Dai Penumpah Darah

Dai Penumpah Darah

Oleh: Fajar Shadiq

“Kalau dalam Islam yang kaya gini (berdemonstrasi), nasehatin suruh bubar. Masih gak bubar, perintahkan lagi. Masih gak mau bubar perintahkan lagi. Gak mau tiga kali Tumpahin darahnya… Ini sampah masyarakat. Tumpahin darahnya biar cepet, khawarij kok. Bughot. Lumayan mengurangi kepadatan penduduk di Jakarta.”

Dan ironisnya, hadirin pun tertawa. (Potongan ceramah Riyad Bajrey yang diselenggarakan oleh komunitas Bali Mengaji)

“Kencingi sumur zam-zam, maka kau jadi terkenal.” Demikian bunyi pepatah kuno bangsa Arab. Pesannya, siapapun yang hendak jadi orang terkenal dan dibicarakan banyak orang dia hanya perlu melakukan tindakan-tindakan kontroversial. Seperti mengencingi mata air sumur zam-zam, misalnya.

Rupanya kaidah inilah yang dipegang teguh seseorang bernama Riyadh Bajrey. Untuk selanjutnya kita sebut saja RB. Dalam ceramahnya pada November 2014, yang kemudian kembali viral setelah tersebar di media sosial belakangan ini, RB berfatwa bahwa demonstran boleh dibunuh atau ditumpahkan darahnya. Alasannya, karena demonstran adalah khawarij, sampah masyarakat dan dapat mengurangi kepadatan penduduk.

Awalnya, saya tidak terlalu tertarik untuk membahas RB. Sebab, membahasnya sama dengan membuat dia semakin dikenal. Menurut teori publikasi, langkah awal untuk bisa dikenal ialah dibicarakan banyak orang. Bahkan, saya baru meminta dan mengunduh videonya saat saya memulai tulisan ini, meskipun video ceramah RB sudah beredar dua pekan sebelumnya di media sosial.

Lagi pula, video kontroversial semacam ini tak perlu banyak dianggap apalagi disimpan di dalam memori. Terlalu mubazir menyimpan ucapan ‘orang yang gemar kencing sembarangan’ pada server penyimpan data di kepala kita. Masih banyak informasi atau ceramah lain yang lebih bermanfaat untuk disimpan dan diingat-ingat.

Untuk menyebutnya sebagai sesuatu hal yang kontroversial, saya pun tak perlu harus tabayyun langsung kepada RB. Cukup bandingkan saja lontaran isi ceramahnya dengan fatwa jumhur ulama atau UUD 1945 tentang kebebasan menyampaikan pendapat di muka umum.

Tapi melihat arogansi RB yang menolak rujuk dari isi ceramahnya saat diklarifikasi oleh sejumlah orang di pelbagai forum akhirnya membuat saya gerah juga. Rasanya ingin membuat catatan terkait fenomena di akhir zaman. Yaitu munculnya para dai penumpah darah.

Saya tidak akan berbicara banyak untuk membantah substansi ceramah RB terkait hukum demonstrasi, penjelasan soal khawarij, bughot, atau cara menasehati penguasa. Biarlah itu bagian para asatidz yang punya kapabilitas untuk memaparkan perkara itu. Saya yang jurnalis, melihatnya dari sudut pandang yang lain saja.

Sejak revolusi Arab Spring melanda sejumlah kawasan dunia Islam,wabilkhusus Timur Tengah, aksi demonstrasi menjadi alat perlawanan utama pada penguasa lalim. Rezim totalitarian kerap menghadapi para massa demonstran dengan cara represif. Hingga akhirnya banyak nyawa tertumpah. Tapi bukannya surut, kematian kawan dan saudara seperjuangannya oleh militer sebagai alat penguasa justeru semakin memantik api perlawanan. Itu pula yang terjadi di Indonesia pada 1998, sehingga melengserkan rezim Orde Baru yang berkuasa selama 32 tahun.

Maka dari itu, penguasa pun memakai alat baru. Jika pendekatan kekerasan (hard power) tidak lagi bekerja, mereka beralih memakai pendekatan lunak (soft power). Di antaranya ialah lidah para ulama suu. Dengan sejumlah fatwa yang menjilat dan menyangga tegaknya singgasana para penguasa, mereka meruntuhkan moral umat yang awam melalui pelintiran ayat dan sabda Nabi SAW. Akhirnya, umat pun dikerjai dua kali. Dizalimi penguasa, dibegal ulama suu.

Paradoks
Orang boleh protes membaca judul tulisan ini. “Dai Penumpah Darah”. Apakah RB bisa dikategorikan sebagai salahsatu dai sebenar-benarnya dai penyeru umat? Apakah ada dai yang dengan mudahnya menghalalkan darah kaum muslimin?

Memang di sini kita dapati sebuah paradoks. Kalau merujuk kata dai dalam Al-Quran, setidak-tidaknya kita memahami bahwa para dai ialah para pemilik perkataan terbaik. Itu tercermin pada QS Fushilat: 33 atau dalam QS An-Nahl: 125. Sayangnya, RB malah jauh dari sifat “hikmah dan mauizah hasanah” serta “ahsanu qaulan”.

Meski agak berlebihan, saya jadi ingin membandingkan RB dengan orang-orang yang kerap dituduh oleh RB dan kaumnya sebagai khawarij modern. Ya, kaum salafi rasmiyyah seperti RB kerap menuduh FPI, Ikhwanul Muslimin, Hamas dan mujahidin Suriah sebagai khawarij karena aktivitas jihad dan amar makruf nahi munkarnya.

Suatu ketika saya pernah bertemu dengan Syaikh Khalid Misyalhafizahullah. Ketua Biro Politik Hamas ini adalah salahsatu target utama Mossad. Ia beberapa kali pernah mengalami percobaan pembunuhan, namun Allah SWT masih memberi perlindungan kepadanya hingga kini. Dalam sebuah perjalanan udara dari Qatar ke Istanbul, saya melihat Khalid Misyal sebagai pria yang sangat santun dan berakhlak. Jauh dari tudingan khawarij dan ahlubid’ah sebagaimana yang dituduhkan orang-orang salafi rasmiyyah kepadanya. Tutur katanya santun, ramah, bahkan menghadiahi kami minyak wangi sebagai cinderamata tanda persahabatan.

Selama perjalanan, ia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bertadarrus Al-Quran. Dalam Kitab Sarh Riyadhus Shalihin 3/77, Umar bin Khattab radhiyallahu anhu pernah menjadikan safar sebagai cara untuk mengetahui karakter seseorang. Coba saja lihat karakter RB dan para dai semacamnya ketika Anda sedang safar bersamanya. Apakah mereka bertadarus Al-Quran atau justeru merumpi tentang poligami?

Di kesempatan lain lagi, saya pernah menjumpai Syaikh Abdullah Al-Muhaisini. Ulama mujahid kelahiran Saudi ini pun kerap dijuluki ‘anjing-anjing neraka’ oleh kaum salafi rasmiyyah. Padahal, air mukanya sangat teduh memancarkan aura kesalehan. Ia beberapa kali terluka parah akibat terlibat serangan Rusia dan rezim Bashar Assad di Suriah, namun Alhamdulillah hingga kini Allah SWT masih menjaga beliau.

Tangannya tak pernah lepas dari Baby AK (model senapan serbu seperti AK-47 hanya bentuknya lebih kecil dan mudah dijinjing, red). Tapi lisan dan tangannya tak sembarangan menumpahkan darah manusia. Suatu ketika saya bertemu beliau di Darul Qadha di Kota Idlib. Darul Qadha ialah pengadilan syariah bentukan mujahidin, tempat memutuskan hukum orang-orang/faksi bersenjata yang berselisih di Suriah. Ia memutuskan perkara antara faksi bersenjata dan pedagang roti yang bersengketa dengan cara yang adil dan dapat diterima kedua belah pihak. Meski masih tergolong ulama muda, ucapan dan tindakannya disenangi banyak orang. Padahal, Syaikh Al-Muhaisini bisa saja memilih hidup serba kecukupan di Saudi, hanya mendalami urusan agama tanpa peduli urusan kaum muslimin.

Pada akhirnya, RB mungkin semakin senang karena namanya semakin populer karena terus dibicarakan. Apalagi sampai dibandingkan dengan tokoh sekaliber Syaikh Khalid Misyal atau Syaikh Abdullah Al-Muhaisini. Orang Betawi bilang ‘baina samaa wa sumuur’. Tetapi ketika banyak orang sudah banyak mengingatkan RB atas kedunguannya kemudian ia menolak rujuk. Maka, rusaklah imej seluruh dai penyeru kebaikan yang berujung pada gelombang penolakan dai bermanhaj salaf. Yang lebih buruk lagi, kita semua halal darahnya cuma karena protes kenaikan harga beras atau tingginya harga daging yang tak kunjung bisa terbeli. (kiblatnet/adj)

Categories