Demonstrasi Dalam Kaidah Fikih Bagian 2

Demonstrasi Dalam Kaidah Fikih Bagian 2

Seandainya pemerintah bersikap pro-aktif dan melindungi hak-hak umat Islam, tentulah umat Islam tidak akan repot-repot melakukan demonstrasi. Menistakan Al-Qur’an dalam pandangan syariat Islam jelas-jelas merupakan sebuah kekafiran dan kejahatan luar biasa. Jika pelakunya muslim, maka ia menjadi murtad akibat perbuatan tersebut. Jika pelakunya orang kafir asli, maka ia menjadi gembong kekafiran akibat perbuatan tersebut.

Syariat Islam memvonis pelaku perbuatan tersebut dengan hukuman mati, sebagaimana panjang lebar dibahas oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Al-Hambali (wafat tahun 728 H) dalam kitabnya,Ash-Sharim Al-Maslul ‘ala Syatim Ar-Rasul dan Taqiyuddin Ali bin Abdul Kafi As-Subki Asy-Syafi’i (wafat 756 H) dalam kitabnya, As-Saif Al-Maslul ‘ala Man Sabba Ar-Rasul.

Aksi demonstrasi umat Islam untuk membela Al-Qur’an dari penistaan pemimpin non-muslim adalah perkara yang sah dan dibenarkan. Dari tinjauan fikih Islam, demonstrasi adalah perkara duniawi yang hukum asalnya boleh. Ia bisa berubah menjadi sunnah atau wajib, jika kondisi menuntut hal itu. Kaedah fikih menegaskan ( اَلْأَصْلُ فِي اْلأَشْيَاءِ اْلإِبَاحَةُ ) Hukum asal segala sesuatu (selain ibadah) adalah kebolehan.

Mayoritas ulama menegaskan kaedah fiqih yang menyebutkan “Hukum asal ibadah adalah dilarang sampai ada dalil syar’i yang memerintahkannya, dan hukum asal segala sesuatu (selain ibadah) adalah boleh sampai ada dalil syar’i yang melarangnya”. (As-Suyuthi Asy-Syafi’i, Al-Asybah wa An-Nazhair, hlm. 60; Muhammad Shalih Al-Utsaimin, Al-Qawa’id Al-Fiqhiyyah, hlm. 31; Muhammad Shidqi Al-Burnu, Al-Wajiz fi Idhah Qawa’id Al-Fiqh Al-Kulliyah, hlm. 191)

Hukum asal segala sesuatu selain ibadah adalah halal dan boleh, sampai ada dalil syar’i yang melarang dan mengharamkannya. Segala sesuatu selain ibadah itu bersifat umum, mencakup makanan, minuman, pakaian, mu’amalah, adat istiadat, perbuatan, kemanfaatan, dan lain-lain. Tidak dikecualikan dari kaedah ini kecuali perkara-perkara ibadah mahdhah.

Hukum asal makhluk adalah halal, maka semua jenis tumbuhan atau hewan, di darat maupun di laut pada asalnya halal, diperbolehkan untuk mengonsumsinya selama tidak ada dalil syar’i yang mengharamkannya.

Hukum asal hal-hal yang bermanfaat adalah halal, maka manusia boleh memanfaatkan apapun yang Allah ciptakan di bumi selama tidak ada dalil syar’i yang mengharamkan pemanfaatan tersebut.

Hukum asal pekerjaan adalah halal selama bukan ibadah, maka semua jenis perbuatan, aktivitas, dan gerakan pada asalnya halal, selama tidak ada dalil syar’i yang mengharamkannya.

Demonstrasi adalah aktifitas dan perbuatan manusia yang hukum asalnya adalah boleh. Tidak ada dalil syar’i dari Al-Qur’an dan as-sunnah yang melarang demonstrasi, sehingga hukum asalnya adalah boleh sampai ada dalil syar’i yang melarangnya. Ia tetap berada dalam hukum asal boleh dan disyariatkan. Barangsiapa mengklaim demonstrasi adalah haram, ia harus mendatangkan dalil syar’i yang shahih. bersambung…

SUMBER

Categories