Gempa Aceh dan Banjir Jawa Barat, Salah Siapa?

Gempa Aceh dan Banjir Jawa Barat, Salah Siapa?

Oleh Rusyadi Hidayatullah

الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan-tangan manusia, supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS ar-Rum [30]: 41).

TAFSIRNYA ADALAH SEBAGAI BERIKUT :
Asy-Syaukani, at-ta’rîf (bentuk ma’rifah) pada kata al-fasâd menunjukkan li al-jins (untuk menyatakan jenis). Artinya, kata tersebut mencakup semua jenis kerusakan yang ada di daratan maupun di lautan.

Semua kerusakan dalam bidang politik, ekonomi, pendidikan, kesehatan, moral, alam, dan sebagainya termasuk dalam cakupan kata al-fasâd.

Demikian pula kata al-barr dan kata al-bahr. Huruf al-alif wa al-lâm pada kedua kata itu memberikan makna li al-jins sehingga menunjukkan makna semua daratan dan semua lautan.

Dengan demikian, ayat ini memberikan pengertian bahwa telah tampak dengan jelas semua jenis kerusakan di seluruh muka bumi, baik di daratan maupun lautan.

Berbagai kerusakan itu tidak terjadi tiba-tiba. Pangkal penyebabnya disebutkan dalam firman Allah Swt. berikutnya: bimâ kasabat aydî al-nâs (disebabkan oleh perbuatan tangan manusia).

Menurut ayat ini, pangkal penyebab semua kerusakan di seluruh muka bumi itu adalah ulah perbuatan manusia.

Dijelaskan oleh para mufassir bahwa ulah perbuatan yang dimaksud adalah perbuatan dosa dan maksiat.

Al-Jazairi menafsirkannya: bi zhulmihim wa kufrihim wa fisqihim wa fujûrihim (karena kezaliman, kekufuran, kefasikan dan kejahatan mereka).

Al-Baghawi menyebutnya bi syu’ dzunûbihim karena keburukan dosa-dosa mereka).

Tidak jauh berbeda, Ibnu Katsir memaknainya bi sabab al-ma’âshî (karena kemaksiatan-kemaksiatan).

Al-Zamakhsyari dan Abu Hayyan menuturkan bi sabab ma’âshîhim wa dzunûbihim (karena perbuatan maksiat dan dosa mereka).

Meskipun dengan ungkapan yang agak berbeda, pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Syihabuddin al-Alusi, al-Baidhawi, al-Samarqandi, al-Nasafi, al-Khazin, dan al-Shabuni.

Menurut al-Alusi, kesimpulan tersebut sejalan dengan firman Allah Swt.:

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

Musibah apa saja yang menimpa kalian adalah akibat perbuatan tangan kalian sendiri (QS asy-Syura [42]: 30).

Dengan demikian, ayat ini memastikan bahwa pangkal penyebab terjadinya seluruh kerusakan di muka bumi adalah pelanggaran manusia atas ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Penyebab utama adalah berpalingnya negara dari menerapkan syariat Islam dalam sistem ekonomi, sosial dan politik.

Sehingga fasad dalam distribusi kekayaan negara. Kekayaan negara hanya menumpuk pada 1% masyarakatnya dan 99% lainnya berada dalam kondisi prasejahtera.

Keengganan negara ini akan sangat berpengaruh kepada fasadnya individu. Apalagi individu tersebut bersatu dalam sebuah korporasi untuk mengeksplorasi SDA secara massif.

Sehingga terjadilah bencana alam disetiap sudut kota, pedesaan dan negara.

Alangkah ironis jika bencana alam tersebut diambil alih oleh ormas ormas yang peduli akan bencana, sementara negara masih saja dengan kemaksiatannya menerapkan sistem sekuler sebagai penyebab bencana itu terjadi dan terulang kembali di lain waktu.

Sudah waktunya ormas ormas tersebut meninggalkan mengurusi gejala problematika yang ada dan fokus kepada sebab problematika itu.

Dengan seksama mengawasi dan mendesak pemerintah untuk meninggalkan sistem sekuler demokrasi kufur dan menggantikannya dengan sistem Islam yang rahmatan lil Aalamiin.

Dengan demikian maka terwujudnya negara yang bertaqwa adalah urusan diatas segala urusan yang harus diperjuangkan oleh setiap muslim.
Wallahu a’lam bish showab.

Categories