
Mengonstruksi Kepemimpinan Berpikir Generasi Muslim pada Era Digital
MUSTANIR.net – Generasi muda hari ini adalah penduduk asli dunia digital (digital natives). Mereka lahir di tengah keberlimpahan teknologi, dengan banjir informasi di berbagai platform digital. Dampaknya, tidak sedikit dari mereka yang kesulitan menyaring antara fakta dan opini, juga antara informasi yang bermanfaat dan yang merusak. Mayoritas mereka menyukai konten-konten hiburan, ringan, iklan produk, berita selebritas tertentu, atau hal-hal viral, tapi belum tentu bermanfaat.
Terlalu sering mengonsumsi konten digital yang tidak berkualitas dan berulang-ulang dapat memicu fenomena yang disebut brain rot (pembusukan otak). Brain rot meliputi penurunan kemampuan berpikir kritis dalam pengambilan keputusan strategis, merosotnya daya ingat akibat paparan konten media sosial yang dangkal seperti prank, tantangan ekstrem, dan konten pendek (seperti TikTok, reels, atau shorts) yang hanya berfokus pada sensasi, bukan substansi.
Paparan arus informasi digital yang dangkal seperti ini bukan sekadar masalah hiburan, melainkan ancaman terhadap kemandirian berpikir dan kedalaman visi strategis generasi muda. Fenomena ini mendesak untuk disikapi, mengingat potensi generasi muda adalah sebagai harapan menuju kebangkitan peradaban islam.
Apa sebenarnya yang menimpa generasi muda hari ini dan bagaimana cara menaikkan kepemimpinan berpikir mereka? Ini merupakan tantangan besar yang harus kita jawab bersama.
Hegemoni Sistem Sekuler Kapitalisme
Kondisi yang menimpa generasi muda hari ini merupakan dampak dari tatanan kehidupan sekuler kapitalisme yang mendominasi kehidupan. Media dan platform digital hari ini dimonopoli oleh raksasa digital kapitalis. Mereka mengendalikan infrastruktur digital dan mengemas jutaan informasi dengan perspektif sekularisme dan berorientasi materi. Setiap hari, media-media dan platform digital sekuler kapitalis itu menjajakan propaganda nilai-nilai kehidupan sekuler berwajah informasi kekinian.
Prinsip sekularisme memarginalkan peran agama dalam pengambilan kebijakan publik sehingga pemikiran Islam sering dianggap hanya relevan di ranah privat atau di masjid, sedangkan urusan publik dan strategis justru dibiarkan pragmatis materialistis dan tidak kenal standar halal-haram. Akibatnya, visi mulia Islam yang rahmatan lil ‘alamin sulit diimplementasikan secara sistemis dalam skala negara.
Algoritma platform digital dirancang untuk mencari kepuasan instan dan hiburan receh yang secara perlahan, tapi pasti, dapat mengikis kemampuan untuk merenung, bertadabur, dan bertafakur. Akhirnya, kepuasan, kesuksesan, dan kebahagiaan hanya diukur dari viralitas dan capaian materi, bukan dari tinjauan spiritual ataupun kontribusi bagi keberlangsungan peradaban jangka panjang yang menjadi esensi ajaran Islam.
Algoritma pada platform digital di dalam sistem sekuler kapitalisme telah menjelma menjadi habitat yang memuja kecepatan di atas kebenaran, bahkan menempatkan hiburan remeh di atas ketinggian tsaqafah Islam. Generasi muda merasa kuno jika memegang teguh ajaran Islam di tengah tren modernitas yang sekuler sehingga tercipta penyakit mental inferior terhadap ajaran agamanya sendiri.
Generasi seperti ini alih-alih menjadi subjek peradaban, mereka justru menjadi objek pasar digital yang dikendalikan kapitalisme global. Kapitalisme mendapat cuan, sedangkan masa depan generasi muda dan peradaban Islam kian terancam. Oleh karena itu, dibutuhkan upaya serius untuk menghentikan laju kerusakan massal akibat arus viralitas, guna merekonstruksi tsaqafah generasi muda muslim.
Teknologi Digital dalam Islam
Islam tidak menolak teknologi, tetapi penggunaan teknologi itu akan diatur oleh syariat Islam. Teknologi akan dimanfaatkan sebagai wasilah untuk mempermudah amal ibadah dan makin meningkatkan takarub manusia sebagai makhluk Allah Taala, serta menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad.
Semua itu semata-mata agar manusia mengenal Sang Khalik serta mengajak manusia menuju ampunan dan surga-Nya. Sistem saat ini sangat toksik bagi generasi muda, Islam memandang kondisi ini sebagai tantangan dakwah. Di sinilah urgensi kepemimpinan berpikir islami (qiyadah fikriyyah islamiyah).
Solusinya bukan dengan menarik diri dari penggunaan teknologi, melainkan dengan literasi ideologis berbasis akidah Islam agar pemikiran Islam bisa kembali memimpin di tengah kompleksitas zaman. Kepemimpinan berpikir Islam dalam konteks era digital adalah upaya untuk mengembalikan manusia dari perbudakan konten menuju kemerdekaan berpikir di bawah bimbingan wahyu.
Bangkit dengan Tsaqafah Islam
Konsep literasi ini jauh lebih dalam daripada sekadar skill membaca dan menulis. Untuk mewujudkan kepemimpinan berpikir islami pada generasi, dibutuhkan pendidikan islami dalam keluarga dan sekolah yang hanya terwujud dengan penerapan sistem pendidikan Islam oleh negara. Negara akan menyusun strategi pendidikan berupa kurikulum dengan materi-materi pembelajaran berupa tsaqafah, sains dan teknologi, maupun keterampilan.
Pada saat yang sama, perlu adanya aktivitas dakwah Islam ideologis yang intensif di kalangan generasi muda untuk mengonstruksi bangunan pemikiran/tsaqafah Islam mereka agar kukuh dan fokus menyolusi berbagai problematik umat. Hal ini penting karena kebangkitan berpikir saja tidak cukup jika tidak diiringi pemikiran sahih.
Di dalam kitab Usus at-Ta’lim fi Daulah al-Khilafah disebutkan, “Tsaqafah Islam adalah pengetahuan-pengetahuan dengan akidah Islam menjadi sebab dalam pembahasannya, baik mencakup akidah Islam seperti ilmu tauhid, pengetahuan yang dibangun di atas akidah Islam seperti fikih, tafsir, dan hadis, serta pengetahuan yang ditetapkan oleh pemahaman yang terpancar dari akidah Islam berupa hukum-hukum seperti pengetahuan yang mewajibkan ijtihad di dalam Islam seperti ilmu bahasa Arab, mushthalah hadis, dan ushul. Ini semua adalah tsaqafah Islam karena akidah menjadi sebab pembahasannya.”
Tsaqafah Islam wajib diberikan dengan mulai membangun akidah/iman yang kukuh melalui proses berpikir mendalam (akliah) sehingga melahirkan amal saleh. Dengan kesadaran yang lahir dari pemahaman Islam, generasi muda akan mampu menjalankan kewajiban dan bertanggung jawab atas semua amal perbuatannya di hadapan Allah Taala.
Jika tsaqafah Islam ini matang, generasi akan memiliki benteng ketakwaan yang kuat, yang akan menjadi ukuran bagi identitas dirinya. Dari sini, mereka akan terdorong untuk bergerak demi kemuliaan agamanya. Tsaqafah ini pula yang akan membimbingnya mengelola pola perilakunya (nafsiah) sesuai timbangan syariat di mana pun medannya, baik dunia maya maupun nyata.
Rasulullah saw. bersabda di dalam hadis, “Seseorang mendidik anaknya itu lebih baik baginya daripada ia menyedekahkan (setiap hari) satu sha’.” (HR At-Tirmidzi).
Juga di dalam hadis, “Tiada pemberian orang tua terhadap anaknya yang lebih baik dari adab yang baik.” (HR At-Tirmidzi).
Jelas, kita patut menata sistem pendidikan saat ini agar sesuai dengan zamannya. Tantangan zaman saat ini adalah platform digital. Cara menghadapinya bukan dengan antipati terhadap teknologi digital, melainkan dengan menguatkan pemikiran dan benteng keimanan agar tetap menjadi “tuan” atas teknologi tersebut, bukan menjadi budaknya. Misi mulia penyelamatan generasi dari paparan tsaqafah asing adalah tanggung jawab setiap muslim. Generasi muda hari ini harus bangkit dengan tsaqafah Islam.
Para pemuda pada zaman Nabi Muhammad saw. adalah barisan pemuda generasi terbaik pada masa awal Islam. Mereka membersamai Nabi saw. sejak masa belia. Mereka hidup mendampingi Rasulullah saw., serta berjuang dan berdakwah bersama beliau. Cinta dan pembelaan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya pun tidak perlu kita ragukan. Mereka para pengemban Islam, juga garda dan perisai bagi dakwah beliau saw.
Di antara mereka ada yang dijamin masuk surga. Ada pula yang mendapat jaminan kemenangan dari Allah Taala dalam setiap jihad fi sabilillah. Di tengah derasnya arus pembelokan identitas pemuda, sosok mereka menggambarkan pemuda muslim sejati.
Mereka dibina oleh Rasulullah di dalam sebuah kutlah (kelompok) dakwah. Mereka ditempa melalui proses pembinaan Islam kafah, terlibat aktif dalam aktivitas dakwah menuju tegaknya Daulah Islam, serta tergabung dalam jemaah dakwah yang memperjuangkan cita-cita untuk melanjutkan kembali kehidupan Islam dengan meneladan metode dakwah Rasulullah saw.
Rasulullah saw. membina para sahabat di Makkah untuk mempersiapkan mereka menjadi bibit-bibit unggul menuju tegaknya Daulah Islam yang pertama di Madinah sebagai institusi yang menerapkan syariat Islam kafah. Pembinaan Islam kafah yang dilakukan Rasulullah saw. ini sangat penting dalam rangka membentuk kepemimpinan berpikir (qiyadah fikriyyah) pada generasi muda muslim. Bahkan, konsep pembinaan ini sangat penting bagi pengarahan identitas dan produktivitas generasi.
Peradaban Islam setelah masa Rasulullah saw. dan para sahabat juga kaya akan generasi muda yang bersinar dengan tsaqafah Islam. Mereka tumbuh bersama Al-Qur’an sebagai informasi sahih pertama yang mereka terima. Mereka menguasai ribuan hadis, berbagai bahasa terutama bahasa Arab, serta memahami ilmu tafsir dan fikih. Dari sini lahirlah para ulama unggul dengan ketinggian tsaqafah Islam, seperti Imam Syafi’i, Imam Bukhari, Imam Qurthubi, dan lain-lain.
Tidak hanya ahli di bidang ilmu-ilmu syariat, generasi muslim juga unggul dalam khazanah keilmuan sains dan teknologi. Kita mengenal ilmuwan besar seperti Al-Biruni, Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, dan banyak lagi. Keilmuan mereka membawa berkah bagi seluruh dunia hingga saat ini. Dalam hal kepemimpinan, kita mengenal Shalahuddin al-Ayyubi dan Muhammad al-Fatih yang menonjol dengan misi pembebasan berupa dakwah dan jihad.
Mereka semua adalah potret generasi muslim terbaik. Mereka lahir dan dibesarkan oleh sistem yang kondusif bagi tumbuh kembang tsaqafah Islam, yakni Khilafah. Inilah masa keemasan Islam dan generasinya. Sungguh, hanya dengan kebangkitan berpikir dan tsaqafah Islam, kaum muslim dapat menghidupkan kembali masa keemasan itu, serta menjadikan generasi muda sebagai subjek pembangun dan pengisi peradaban Islam. Wallahualam bissawab. []
Sumber: M News
