika dan Eropa Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Editor: Abbas Firman)

Categories