
Islam yang Disuka dan Islam yang Didakwa
MUSTANIR.net – Kita hidup di alam modern. Beberapa sosiolog besar, seperti Weber, berpandangan bahwa modernitas berkaitan erat dengan sekularisasi.
Pasalnya, rasionalitas manusia modern akan membuat dunia —di mata mereka— kehilangan aspek magisnya (rasionalisasi dan demagisasi). Muncul keyakinan bahwa semua hal yang sebelumnya menjadi misteri nantinya akan dapat dijelaskan secara memuaskan lewat akal dan sains, sehingga penjelasan ala agama yang dogmatis terdengar naif dan agama pun tidak akan laku lagi.
Sebab sekularisasi yang lain adalah adanya diferensiasi dalam kehidupan masyarakat modern. Berbagai wilayah kehidupan publik, termasuk politik, yang semula tak dipisahkan dari otoritas kaum agamawan, kini diurusi oleh otoritas-otoritas keduniaan di bidang masing-masing. Keadaan ini membuat otoritas keagamaan terdesak mundur hingga berdiri tepat di belakang garis yang memisahkan kehidupan publik dengan wilayah ritual-keagamaan yang bersifat privat. Setelah itu tak ada lagi aturan agama dalam ekonomi, tak ada lagi aturan agama dalam politik.
Tak dapat dipungkiri, memang seperti itulah yang terjadi di Barat. Kini, setiap paham yang melawan arus sekularisme akan dianggap sebagai penentangan terhadap modernitas, istilah bekennya: fundamentalisme, atau istilah sadisnya, dalam pertarungan di ranah filsafat: flat-earthism.
Namun, apakah relasi antara modernitas dan sekularisme ini bersifat universal?
Kenyataannya tidak. Modernitas tampaknya bukan berurusan dengan semua agama, melainkan hanya dengan dogma-dogma dan perilaku otoritas keagamaan yang bermasalah seperti yang terjadi di dunia Kristen Eropa. Artinya, kemajuan ilmu dan teknologi tak dengan sendirinya menentang agama.
Ketika sekularisme datang ke dunia Islam —melalui tegaknya negara-negara bangsa yang lahir pasca kolonialisme dan gelombang westernisasi yang datang bak air bah—, umat Islam yang sadar pun merasakan kegelisahan. Pasalnya, keyakinan mereka menuntut mereka untuk seutuhnya hidup dalam pengaturan agama.
Sejak dulu tidak ada agamawan yang mendominasi hidup mereka, yang ada hanyalah orang-orang biasa yang punya kewajiban untuk menjalankan wewenangnya dengan aturan-aturan agama, termasuk pemimpin negara. Kini, sebagian besar urusan kehidupan mereka dipisahkan dari dimensi spiritual, berjalan tanpa tatanan agama yang semestinya ditaati.
Keresahan seperti inilah yang melahirkan berbagai perjuangan untuk mengubah keadaan. Sayangnya, bagi otoritas-otoritas sekular yang terlanjur mapan, perjuangan umat Islam untuk bebas dari sekularisme ini akan selalu didakwa sebagai kekuatan jahat yang bersifat merusak.
Ini bisa dipahami karena setiap hal yang telah mapan pasti akan mempertahankan diri dari perubahan yang kontras, sesalah apa pun kemapanannya itu. Jadilah para penentang sekularisme ini menjadi pemeluk Islam yang didakwa dengan macam-macam dakwaan.
Sebaliknya, umat Islam yang tidak sadar, atau telah merasa nyaman dengan situasi yang ada, syukur-syukur malah ikut membela keadaan itu di hadapan umat Islam yang lain, maka mereka akan dipuji-puji sebagai pemeluk agama yang sebenarnya, pemeluk Islam yang disayang-sayang oleh tatanan sekular yang ada.
Mari sadarkan. []
Sumber: Ramane Ranu
