
Tolol Kalau Hanya Bubarkan DPR
MUSTANIR.net – Mestinya Bubarkan Demokrasi, Terapkan Sistem Islam
Pernyataan Ahmad Sahroni, Wakil Ketua Komisi III DPR RI, bikin gaduh di media sosial. Dia katakan, “Orang yang cuma mental bubarin DPR itu orang yang tolol sedunia.” Kalimat yang terdengar pongah, penuh kesombongan politisi yang sudah keenakan duduk di kursi empuk parlemen.
Namun jika yang dia maksud ‘tolol’ itu yang hanya ingin membubarkan DPR tapi masih membiarkan diterapkannya sistem demokrasi, itu benar. Kita sepakat. Karena memang betul, siapa pun yang berpikir bahwa dengan membubarkan DPR semua masalah negeri akan selesai, itu adalah ketololan.
Mengapa?
Karena DPR adalah produk dari sistem demokrasi. DPR lahir dari rahim demokrasi. Dan seperti pepatah, ‘jangan salahkan buah busuk kalau pohonnya memang busuk’. Demokrasi adalah pohon yang busuk itu.
Apakah dengan menebang cabangnya masalah selesai?
Tidak. Selama akarnya masih menancap, pohon itu akan tumbuh lagi. Itulah demokrasi. Ia sistem sampah yang terus melahirkan produk-produk busuk yakni DPR korup, penguasa serakah, rakus, dzalim, ketimpangan sosial menganga tajam, moral bangsa rusak, dsb.
Bukankah Allah sudah mengingatkan dalam al-Qur’an?
اَفَحُكۡمَ الۡجَـاهِلِيَّةِ يَـبۡغُوۡنَؕ وَمَنۡ اَحۡسَنُ مِنَ اللّٰهِ حُكۡمًا لِّـقَوۡمٍ يُّوۡقِنُوۡنَ
Artinya: “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS al-Maidah: 50)
Demokrasi adalah hukum jahiliyah modern, yang disulap dengan jargon manis yang bernama kedaulatan rakyat, kebebasan, dsb.
Maka benar kata Sahroni jika yang dimaksud tolol, kalau hanya berpikir cukup bubarkan DPR. Karena DPR hanyalah bayangan, sedangkan tubuh asli yang mesti dibinasakan adalah sistem demokrasinya.
Kalau begitu, siapa yang cerdas?
Orang cerdas adalah mereka yang berani berkata, “Campakkan demokrasi sekuler-kapitalis, ganti dengan sistem Islam yang berasal dari Dzat yang Maha Sempurna, Allah subḥānahu wa taʿālā.”
Dengan itu, DPR tidak perlu dibubarkan. Ia akan hilang dengan sendirinya bersamaan diterapkannya sistem Islam menggantikan demokrasi.
Jadi, kalau ingin menyelesaikan masalah bangsa ini, jangan lagi terjebak pada ilusi bubarkan DPR, ganti wajah anggota, perbaiki regulasi. Semua itu hanya tambal sulam pada kain yang sudah koyak di sana sini.
Ketololan terbesar justru ketika kita percaya pada sistem bobrok ini dan berharap ia akan membawa kebaikan. Sedangkan kecerdasan tertinggi adalah ketika kita berani melawan arah, membuang demokrasi ke tong sampah sejarah, lalu kembali kepada syariah Islam secara kaffah.
Itulah cara cerdas, bukan ketololan.
Allahu a’lam bishawab. []
Sumber: Abu Miqdad
