
Gaza Kelaparan, Pakar: Hasil Kebijakan Politik Sistemis
MUSTANIR.net – Lebih dari 80% penduduk Gaza mengalami kelaparan parah, infrastruktur hancur, dan bantuan terhambat akibat blokade Zionis. Terjadi malnutrisi massal dan ancaman kelaparan kronis. Menurut pakar ekonomi Islam Nida Saadah, SE, Ak., MEI, ini terjadi bukan akibat bencana alam, tetapi hasil kebijakan politik sistemis.
“Gaza sedang mengalami krisis kemanusiaan luar biasa. Meskipun banyak yang membantu, tetapi problemnya bukan kekurangan makanan, melainkan hasil kebijakan politik sistemis,” tuturnya dalam Focus Group Discussion (FGD) Intelektual Muslimah bertajuk ‘Tragedi Gaza dan Jalan Penyelamatan Hakiki: Solusi Syariat Kafah’, Ahad (27-7-2025), yang dilaksanakan secara hibrida.
Kemudian, ia menerangkan tahapan-tahapan terjadinya bencana kelaparan di Gaza. “Tahap awal, kekurangan makanan pokok. Langkah ini dilakukan melalui kerja sama antara ‘Israel’ dan Mesir dengan melakukan blokade total. Tahap menengah, warga Gaza ketergantungan pada bantuan. Tahap kronis, malnutrisi akut sehingga anak-anak meninggal. Pada tahap ini ‘Israel’ telah mendapatkan hasil dari rencana mereka. Terakhir, tahap massal, genosida perlahan. Kelaparan by design ini menjadi alat perang (genocide malnutrition),” tuturnya miris.
Ia menyesalkan, dunia saat ini gagal menolong Gaza karena PBB dan lembaga internasional memberi bantuan terbatas.
“Belum lagi, negara muslim terpecah, tidak punya kepemimpinan tunggal; donasi hanya solusi jangka pendek, bahkan ribuan truk tertahan; serta tidak ada solusi jangka panjang dan sistemis. Jadi, karena persoalan Gaza didesain secara sistemis, maka membutuhkan solusi sistemis,” cetusnya.
Solusi Sistemis
Solusi sistemis tersebut, jelasnya, ada dalam Islam dengan penerapan syariat kafah, yakni memutuskan hubungan diplomatik dengan penjajah, memobilisasi militer dari negeri muslim, serta reunifikasi umat dalam suatu kepemimpinan dengan mewujudkan khilafah pelindung umat.
Negara atau khilafah, lanjutnya, bertanggung jawab sebagai penjaga nyawa kaum muslim. “Tanggung jawab ini fardu sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ riwayat Bukhari-Muslim, ‘Sesungguhnya seorang imam itu (laksana) perisai. Ia akan dijadikan perisai, di mana orang akan berperang di belakangnya dan digunakan sebagai tameng.’,” ujarnya.
Selain itu, ungkapnya, khilafah memiliki kewajiban membela Gaza dengan menghapuskan penjajahan, mengirimkan pasukan, logistik, dan membebaskan wilayah. “Negara hadir menjadi penjaga harta, darah, dan kehormatan kaum muslim,” ucapnya.
Ia menyampaikan, jika negeri-negeri muslim bersatu, ada kesiapan militer dengan kekuatan yang cukup, kesiapan mandiri pangan, kesiapan industri dengan sumber daya alam melimpah, deposit pasokan sumber energi, juga sumber daya manusia.
“Namun, hari ini kita kehilangan konsep kekuatan persatuan (one ummah) dengan penghalangnya, yaitu demokrasi, nation state, dan pengkhianatan penguasa negara muslim,” bebernya.
Oleh karena itu, ia mengingatkan, kaum muslim mesti berkontribusi mewujudkan solusi sistemis tersebut berupa persatuan yang diperoleh dengan menerapkan syariat kafah melalui khilafah Islamiah. []
Sumber: M News
