Freemason dan Zionis: Dua Nama, Satu Tujuan

MUSTANIR.net – Freemason dikenal sebagai jaringan rahasia yang berakar dari Eropa. Zionisme adalah gerakan politik Yahudi modern. Meskipun berbeda, keduanya saling terkait dalam proyek besar di Palestina.

Pada 1897, Theodor Herzl memimpin Kongres Zionis di Basel. Misi utamanya: mendirikan negara Yahudi di Palestina. Gerakan ini mencari dukungan dari kekuatan besar Eropa.

Pada awal abad ke-20, banyak pejabat Inggris adalah anggota Freemason. Tokoh Zionis seperti Chaim Weizmann menggunakan akses ini untuk melobi pemerintah Inggris. Dukungan keluarga Rothschild berperan dalam lahirnya Deklarasi Balfour (1917) yang membuka jalan bagi berdirinya Israel.

Freemason berawal dari perkumpulan tukang batu di Inggris abad ke-18. Simbolnya terinspirasi dari Kuil Sulaiman. Perlahan berkembang jadi wadah bangsawan, politisi, dan pemikir Eropa.

Dukungan Freemason terhadap Zionis bukan hanya soal politik, tapi juga ideologi. Melalui jaringan elit dan pertemuan rahasia, mereka menyebarkan gagasan liberalisme, persaudaraan universal, dan pemisahan agama dari politik. Ini menjadi fondasi bagi pemikiran yang memengaruhi masyarakat luas.

Freemason menyebarkan gagasan liberty, equality, fraternity. Prinsip ini melahirkan liberalisme, memisahkan agama dari kehidupan sosial-politik. Lingkungan inilah yang membuat gagasan Zionis mudah diterima.

Freemason membuka keanggotaan lintas agama. Namun, syariat dan doktrin agama tidak diutamakan. Agama dipandang sebatas simbol moral, bukan pedoman hidup.

Freemason menempatkan Kuil Sulaiman sebagai simbol sentral. Di Israel modern, kelompok Zionis ekstrem mendirikan Temple Institute untuk merancang ‘Third Temple’. Lokasinya di kompleks Masjid al-Aqsha.

Pembangunan kuil di area Haram al-Sharif berarti ancaman bagi Masjid al-Aqsha. Hal ini berpotensi memicu konflik global dan disebut dalam literatur agama sebagai fitnah besar di akhir zaman.

Freemasonry hadir sejak Hindia Belanda sebagai Vrijmetselarij, aktif di Batavia, Semarang, Surabaya. Tahun 1961-1962, Presiden Soekarno membubarkan aktivitas ini. Tahun 2000, Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mencabut larangan lewat Keppres No.69/2000.

Meskipun Fremason tidak seterbuka dahulu, perlu kehati-hatian dari rakyat Indonesia. Freemason mendorong gagasan semua agama sama, syariat dipinggirkan. Di Indonesia, ide ini muncul dalam bentuk sinkretisme, pluralisme berlebihan, relativisme agama. Kita perlu waspada agar toleransi tidak berubah menjadi pengaburan iman.

Jaga toleransi sosial antarumat (kerja sama, hormat, harmoni), tapi tegakkan aqidah asli di tempat ibadah masing-masing (masjid, gereja, pura, vihara). Contoh nyata: edukasi agama, penguatan komunitas, suara aktif menjaga ajaran.

Sekarang saatnya bertindak nyata: dukung Palestina melalui doa, edukasi, dan kampanye di tempat ibadah masing-masing. Tolak normalisasi yang mengabaikan hak Palestina dan pertahankan Masjid al-Aqsha sebagai simbol agama dan sejarah. []

Sumber: Indonesia Netizen Force

• John Hamill, The Craft: History of Freemasonry (1986)
• Rashid Khalidi, Palestinian Identity (1997)
• Martin van Bruinessen, Genealogies of Islamic Radicalism in Indonesia (2013)
• HB Hameed & Amna Ali, Zionism and Freemasonry: A Research Review (2024)
• Michelle Campos, Freemasonry in Ottoman Palestine (2005)
• Ajid Thohir, The Struggle of Freemasonry and Islamic ideology in the Twentieth Century During Colonialization in Indonesia (2021)
• Alexander Maroske, The Complex Legacy of Freemasonry in Indonesia (2024)
• Herry Nurdi, Jejak Freemason dan Zionis di Indonesia (2007)
• Indonesia and the Palestinian Cause
• Indonesia-Palestine Relations
• Aksi Solidaritas Palestina: Monas, Jombang, Bandung, Palembang (Antara, Detik, Liputan 6, CNBC Indonesia)

About Author

Categories