candidchronicle.com

Filantropi Saja Tak Cukup

MUSTANIR.net– Dana Moneter Internasional (IMF) menyebut pandemi corona telah berubah menjadi krisis ekonomi dan keuangan global. Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva mengatakan, banyak negara menghentikan kegiatan ekonomi secara mendadak sehingga perekonomian dunia pun akan terkontraksi di 2020 ini (money.kompas.com, 28/03/2020).

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, krisis akibat pandemi virus corona (Covid-19) jauh berbeda dengan krisis keuangan 2008 maupun krisis Asia tahun 1998. Sebab, krisis virus corona menyangkut multiaspek, yaitu aspek kemanusiaan yang berdampak pada terganggunya aktivitas ekonomi dan pasar keuangan (money.kompas.com, 06/04/2020).

Bagaimana dengan Indonesia? Di Indonesia, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat 1,5 juta orang telah kehilangan pekerjaan akibat corona. Sebanyak 10,6% di antaranya atau sekitar 160 ribu orang kehilangan pekerjaan karena PHK, sedangkan 89,4% lainnya dirumahkan.

Rinciannya, 160.067 pekerja terkena PHK dari 24.225 perusahaan. Sedangkan yang dirumahkan sebanyak 1.080.765 pekerja dari 27.340 perusahaan. Sementara di sektor informal yang dirumahkan sebanyak 265.881 pekerja dari 30.466 perusahaan.

Indonesia menjadi importir pangan untuk sejumlah komoditi. Salah tiganya adalah beras, gula, dan daging. Ketiganya kini sedang terancam kelangkaan karena produksi dalam negeri tak memadai dan impor terganggu kebijakan penekanan pandemi corona negara lain (katadata.co.id, 15/04/2020).

Ini adalah kondisi yang sangat mengkhawatirkan dan harus segera diambil langkah antisipasi. Apakah kepedulian kita dengan sesama akan cukup untuk mengatasi kesulitan masyarakat mengakses kebutuhan pokok mereka terutama pangan?

Masyarakat Indonesia yang Filantropis

Filantropi (bahasa Yunani: philein berarti cinta, dan anthropos berarti manusia) adalah tindakan seseorang yang mencintai sesama manusia serta nilai kemanusiaan, sehingga menyumbangkan waktu, uang, dan tenaganya untuk menolong orang lain. Istilah ini umumnya diberikan pada orang-orang yang memberikan banyak dana untuk amal. Biasanya, filantropi adalah seorang kaya raya yang sering menyumbang untuk kaum miskin (id.wikipedia.org).

Rakyat Indonesia itu memiliki solidaritas dan filantropi yang cukup tinggi untuk membantu sesamanya. Sudah terbukti dari berbagai kejadian bencana alam misalnya, masyarakat berusaha bahu-membahu meringankan beban saudaranya yang lain yang sedang membutuhkan pertolongan.

Banyak individu dan lembaga swadaya masyarakat yang bergerak mencari donasi menyalurkan bantuan kepada korban bencana dan hasil penggalangan dananya cukup banyak. Apalagi di tengah merebaknya wabah Covid-19 saat ini. Tanpa dipaksa pun, rakyat Indonesia akan dengan senang hati menyambut kesempatan baik untuk menolong sesama.

Namun masalahnya bukan soal kepedulian rakyat atau filantropis masyarakat.

Kita butuh satu komando negara untuk mengatasi wabah ini secara tuntas. Kita butuh peran negara di garda terdepan untuk mencegah wabah ini semakin meluas, memenuhi kebutuhan pokok rakyat selama masa karantina serta membantu rakyat yang terdampak langsung maupun tidak langsung oleh kebijakan penanggulangan Covid-19.

Sudahkah peran itu dijalankan oleh negara?

Negara di Garda Terdepan

Islam telah mewajibkan terlaksananya jaminan atas pemenuhan kebutuhan pokok individu dan masyarakat. Islam memberikan serangkaian hukum syariat untuk menjamin pemenuhan kebutuhan pokok berupa pangan, papan, dan sandang bagi tiap individu rakyat dengan mekanisme langsung dan tak langsung; Oleh laki-laki, keluarga, masyarakat, dan negara.

Dalam kondisi wabah Covid-19 saat ini, khususnya di Indonesia di mana laki-laki menjadi tidak mampu mencari nafkah karena PHK dan kebutuhan keluarga tidak terpenuhi, maka peran negara betul-betul dibutuhkan karena bantuan dari lembaga swadaya masyarakat hanyalah bersifat sementara dan tidak akan mampu memenuhi semua kebutuhan rakyat. Hanya negara yang punya kuasa untuk melakukannya.

Dulu, ketika masa kepemimpinan negara Islam di bawah Khalifah Umar bin Khaththab RA yang berpusat di Madinah pernah terjadi krisis ekonomi. Beliau langsung memerintahkan pendirian posko-posko bantuan, kemudian membagikan makanan dan pakaian langsung kepada rakyat yang jumlahnya mencapai 60.000 orang. Masya Allah!

Disebutkan bahwa Khalifah Umar RA memberi makanan kepada orang-orang badui dari Dar ad-Daqiq, sebuah lembaga perekonomian yang berada pada masa pemerintahan Umar. Lembaga ini bertugas membagi tepung, mentega, kurma, dan anggur yang berada di gudang kepada orang-orang yang datang ke Madinah sebelum bantuan dari Mesir, Syam, dan Irak datang.

Dar ad-Daqiq kian diperbesar agar bisa membagi makanan kepada puluhan ribu orang yang datang ke Madinah selama 9 bulan, sebelum hujan tiba dan memberi penghidupan.

Selain itu, Khalifah Umar RA tidak hanya menunggu rakyatnya minta bantuan, tetapi juga menjemput bola. Malik bin Aus (berasal dari Bani Nashr) menceritakan bagaimana sepak terjang Khalifah Umar RA dalam menangani krisis ini.

Beliau mendatangi kaumnya yang kelaparan dan menempati padang pasir. Mereka berjumlah 100 kepala keluarga. Yang tidak datang kepada beliau, dikirimi tepung, kurma, dan lauk-pauk ke rumahnya. Beliau mengirim bahan makanan kepada kaum Bani Anshr selama berbulan-bulan (muslimahnews.com, 07/04/2020).

Demikianlah gambaran riil bagaimana sistem Islam kafah serius mengurusi rakyatnya di kala krisis. Negara Islam bersungguh-sungguh menjaga rantai pasokan pangan kepada rakyat tetap berjalan baik. Negaralah yang wajib memastikan ketersediaan pangan untuk semua rakyatnya.

Negara bertanggung jawab penuh untuk mengurusi rakyatnya, tidak malah melemparkan tanggung jawab itu kepada individu rakyat atau lembaga filantropi swasta.

Sabda Rasulullah SAW, “Al-Imâm râ’in wa huwa mas`ûl[un] ‘an ra’iyyatihi” (HR al-Bukhari)

Imam/khalifah/kepala negara adalah pengurus rakyat dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas pengurusan rakyatnya. []

Sumber: Ummu Naira, Forum Muslimah Indonesia (For Mind)

Categories