Ketika Umat Kini Memusuhi Roti

Ketika Umat Kini Memusuhi Roti

Oleh : Hafiz Alwan

Awalnya merasa lucu juga ketika umat ini ‘memusuhi roti’, rasa-rasanya standar siapa yang dianggap berbahaya oleh umat seperti menurun. Apalagi jika kita melihat track record siapa saja akhir-akhir ini yang masuk kedalam daftar umat Islam yang dianggapnya berbahaya, seperti : Kristenisasi sistematis, Liberalisasi agama,neo-Imperialisme Asing dan kini sepotong roti, terdengar bagai lelucon. Namun setelah direnungi, ternyata tidak main-main jika dikatakan oleh sebagian orang bahwa umat Islam sedang bangkit, layaknya air tenang yang dilempar kerikil kecil kini menjadi ombak besar yang siap menghanyutkan siapa saja yang coba-coba meremehkannya.

Hal itu terbukti, jika sebelumnya umat Islam menghadapi korporasi media, sebuah media pro pemerintah yang cukup besar dan lama berkecimpung didunia media massa dan mampu memaksanya menundukan kepala setelah bertahun-tahun bersikap pongah terhadap umat Islam, didasar kubangan rating satu tingkat diatas TVRI yang menduduki posisi terakhir. Ya, meski data per 5 Desember 2016 itu bersifat dinamis, tetapi hal ini telah menunjukkan bahwa kekuatan umat Islam sudah tidak bisa diremehkan lagi, terlebih pergerakan cyber umat Islam yang tanpa komando, mampu bergerilya di dunia maya sehingga sering kali umat Islam memenangkan perang paradigma dan opini umum.

Kembali ke masalah roti, bahwa benar adanya umat Islam sangat terlihat garang akhir-akhir ini, siapapun yang meremehkannya pasti akan dilibas, Ya meski roti sekalipun tiada ampun. Inilah Izzah Islam wal Muslimin, jika berpuluh-puluh tahun umat Islam bagai terantai slogan keramat ‘Bhineka Tunggal Ika’, tapi nampaknya umat Islam kini mulai sadar bahwa membela Agama dan menjaga kemuliaannya adalah diatas segala-galanya. Masih ingatkah kita pembakaran masjid di Tolikara ? Ketika umat Islam mengecam itu justru dianggap berlebihan namun dilain sisi para pembakar masjid diundang untuk makan malam di Istana ? Kasus demi kasus yang ada ternyata memang menjadi bola salju yang terus menggelinding kencang, dan seberapa besarnya bola salju bisa dilihat dari aksi Bela Islam 212 kemarin.

Tidakkah kita menyadari, jika pada kasus pembakaran masjid sekalipun, dulu yang bereaksi hanya sebagian umat Islam saja, terlebih mereka memang aktivis dakwah dan anggota dikelompok dakwah tertentu, pastilah bereaksi atas isu-isu Islam memang sudah menjadi santapan sehari-hari. Tapi kini lihatlah umat bereaksi sangat kencang dan mengecam habis-habisan press release sebuah perusahaan roti yang dianggapnya terlalu tendensius dan merendahkan umat Islam.

Ya, hanya sebuah press release! Bukankah seharusnya umat Islam bereaksi keras terhadap pembakaran masjid ? Dan ini lah yang harus kita sadari, bahwa kebangkitan umat Islam khususnya di Indonesia memang benar adanya. Berawal dari seruan di laman-laman facebook dan sosial media lainnya, mulai dari kecaman hingga ancaman pemboikotan, siapa yang sangka hal tersebut bisa menjadikan saham PT Nippon Indosari Corpindo Tbk anjlok 20 poin (1,32%) ke Rp 1.500 dan mampu menempatkan Metro TV diurutan rating ke 14 dari 15 stasiun televisi nasional. Ini adalah buah dari kesabaran umat Islam selama ini, topik-topik yang dibicarakan umat Islam kini tak lagi soal furuiyyah ibadah, tapi bagaimana cara untuk membuat collapse sebuah stasiun Televisi besar yang selalu menyudutkan Islam! Sungguh kemajuan yang tak terduga.

Lalu mau dibawa kemana api besar ini, api yang terpercik dari ghirah umat Islam jika tak diarahkan pada jalur yang benar, maka api yang membesar itu cepat atau lambat pasti akan padam, entah itu tertiup angin pengalihan isu atau tersiram air cinta dunia. Betapa kami berharap para ulama dan tokoh-tokoh Islam bisa bergerak cepat untuk menentukan tujuan pergerakan umat kedepan. Dikala ghirah umat sedang tinggi-tingginya, Al faqir rasa jika diarahkan pada penerapan Syariat dan Khilafah di Indonesia adalah hal yang sangat tepat. Wallahu a’lam.

Categories