Demonstrasi Dalam Kaidah Fiqih Bagian 3

Demonstrasi Dalam Kaidah Fiqih Bagian 3

Kaedah fiqih ini didasarkan kepada dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-sunnah.

Dalil-dalil dari Al-Qur’an

Dalil-dalil dari Al-Qur’an yang melandasi kaedah fikih di atas antara lain adalah sebagai berikut.

  1. Firman Allah:

وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ

Padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kalian apa yang diharamkan-Nya atas kalian. (QS. Al-An’am [6]: 119)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Penjelasan secara rinci (at-tafshil) adalah keterangan secara jelas. Allah menyatakan bahwa Dia telah menjelaskan secara rinci hal-hal yang haram. Maka apa yang tidak dijelaskan oleh Allah keharamannya bukanlah hal yang haram, dan apa yang tidak haram berarti halal, karena hanya ada halal atau haram saja.” (Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa, juz XXI hlm. 536)

  1. Firman Allah:

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا

Dia-lah yang telah menciptakan untuk kalian apa yang ada di bumi semuanya. (QS. Al-Baqarah [2]: 29)

وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ جَمِيعاً مِنْهُ

Dan Dia menundukkan untuk kalian apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. (QS. Al-Jatsiyah [45]: 13)

Allah menyatakan hal itu secara umum, kemudian Allah menegaskan keumuman tersebut. LafalMaa (apa) dalam ayat di atas adalah isim maushul yang memiliki makna umum, lalu ia dikuatkan dengan firman Allah jami’an (semuanya).

Imam Al-Qurthubi berkata, “Para ulama yang berpendapat bahwa hukum asal dalam hal-hal yang diambil manfaatnya adalah halal, berdalil dengan ayat (Al-Baqarah [2]: 29) ini dan ayat-ayat yang semisalnya, seperti firman-Nya Al-Jatsiyah [45]: 13, sampai ada dalil yang melarang. Mereka menguatkan pendapatnya dengan mengatakan makanan-makanan yang disenangi diciptakan padahal Allah mampu untuk tidak menciptakannya, sehingga makanan-makanan tersebut tidak diciptakan secara sia-sia, ia pasti memiliki manfaat. Manfaat tersebut tentu tidak kembali kepada Allah karena Allah Maha Kaya tidak membutuhkan apapun. Maka manfaat tersebut kembali kepada kita.” (Al-Qurthubi, Al-Jami’ li-Ahkam Al-Qur’an, juz I hlm. 377)

Syaikh Muhammad Shidqi Al-Burnu menjelaskan bahwa ayat di atas menunjukkan bahwa hokum asal segala sesuatu adalah boleh, dengan dua alasan. Pertama, ayat di atas berada dalam konteks penyebutan nikmat Allah kepada manusia. Tingkatan pemberian nikmat yang paling tinggi adalah kebolehan memanfaatkan nikmat tersebut. Kedua, Allah SWT menisbahkan semua ciptaan-Nya tersebut kepada manusia dengan huruf lam (lakum = bagi kalian). Huruf laam tersebut memberikan faedah kepemilikan. Tingkatan paling rendah dari memiliki suatu barang adalah kebolehan menikmati barang tersebut. (Al-Burnu, Al-Wajiz fi Idhah Qawa’id Al-Fiqh Al-Kulliyah, hlm. 191)

  1. Firman Allah:

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ

Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?” (QS. Al-A’raf [7]: 32)

Imam Asy-Syaukani berkata, “Allah mengingkari orang yang mengharamkan perkara-perkara itu. Maka telah pasti ketidak haramannya, dan jika ketidak haramannya telah pasti maka tidak bisa keharamannya berlaku atas salah satu bagiannya, karena hal yang mutlaq (tidak dibatasi) itu bagian dari hal yang muqayyad (dibatasi). Seandainya keharamannya tetap atas salah satu bagiannya, niscaya tetap pula keharaman atas perhiasan yang dikeluarkan Allah dan rizki yang baik-baik. Jika keharamannya sama sekali tidak ada, maka telah pastilah kehalalannya.” (Asy-Syaukani, Irsyadul Haq Ila Tahqiqil Haq min Ilmil Ushul, juz II hlm. 1158)

  1. Firman Allah:

قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ

Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi, karena sesungguhnya semua itu kotor atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah.  (QS. Al-An’am [6]: 145)

Dalam ayat yang mulia ini, Allah menjadikan hukum asal segala sesuatu (selain ibadah) adalah mubah dan Allah menjadikan hukum haram sebagai pengecualian. (Asy-Syaukani, Irsyadul Fuhul, juz II hlm. 1159)

bersambung…

sumber

Categories