Fitnah Kegelapan di Akhir Zaman

MUSTANIR.net – Salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian serius tentang akhir zaman adalah fenomena fitnah duhaima’ sebagaimana yang dijanjikan oleh Rosululloh ﷺ. Duhaima’ yang bermakna kelam atau gelap gulita merupakan fitnah terbesar yang akan dilalui dalam salah satu fase perjalanan umat Islam.

Riwayat yang menyebutkan akan terjadinya fitnah ini adalah sebagaimana yang dikisahkan dari Abdullah bin ‘Umar bahwasanya ia berkata: “Suatu ketika kami duduk-duduk di hadapan Rosululloh ﷺ memperbincangkan soal berbagai fitnah, beliau pun banyak bercerita mengenainya. Sehingga beliau juga menyebut tentang fitnah ahlas. Maka, seseorang bertanya: ‘Apa yang dimaksud dengan fitnah ahlas?’ Beliau menjawab:

هِيَ هَرَبٌ وَحَرْبٌ ثُمَّ فِتْنَةُ السَّرَّاءِ دَخَنُهَا مِنْ تَحْتِ قَدَمَيْ رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي يَزْعُمُ أَنَّهُ مِنِّي وَلَيْسَ مِنِّي وَإِنَّمَا أَوْلِيَائِي الْمُتَّقُونَ ثُمَّ يَصْطَلِحُ النَّاسُ عَلَى رَجُلٍ كَوَرِكٍ عَلَى ضِلَعٍ ثُمَّ فِتْنَةُ الدُّهَيْمَاءِ لَا تَدَعُ أَحَدًا مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ إِلَّا لَطَمَتْهُ لَطْمَةً فَإِذَا قِيلَ انْقَضَتْ تَمَادَتْ يُصْبِحُ الرَّجُلُ فِيهَا مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا حَتَّى يَصِيرَ النَّاسُ إِلَى فُسْطَاطَيْنِ فُسْطَاطِ إِيمَانٍ لَا نِفَاقَ فِيهِ وَفُسْطَاطِ نِفَاقٍ لَا إِيمَانَ فِيهِ فَإِذَا كَانَ ذَاكُمْ فَانْتَظِرُوا الدَّجَّالَ مِنْ يَوْمِهِ أَوْ مِنْ غَدِهِ

‘Yaitu fitnah pelarian dan peperangan. Kemudian fitnah sarra’, kotoran atau asapnya berasal dari bawah kaki seseorang dari ahlubaitku, ia mengaku dariku, padahal bukan dariku, karena sesungguhnya waliku hanyalah orang-orang yang bertakwa. Kemudian manusia bersepakat pada seseorang seperti bertemunya pinggul di tulang rusuk, kemudian fitnah duhaima’ yang tidak membiarkan ada seseorang dari umat ini kecuali dihantamnya. Jika dikatakan: ‘Ia telah selesai’, maka ia justru berlanjut, di dalamnya seorang pria pada pagi hari beriman, tetapi pada sore hari men­jadi kafir, sehingga manusia terbagi menjadi dua kemah, kemah keimanan yang tidak mengandung kemunafikan, dan kemah kemunafikan yang tidak mengandung keimanan. Jika itu sudah terjadi, maka tunggulah kedatangan Dajjal pada hari itu atau besoknya.” [1]

Jika melihat dari teks yang menjelaskan berbagai bentuk fitnah di atas, tampaknya hakikat dan terjadinya fitnah-fitnah tersebut saling berhubungan satu sama lain. Peristiwa yang satu akan menjadi penyebab munculnya fitnah berikutnya. Sebagaimana tersebut dalam nash di atas, beliau mengungkapkan dengan kalimat ‘tsumma’ yang bermakna kemudian. Ini menunjukkan bahwa fitnah-fitnah tersebut akan terjadi dalam beberapa waktu, yang ketika hampir berakhir atau masih terus terjadi hingga puncaknya, maka dilanjutkan dengan fitnah berikutnya. Kalimat ‘tsumma’ menunjukkan jeda waktu yang tidak pasti, namun menunjukkan makna ‘tartib’ (kejadian yang berurutan).

Fitnah pertama yang beliau sebutkan adalah fitnah ahlas. Kata ahlas merupakan bentuk plural dari kata ‘hilsun’ atau ‘halasun’, yaitu alas pelana atau kain di punggung unta yang berada di bawah pelana. Fitnah ini diserupakan dengan alas pelana karena ada persamaan dari sisi terus menerus menempel/terjadi.

Tentang realita fitnah ahlas ini, sebagian ada yang berpendapat bahwa ia sudah terjadi semenjak zaman para sahabat, dimana al-Faruq ‘Umar bin Khaththab adalah merupakan dinding pembatas antara kaum muslim­in dengan fitnah ini, sebagaimana yang diterangkan Nabi ﷺ ketika beliau berkata kepada ‘Umar: “Sesungguhnya antara kamu dan fitnah itu terdapat pintu yang akan hancur.” [2]

Dan sabda ﷺ ini memang menjadi kenyataan dimana ketika ‘Umar baru saja meninggal dunia, hancurlah pintu tersebut dan terbukalah fitnah ini terhadap kaum muslimin dan ia tidak pernah berhenti sampai sekarang ini.

Ada pun fitnatu sarra’, maka Imam Ali al-Qaari menyatakan yang dimaksud dengan fitnah ini adalah nikmat yang menyenangkan manusia, berupa kesehatan, kekayaan, selamat dari musibah dan  bencana. Fitnah ini disambungkan dengan sarra’ karena terjadinya disebabkan timbul/adanya berbagai kemaksiatan karena kehidupan yang mewah, atau karena kekayaan tersebut menyenangkan musuh.

Terjadinya fitnah sarra’ ini diawali oleh seorang yang secara nasab bersambung kepada Rosululloh ﷺ (ahlu bait). Namun perilakunya yang menyebabkan bencana ini menjadikannya tidak bisa dianggap. Beliau juga mengatakan bahwa boleh jadi yang dimaksud “yaz’umu annahu minni” adalah mengklaim bahwa apa yang dikerjakan adalah datang dari Rosululloh ﷺ, meskipun jika dilihat dzahir nashnya adalah benar-benar mengaku secara nasab.

Jika untuk kedua fitnah di atas Rosululloh ﷺ hanya menjelaskan secara singkat, maka untuk fitnah duhaima beliau ﷺ memberikan penjelasan yang lebih rinci. Ada beberapa ciri khusus dari fitnah ini yang tidak dimiliki oleh fitnah sebelumnya.

1. Fitnah ini akan menghantam semua umat Islam (lebih khusus lagi pada bangsa Arab). Tidak seorang pun dari warga muslim yang akan terbebas dari fitnah ini. Beliau menggunakan lafadz ‘lathama’ yang bermakna menghantam, atau memukul bagian wajah dengan telapak tangan (menempeleng/menampar). Kalimat ini merupakan gambaran sebuah fitnah yang sangat keras dan ganas.

2. Fitnah ini akan terus memanjang, dan tidak diketahui oleh manusia kapan ia akan berakhir. Bahkan ketika manusia ada yang berkata bahwa fitnah itu sudah berhenti, yang terjadi justru sebaliknya; ia akan terus memanjang dan sulit diprediksi kapan berhentinya. Inilah maksud ucapan beliau: Jika dikatakan: “Ia telah selesai”, maka ia justru berlanjut.

3. Efek dahsyat yang ditimbulkan oleh fitnah ini, yaitu munculnya sekelompok manusia yang di waktu pagi masih memiliki iman, namun di sore hari telah menjadi kafir. Ini merupakan sebuah gambaran tentang kerasnya fitnah tersebut.

4. Terbelahnya manusia (muslim) dalam dua kelompok/kemah besar. Satu kelompok berada di kemah keimanan, dan kelompok lainnya berada di kemah kemunafikan.

Menguak Misteri Fitnah Duhaima’

Untuk lebih jelasnya, mudah-mudahan uraian di bahwa ini bisa menyingkap misteri yang masih menyelimuti fitnah ini.

Rosululloh ﷺ menggambarkan bahwa fitnah ini bersifat menghantam seluruh umat ini (hadzihi ummah). Umat yang dimaksudkan oleh Rosululloh ﷺ dalam hadits tersebut sudah pasti bermakna umat Islam. Namun, apakah ia khusus untuk bangsa Arab (di mana yang diajak bicara oleh Rosululloh ﷺ saat itu adalah para sahabat yang merupakan orang Arab) ataukah berlaku umum untuk seluruh manusia? Jika melihat keumuman lafadz, maka kedua makna tersebut adalah benar adanya. Fitnah tersebut bisa menimpa kepada setiap muslim baik Arab maupun ‘ajam, sebab dalam nash tentang hadits fitnah duhaima’, Rosululloh ﷺ tidak menyebut lafadz khusus bangsa Arab. Lalu, fitnah seperti apa yang pernah menimpa seluruh umat Islam dan terkhusus umat Islam dari bangsa Arab?

Jika melihat ciri-ciri yang dijelaskan oleh Rosululloh ﷺ dalam riwayat di atas, setidaknya ada dua bentuk fitnah yang paling mendekati gambaran dan tafsiran tentang fitnah duhaima’ tersebut. Keduanya adalah:

1. Fitnah demokrasi sekuler liberal yang dipaksakan oleh Barat kepada dunia.

Demokrasi sekuler liberal adalah sebuah paham yang didasarkan pada suara terbanyak dari rakyat. Ideologi yang menjadikan keputusan berada di tangan rakyat —tanpa memperhatikan apakah sesuai dengan hukum Islam atau justru bertolak belakang— jelas merupakan sebuah ideologi kufur yang ditentang oleh para ulama. Tidak sedikit ulama yang telah mengupas akan kekafiran sistem ini, di mana Alloh tidak boleh ‘terlibat’ dalam sebuah keputusan undang-undang. Dan sebagaimana realita yang ada, ideologi ini mulai menjangkiti beberapa negara dengan mayoritas muslim yang sebelumnya menolak untuk dijadikan sebagai landasan bernegara.

2. Fitnah perang melawan terorisme dan kelompok teroris.

Pasca peristiwa 11 September 2001, tidak ada isu yang lebih panas melebihi wacana tentang perang melawan terorisme. Bangsa Barat yang dikomandoi oleh Amerika telah menabuh genderang perang untuk melawan terorisme. Banyak pihak yang meyakini bahwa tujuan pengobaran perang melawan kelompok terorisme adalah perang melawan Islam. Bukti-bukti di lapangan menunjukkan akan hal itu. Bush sendiri menyatakan bahwa perang ini adalah perang salib yang bertujuan untuk menghabisi umat Islam. Klaim bahwa Barat hanya bermaksud untuk memburu para pelaku teror adalah kedustaan, sebab dalam realitanya korban terbesar dari perang ini adalah para sipil muslim yang kebanyakan adalah wanita dan anak-anak yang tidak berdosa. Fakta lain yang juga sulit dibantah adalah bahwa jumlah kelompok teroris di seluruh dunia ini lebih dari ratusan kelompok, namun Barat hanya mendefinisikan kelompok teroris yang wajib dibasmi adalah mereka yang beragama Islam.

Sebenarnya ada beberapa pendapat lain tentang fitnah duhaima’ ini, namun jika dilihat dari berbagai sudut pandang, dua bentuk fitnah inilah yang paling sesuai dengan keempat ciri yang dijelaskan oleh Rosululloh ﷺ tentang fitnah duhaima’. Untuk lebih jelasnya kami akan memaparkan secara rinci hakikat dari kedua bentuk fitnah ini.

Antara Fitnah Duhaima’ dan Fitnah Demokrasi Sekuler Liberal

Beberapa poin berikut akan menjelaskan beberapa korelasi antara fitnah duhaima’ dengan realita fitnah demokrasi:

1. Fitnah duhaima’ akan menghantam seluruh umat Islam. Hal yang serupa juga terjadi pada fitnah demokrasi.

Jika melihat pada fase sejarah umat Islam yang merujuk pada hadits tentang periodesasi umat Islam [3], maka pasca runtuhnya khilafah Turki Utsmani kaum muslimin mulai memasuki periode terburuk dalam sejarahnya. Runtuhnya daulah Islam telah menyebabkan digantinya sistem khilafah dengan sistem sekuler yang melahirkan para pemimpin diktator. Sejak saat itu, berakhirlah masa kepemimpinan mulkan adhud dan dimulailah periode mulkan jabbar (raja bengis dan diktator).

Meski saat itu periode mulkan jabbar hampir merata di seluruh dunia, sebenarnya demokrasi sudah dimulai dari Prancis pada sekitar abad 18. Saat itu ideologi demokrasi dengan pemilu sebagai produk turunannya belum laku dan tidak banyak dilirik banyak manusia. Kejayaan dan kemenangan para pemimpin diktator membuat ideologi demokrasi tidak disukai oleh para diktator. Barulah di abad 20 ideologi itu mulai diterima, bahkan di awal abad 21, negara Barat (Amerika) ‘memaksakan’ agar seluruh dunia menggunakan sistem tersebut sebagai ideologi yang harus dipakai oleh setiap negara.

Selanjutnya, dengan desakan-desakan yang semakin memojokkan, mereka lalu memaksa agar negeri-negeri muslim lainnya menerapkan asas demokrasi ini. Amerika telah mendesak Husni Mubarak, diktator Mesir, guna menyelenggarakan sistem pemilu yang demokratis untuk pertama kalinya. Sebelumnya, Hafez al-Assad, diktator Suriah telah terlebih dahulu pergi ke alam baqa. Pembunuhan mantan Perdana Menteri Lebanon, Rafiq al-Hariri yang dinisbatkan kepada perintah langsung pemimpin Suriah, Bashar al-Assad, tampaknya akan menjadi alasan bagi Amerika guna menghapus sepenuhnya sistem totaliter di Suriah.

Sementara itu Palestina pun telah menerapkan sistem demokrasi secara penuh setelah kematian Yasser Arafat. Di sisi lain, sekutu Amerika di Eropa telah berhasil menjinakkan Khadafi, diktator Arab belahan Barat lainnya. Kemudian, Arab Saudi pun akhirnya bersedia memulai sistem demokrasi secara bertahap dimulai dengan menyelenggarakan pemilu untuk memilih anggota dewan kota Riyadh, yang sangat boleh jadi akan membuka jalan bagi runtuhnya kerajaan Arab Saudi itu sendiri. Terakhir, Kuwait telah bergerak lebih jauh dalam menerapkan sistem demokrasi, sekaligus mengizinkan kaum perempuan mengikuti pemilu.

Hal yang sama terjadi di negeri-negeri muslim di Asia Tengah bekas wilayah Uni Soviet. Rakyat Kirgizstan melakukan revolusi menumbangkan rezim diktator pimpinan Askar Akayev pada Maret 2005 dan melakukan pemilu yang demokratis pada Juli 2005. Sebelumnya, pada Mei 2005 terjadi sebuah tragedi ketika sebuah demonstrasi oleh rakyat Uzbekistan dibantai oleh tentara yang menewaskan lebih kurang 500 orang. Kejadian itu serta merta menimbulkan teriakan di negara-negara Barat, khususnya pemerintah Inggris dan Amerika, agar Uzbekistan segera mendemokratisasi negerinya. Barangkali ini merupakan awal dari proses menuju penumbangan diktator Islam Karimov yang memimpin negeri itu. Agaknya, revolusi menumbangkan rezim-rezim diktator juga akan segera mengimbas ke negara-negara muslim tetangganya seperti Kazakhastan dan Tajikistan. Kemudian pada 18 September 2005, Afganistan menyelenggarakan pemilu. Demikian pula di Azerbaijan, terjadi demo menuntut pengulangan pemilu yang dinilai curang oleh pihak oposisi.

Dari uraian di atas jelaslah bahwa paham kufur ini telah melanda seluruh dunia Islam. Metode penerapannya di negeri-negeri itu dipaksakan oleh Barat dengan cara-cara yang amat kasar. Maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa fitnah demokrasi ini benar-benar telah menampar umat Islam dengan tamparan yang keras, di mana mereka yang menghendaki tegaknya syari’at Islam akan menghadapi tuduhan-tuduhan jahat dan julukan-julukan yang menyakitkan.

2. Fitnah duhaima’ tidak diketahui kapan masa berakhirnya. Demikian pula dengan fitnah demokrasi.

Wacana tentang kemunculan al-Mahdi yang sudah semakin dekat banyak dikaitkan dengan beragam gejala dan fenomena yang ada saat ini. Bagi sebagian peneliti yang meyakini bahwa al-Mahdi adalah seorang khalifah yang muncul setelah berakhirnya periode mulkan jabbar, maka keberadaan sistem demokrasi yang telah menggusur sistem mulkan jabbar justru menjadi satu pertanyaan tersendiri. Kemunculan ideologi demokrasi yang menggusur dan menumbangkan ideologi diktator dianggap menjadi tanda dekatnya masa yang dijanjikan oleh Rosululloh ﷺ tentang kemunculan khilafah rasyidah (al-Mahdi) itu sendiri. Dengan kata lain, kemunculan periode demokrasi liberal merupakan pengantar untuk datangnya masa khilafah rasyidah.

Sebagaimana tanda-tanda kiamat lainnya (yang semuanya kebanyakan merupakan perkara-perkara gaib), demikian pula dengan kemunculan Imam Mahdi yang merupakan salah satu tanda kiamat. Ahlus Sunnnah meyakini bahwa kemunculan Imam Mahdi dengan khilafah rasyidahnya merupakan masalah ghaib yang tidak seorang pun bisa memastikan kapan kemunculannya secara detil.

Dengan demikian, keberadaan fitnah demokrasi yang menggantikan periode mulkan jabbar adalah sebuah masa yang tidak seorang pun mengetahui masa berakhirnya. Meski sudah banyak kalangan yang membuat analisa dan perkiraan tentang kemunculan al-Mahdi (dan sebagian besar tidak terbukti), nyatanya hingga kini al-Mahdi belum juga muncul. Pertanyaan tentang kapankah al-Mahdi akan muncul tidak jauh berbeda dengan pertanyaan “kapankah masa keemasan demokrasi liberal ini akan berakhir”?

Sebab, sebagaimana analogi di atas, dengan berakhirnya masa keemasan demokrasi —dan demi Alloh, demokrasi ini pasti akan tumbang— maka akan dimulailah periode khilafah rasyidah.

3. Fitnah duhaima’ akan menimbulkan efek munculnya orang-orang yang beriman di pagi hari dan kufur di sore atau sebaliknya. Yang terjadi pada fitnah demokrasi juga sebagaimana yang terjadi pada fitnah duhaima’.

Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa demokrasi merupakan ideologi kufur yang tidak menghendaki campur tangan Alloh dalam urusan manusia dengan dunianya. Keengganan sekelompok masyarakat untuk menjadikan hukum Alloh sebagai aturan hidup dan menjadikan pendapat mayoritas sebagai acuan dalam mengambil setiap aturan hidup merupakan bentuk kesyirikan nyata. Dengan demikian, besar kemungkinan semua pihak yang turut mengambil bagian dalam tegaknya sistem demokrasi ala Barat ini akan terjerumus dalam lubang kekafiran. Dan realita seperti inilah yang kebanyakan tidak disadari oleh banyak manusia.

Wal iyadz billah.

4. Fitnah duhaima’ akan membelah manusia menjadi dua kelompok besar; kelompok mukmin yang tidak tercampur dengan kemunafikan dan kelompok munafik yang tidak memiliki keimanan. Hal yang serupa juga bisa terjadi pada fitnah demokrasi.

Satu hal yang juga lazim terjadi dalam sistem demokrasi adalah pemilu, di mana seorang pemimpin —yang kelak membuat/mengesahkan undang-undang kufur— dipilih berdasarkan suara mayoritas. Dalam hal ini, setiap rakyat baik yang setuju atau tidak setuju dengan pemimpin yang terpilih, secara konstitusi harus menerima pemimpin tersebut dan menaati putusannya.

Semakin melengkapi rusaknya sistem ini adalah bahwa secara mayoritas pemimpin yang terpilih adalah mereka yang paling jauh dari Alloh dan Rosul-Nya, di mana hukum yang akan ditegakkan oleh pemimpin tersebut bukanlah al-Qur’an dan Sunnah. Pemimpin semacam ini sudah bisa dipastikan lebih dekat kepada kekufuran daripada keimanan, sedang menaati mereka bisa menjerumuskan pada kemunafikan.

Dalam hal ini, kemunculan Imam Mahdi di akhir zaman sudah dipastikan akan memerangi agama demokrasi dan menegakkan seluruh syari’at Islam tanpa kompromi. Maka sangat tepat jika kita katakan bahwa mereka yang menerima kepemimpinan Imam Mahdi secara total dipastikan akan turut memerangi ideologi demokrasi yang telah menghina Alloh dan menyekutukan-Nya. Kelompok yang bergabung dengan al-Mahdi akan memerangi para konseptornya, pengusungnya, orang-orang yang dipilihnya, termasuk para pemilihnya. Mereka yang memerangi ideologi setan itulah mukmin sejati, sedang mereka yang merasa berat meninggalkan ideologi kufur ini pastilah seorang munafik.

Wallohu a’lam bish showab.

Antara Fitnah Duhaima’ dan Fitnah Perang Melawan Terorisme

Selanjutnya beberapa poin berikut akan menjelaskan beberapa korelasi antara fitnah duhaima’ dengan realita fitnah perang melawan terorisme:

1. Fitnah duhaima’ akan menghantam seluruh umat Islam. Hal yang serupa juga terjadi pada fitnah perang melawan terorisme.

Pasca peristiwa runtuhnya WTC, Amerika dengan dibantu negara-negara Barat langsung menyatakan perang terhadap terorisme. Untuk lebih mengefektifkan hasil dari perang ini, Amerika menekan seluruh negara dunia untuk turun mengambil bagian dalam perang ini. Pada kenyataannya, perang ini lebih ditujukan untuk menghabisi Islam dan kaum muslimin, hal itu terbukti dari jumlah korban yang ditimbulkan akibat perang ini lebih banyak menimpa kepada sipil dan rakyat yang tak berdosa ketimbang memburu orang-orang yang tertuduh sebagai teroris. Atas kejadian ini, dunia Islam merasakan musibah yang belum pernah dialami sebelumnya.

Hal yang lebih mengerikan adalah bahwa Bush langsung mengambil tindakan kalap lainnya; Bush tidak mengizinkan manusia mana pun di dunia ini (terkhusus dunia Islam) untuk bersikap netral. Salah satu jargon dalam perang ini adalah; “Bersama kami atau bersama teroris!” Terhadap beberapa negara yang menolak untuk bekerjasama, pemerintahan Bush memberikan opsi yang sangat pahit; “Lawan kami atau bergabung bersama kami!”

Demikianlah realita yang terjadi dalam perjalanan perang melawan terorisme ini. Seluruh dunia Islam berkabung. Tidak ada lagi untuk menyatakan kebebasan berpendapat dan HAM kecuali sesuai dengan restu Amerika, dan tidak ada lagi ruang netral untuk memilih sikap.

Dalam hal ini, korelasi antara fitnah duhaima’ dan fitnah terorisme yang dilihat dari sudut pandang meratanya fitnah ini kepada seluruh dunia Islam —terlebih negara-negara Arab— bukanlah hal yang samar. Tidak satu pun negara berpenduduk Islam kecuali harus mengambil opsi ini. Mereka yang berani menolak secara terang-terangan dapat dipastikan akan berhadapan dengan Amerika. Maka secara realita, fitnah terorisme ini telah menghantam kaum muslimin, baik mereka yang dianggap teroris maupun bukan. Sebab, dalam praktiknya perang melawan teroris ini hanyalah sekadar kedok bagi Amerika dan Barat untuk bisa melampiaskan dendam mereka terhadap kaum muslimin dengan dukungan seluruh penduduk dunia. Amerika telah memiliki standar baku untuk definisi muslim yang boleh hidup dan muslim yang harus dimusnahkan. Dan setiap pembaca akan mengerti; siapakah muslim yang diperkenankan untuk tetap bernafas oleh Amerika, dan siapa pula umat Islam yang harus dimusnahkan.

2. Fitnah duhaima’ tidak diketahui kapan masa berakhirnya. Demikian pula dengan fitnah perang melawan terorisme.

Sebagian pemikir dunia telah memprediksi bahwa peristiwa 11 September 2001 yang meruntuhkan gedung kembar di New York akan mengubah jarum sejarah. Dan realita yang kita saksikan hingga detik menunjukkan kebenaran statement tersebut.

Maka, jika benar bahwa fitnah perang melawan anti terorisme ini merupakan bagian dari fitnah duhaima’, besar kemungkinan fitnah ini akan menggulung manusia (kaum muslimin) dalam jangka waktu yang sangat panjang. Perang ini akan terus berlangsung selama batas waktu yang tidak bisa diprediksi. Sebagaimana yang juga dikatakan oleh George W Bush sendiri dalam salah satu pidatonya pasca serangan 11 September, bahwa perang melawan terorisme ini akan terus berlangsung dan memakan waktu yang sangat panjang, yang tidak bisa diprediksi kapan akan berakhir.

Wal iyadzu billah, wa la haula wa la quwwata illa billah.

3. Fitnah Duhaima’ akan menimbulkan efek munculnya orang-orang yang beriman di pagi hari dan kufur di sore atau sebaliknya. Yang terjadi pada fitnah perang melawan terorisme juga sebagaimana yang terjadi pada fitnah duhaima’.

Secara dzahir, kita bisa melihat bahwa fitnah perang melawan terorisme ini telah menyebabkan munculnya sekelompok manusia yang dengan sangat mudah menggadaikan keimanan mereka. Hal ini bisa kita saksikan pada kondisi kaum muslimin di berbagai belahan dunia. Amerika telah memaksa setiap negara untuk bergabung bersamanya dalam memerangi umat Islam di Afganistan dan Iraq, dan mereka yang menolak permintaan ini akan mendapatkan sanksi yang tidak kecil. Sebagian negeri ada langsung mendapat ancaman embargo ekonomi juga senjata, bahkan boikot internasional juga dijatuhkan atas negeri-negeri yang membangkang untuk tunduk kepada Amerika. Sebagian lain mendapat ancaman akan diserang langsung jika tidak tunduk kepada keinginan Amerika. Negeri-negeri itu —karena berangkat untuk mencari wajah Amerika atau karena rasa takutnya yang berlebihan— telah membuat mereka menuruti apa pun yang diinginkan oleh Amerika. Mereka berikan apa pun yang diinginkan, baik moril maupun materi. Dengan demikian, ketundukan para pemimpin negara —yang tentunya disetujui oleh anggota dewannya— untuk memberikan bantuan dan dukungan kepada Amerika baik dalam bentuk moril maupun materi, dalam rangka memerangi umat islam yang ada di Afganistan, Iraq maupun Palestina dan negeri-negeri Islam lainnya; termasuk perkara perkara yang membatalkan keislaman seseorang. [4]

Bagaimana seorang muslim divonis kafir dalam kasus fitnah duhaima’ ini? Jika asumsi fitnah perang terhadap terorisme ini benar-benar merupakan fitnah duhaima’, maka yang paling tampak darinya adalah sikap ‘tawalli’ dan ‘mudzaharah’, yaitu memberikan loyalitas dan memberikan bantuan kepada orang-orang kafir dalam memerangi kaum muslimin. Bentuknya sangat beragam, mulai dari dukungan untuk memerangi kaum muslimin, bergabung sebagai tentara sekutu, ikut ambil bagian dalam penangkapan-penangkapan terhadap para mujahidin dengan tuduhan bahwa mereka adalah teroris maupun sekadar memberikan informasi kepada para thaghut tentang keberadaan mereka, atau sekadar kesanggupan untuk memberikan dukungan moril dan tidak mengecam mereka.

Kesimpulannya, bahwa bekerja sama dengan Amerika dalam memerangi umat Islam di belahan bumi mana pun, dengan cara apa pun, baik sekadar lisan maupun moral dan materi, maka itu semua merupakan salah satu dari yang membatalkan keislaman seseorang. Dalam skala luas yang dilakukan oleh sebuah negara, maka bentuk tawalli dan mudzaharah ini bisa dalam bentuk menyediakan fasilitas dan tempat yang memudahkan bagi para thaghut Amerika dalam memerangi negeri-negeri Islam. Ada pun alasan bahwa mereka terpaksa, maka alasan ini adalah tertolak dan tidak akan mendapatkan udzur di sisi Alloh.

4. Fitnah duhaima’ akan membelah manusia menjadi dua kelompok besar; kelompok mukmin yang tidak tercampur dengan kemunafikan dan kelompok munafik yang keimanan. Hal yang serupa juga bisa terjadi pada fitnah perang melawan terorisme.

Jika melihat fenomena yang terjadi saat ini, maka realita yang ada menunjukkan bahwa apa yang saat ini terjadi merupakan jawaban dari apa yang dijanjikan oleh Rosululloh ﷺ tentang fitnah duhaima’. Kami menduga —dan hakikat yang sesungguhnya kita serahkan kepada Alloh— bahwa peristiwa fitnah terorisme adalah hakikat dari fitnah duhaima’ atau setidaknya merupakan bagian dari fitnah duhaima’ itu sendiri. Perang anti terorisme yang dikampanyekan oleh Amerika dan sekutunya terus berlangsung hingga kini. Dan, sebagaimana realita yang terjadi, fitnah perang anti terorisme ini telah membelah manusia dalam dua kelompok ; kelompok mukmin sejati yang tanpa sedikit pun dicemari oleh kemunafikan, dan kelompok munafik yang tidak memiliki keimanan. [5]

Kelompok mukmin sejati adalah mereka yang bersama para mujahidin, membelanya dan memberikan dukungan secara moril dan materi. Sedangkan kelompok munafik adalah umat Islam yang memberikan bantuan dan pembelaan kepada para thaghut kuffar dalam memerangi kaum muslimin.

Dengan demikian, wajib bagi setiap mukmin untuk waspada dengan berbagai isu yang menyudutkan kaum muslimin. Sangat mungkin bagi mereka yang tidak menyadarinya akan masuk dalam perangkap yang dibuat oleh musuh-musuh islam. Sesungguhnya efek fitnah duhaima’ ini akan memaksa setiap orang untuk memilih salah satu dari dua kubu; kubu keimanan yang tidak tercampuri dengan kemunafikan dan kubu kenifakan yang tidak terdapat keimanan sedikit pun di dalamnya. Kedua pilihan ini memiliki konsekwensi yang sangat berat, sebab kedua kubu tersebut memiliki sifat yang diametral dan akan terus bertarung hingga datangnya kiamat.

Wallohu a’lam bish shawab, untuk sementara pendapat tentang fitnah duhaima’ yang bermakna ideologi demokrasi sekuler liberal dan perang melawan umat Islam atas nama pemberantasan terorisme barangkali merupakan pendapat yang lebih dekat kepada kebenaran daripada fitnah lainnya. Dan sesungguhnya, pemaksaan ideologi demokrasi sekuler liberal sebenarnya juga memiliki hubungan yang sangat erat dengan fitnah terorisme ini. Karena pemaksaan demokrasi sekuler liberal dengan sendirinya merupakan perang terhadap konsep khilafah dan kewajiban kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah yang hari ini menjadi cita-cita kelompok yang tertuduh sebagai teroris itu.

Wallohu a’lam bish shawab. []

Sumber: Ustadz Abu Fatiah al-Adnani

[1] HR Abu Dawud, bab Dzikrul Fitan wa Daliluha, XII/ 354.S

[2] HR Bukhari no. 6567 dan Muslim no. 5150 dari Hudzaifah bin al-Yaman.

[3] Rosululloh ﷺ bersabda: “Masa kenabian akan berlangsung di tengah kalian selama masa yang dikehendaki Alloh. Kemudian Alloh akan mengangkatnya jika Ia telah menghendakinya. Kemudian akan berlangsung masa kekhilafahan yang sesuai dengan jalan yang dicontohkan oleh Nabi (minhajin nubuwwah), selama masa yang dikehendaki oleh Alloh. Kemudian Alloh akan mengangkatnya jika Ia telah menghendakinya. Kemudian akan berlangsung masa kekuasaan para raja yang menggigit, selama masa yang dikehendaki oleh Alloh.  Kemudian Alloh akan mengangkatnya jika Ia telah menghendakinya. Kemudian akan berlangsung masa kekuasaan para raja yang memaksa (diktator), selama masa yang dikehendaki oleh Alloh. Kemudian Alloh akan mengangkatnya jika Ia telah menghendakinya. Kemudian akan berlangsung masa kekhilafahan yang sesuai dengan jalan yang dicontohkan oleh Nabi.” Nabi kemudian diam. HR Ahmad no. 17680 dan ath-Thayalisi no. 433. al-Haitsami dalam Majma’ az-Zawaid 5/189 berkata, “Diriwayatkan oleh Ahmad, al-Bazzar dan at-Thabrani sebagiannya dalam al-Mu’jam al-Ausath, dan para perawinya adalah tsiqah.” Dinyatakan hasan oleh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 5.

[4] Bagi pembaca yang ingin mengetahui masalah ini silakan merujuk kepada tulisan syaikh Nashr bin Hamd Al-Fahd dalam kitab beliau yang berjudul “At Tibyan fie Kufri Man A’ana Amrikan” (Penjelasan tentang Kafirnya Orang yang Membantu Amerika).

[5] Mengutip apa yang dikatakan oleh presiden George W Bush dalam kampanye perang anti terorisnya, ia telah membagi manusia di seluruh dunia menjadi dua kelompok; teroris dan anti teroris; bersama kami atau bersama teroris. Juga apa yang dinyatakan oleh Syaikh Usamah bin Ladin pasca serangan WTC, beliau mengatakan bahwa perang ini akan membelah manusia menjadi dua kelompok besar; kelompok iman yang tidak ada kenifakan di dalamnya dan kelompok nifak yang tidak memiliki keimanan. (Lihat: Nasihat dan Wasiat kepada Umat Islam –Granada dan “Bukan, tapi perang terhadap Islam” oleh Muhammad Abbas– WIP)

About Author

Categories