
Perang Pemikiran Itu Nyata, Daya Rusaknya Lebih Berbahaya
MUSTANIR.net – Perang pemikiran itu nyata. Memang kerusakan fisik tidak terlihat kasat mata, tetapi daya rusaknya terhadap pemikiran manusia bersifat permanen dan berlangsung lama.
Yang rusak adalah pemikirannya, sementara manusia itu bertindak dan berbuat senantiasa disandarkan pada pemikirannya. Lahirlah seorang Muslim yang benci terhadap syariat Islam, nyinyir pada budaya Islam, dan anti terhadap penerapan Islam secara kaffah.
Jika pada masa masa sebelumnya serangan diarahkan kepada ide-ide syariat Islam terkait jihad, cadar, jenggot, waris, poligami, iddah, hingga khilafah. Hasilnya umat phobia untuk membicarakannya.
Kalaupun dibahas, maka “dilembutkan” agar tidak menyinggung kekuasaan atau kroninya. Dibuat lebih moderat untuk menyesuaikan dengan zaman. Jihad dimaknai bersungguh-sungguh semata, jenggot hanya sebagai mode dan gaya, dan khilafah diartikan tidak baku, sehingga semua bentuk pemerintahan adalah wujud dari khilafah itu sendiri.
Namun hari ini kita mendapati serangan kepada ide syariat Islam lebih merata hampir ke semuanya, mulai dari nasab keturunan Rasulullah, budaya khidmah, dan adab murid, pesantren, hingga sedekah.
Tujuannya jelas, untuk menjauhkan umat Islam dari agamanya sendiri. Mereka pada akhirnya risih dan antipati dengan itu semua. Dan muara itu semua adalah keluarnya umat ini dari agamanya.
Ada aktor-aktor di lapangan yang bekerja untuk menyebar serangan kepada syariat Islam ini. Bisa itu PWI LS, atau Trans7, dan bisa juga lainnya. Akor-aktor ini bisa berubah siapa saja, yang terpenting adalah mereka mendakwahkan tuduhan-tuduhan negatif kepada Islam dan syariat Islam.
Kenapa ini terjadi?
Pada 1917, Turki Utsmani kalah melawan sekutu tentara Arab dan Inggris. Yerusalem ditinggalkan oleh tentara Turki Utsmani. Kemudian pada 2 November 1917, pasukan Inggris yang dipimpin Lord Allenby memasuki Yerusalem. Ia berteriak kegirangan dengan mengatakan bahwa “Perang Salib hari ini telah berakhir dengan kemenangan pasukan Salib dari Inggris dan Perancis.”
Babak baru perang pemikiran dimulai, ide-ide Barat yang liberalistik dan sekuler mulai disebarkan ke dunia Islam. Para pelajar cerdas dari dunia Islam dikirim ke universitas-universitas Barat, seperti Sorbonne, Harvard, untuk mempelajari Ialam dari Barat.
Hasiilnya adalah sarjana lulusan Barat yang justru nyinyir dan menyerang ide-ide syariat Islam. Semisal, “Tiada tuhan selain Tuhan” untuk menafsirkan makna La ilaha Illa Allah. Atau ide Islam substantif, yakni tidak perlu syariat Islam karena yang penting isinya.
Kekalahan Khilafah Turki Utsmani dalam Perang Dunia pertama menjadi pintu masuk serangan serangan pemikiran Barat ke dunia Islam. Lord Curzon, Menteri Luar Negeri Inggris pada tahun 1924, saat mengomentari keruntuhan khilafah berkata, “The point at issue is that Turkey has been destroyed and shall never rise again, because we have destroyed her spiritual power: the caliphate and Islam.”
Yup, khilafah adalah perisai yang melindungi umat Islam dari serangan fisik maupun pemikiran. Hari ini kita merasakan bagaimana perang itu berlangsung, dan cara yang paling mudah bagi orang-orang kafir adalah adu domba sesama kita.
Pola itu telah dijalankan sejak lama dan terus akan diulang. Karena mereka sejatinya tidak akan berani secara jantan berhadapan dengan umat Islam.
RAND Corporation melakukan klasifikasi terhadap umat Islam. Hal ini tertuang pada buku berjudul Civil Democratic Islam: Partners, Resources, and Strategies. Buku ini ditulis oleh Cheryl Benard pada tahun 2003. Pada buku ini Benard mengklasifikasikan umat Islam menjadi: (1) kaum fundamentalis; (2) kaum tradisionalis; (3) kaum modernis; (4) kaum sekularis.
Pola mendukung salah satu dan menginjak salah satu lainnya kerap dilakukan agar umat ini tidak pernah bersatu. Maka umat harus sadar dengan konspirasi ini, dan kemudian bergerak untuk bersatu menegakkan kembali khilafah sebagai pelindung umat ini. []
Sumber: Muhammad Ayyubi (Direktur Mufakkirun Siyasiyyun Community)
