Cara Mengubah Sistem dan Perang Pemikiran

MUSTANIR.net – Realitas, kenyataan, sistem sosial, sistem politik, itu diciptakan oleh pikiran. Itu kata filsuf Plato. Maka, kita bisa mengubah realitas, kenyataan, sistem sosial dan sistem politik dengan mengubah pikiran kita.

Maka, untuk mengubah sistem yang buruk, ubahlah pikiran orang-orang agar berpikir bahwa sistem itu buruk, maka semuanya akan melihat dan merasakannya buruk.

Caranya, suguhkan terus fakta-fakta keburukannya. Tapi itu belum cukup karena orang umumnya tak menganggap sesuatu buruk bila dikatakan orang lain. Secara psikologis, orang hanya akan mengakui dan yakin sesuatu fakta bahwa itu buruk bila merasakannya sendiri.

Itulah pikiran sehat tentang perubahan sistem dan hanya dengan itulah sistem bisa diubah. Makanya, sebuah sistem sosial politik umumnya tak berlangsung sebentar tapi ratusan tahun. Mengapa? Karena itu menyangkut evolusi berpikir manusia dan penyuguhan fakta-fakta yang terbentuk lama dalam proses sejarah.

Bagaimana dengan revolusi? Itu kan berlangsung sebentar, revolutif bukan evolutif. Iya, revolusi hanya akan terjadi bila mayoritas orang menganggap sebuah sistem itu buruk dan sudah tak tahan dengan keburukannya. Dasar, sebab dan sumbernya, ya pikiran lagi, pikiran publik.

Pertempuran pikiran publik ini dalam nomenklatur Islam dikenal sebagai ‘ghazwah al-fikr’ (perang pemikiran). Dan hidup ini hakikatnya adalah perang pemikiran dari berbagai ideologi. Sadar tidak sadar itu berlangsung sepanjang zaman.

Bagi kaum beriman, Allah dalam kitab suci-Nya, al-Qur’an, sudah mengingatkan sejak 15 abad yang lalu:

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).’ Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.”

Tak beriman kepada Allah dan al-Qur’an? Mau kafir atas ayat ini? Silakan. Jangankan hanya satu ayat, mau pada semua ayat Qur’an juga boleh, bebas, silakan.

Hanya, catat ini, iman atau tidak pada ayat itu, faktanya, sejarah dunia telah berlangsung sebagai sejarah peperangan antar umat manusia yang membenarkam firman Allah tersebut.

Yang memilih hidup ingin damai-damai saja dan berfantasi hidup yang benar adalah hidup yang damai, faktanya akan dipaksa masuk dalam peperangan itu, sadar tidak sadar, setuju atau menolak. Kalau hidup adalah perdamaian, Allah pasti tak akan menciptakan Iblis dan hawa nafsu. Dalam diri saja, selalu terjadi peperangan abadi antara iman, kesadaran, dengan hawa nafsu.

‘Ala kulli hal, agar hidup ini bermakna, ambillah bagian dan peran dalam perang pemikiran itu. Diam adalah kematian dan ketakbermaknaan!

Dalam perang, gunakanlah senjata yang ampuh dan dashyat. Apa itu?

Kecerdasan, argumentasi dan daya kritis. Bukan hujatan, klaim-klaim atau teriakan tak berisi. []

Sumber: Moeflich H Hart

About Author

Categories