Ghouta Tenggelam dalam Darah oleh Rezimnya Sendiri

Pemboman wilayah di Suriah Ghouta yang dikuasai oposisi terus berlanjut. foto: rol


MUSTANIR.COM, DAMASKUS — Warga daerah yang dikepung di Ghouta Timur, Suriah mengalami hari pengeboman tanpa henti oleh Pemerintah Bashar Assad. Operasi tersebut sejauh ini telah membunuh lebih dari 200 orang dan membiarkan sebuah kesepakatangencatan senjata berantakan.

Pengeboman tersebut berlanjut meski ada permintaan internasional untuk gencatan senjata. ” Ghouta tenggelam dalam darah,” kata seorang dokter di Arbeen, salah satu kota di wilayah, tempat 100 orang terluka dan sedikitnya 14 orang terbunuh, termasuk seorang pekerja penyelamat dan beberapa anak.

“Tidak ada tempat yang aman di Ghouta. Anda bisa menggambarkannya dengan pepatah kita: Di atas kematian, kuburannya terlalu kecil,” kata seorang wartawan yang berbasis di Kota Douma, Raed Srewel, dikutip the Guardian, Jumat (9/2).

Kelompok pemantau Observatorium untuk Hak Asasi Manusia mengatakan, 59 warga sipil, termasuk 15 anak-anak, tewas pada Kamis (8/2) saja di Ghouta timur.

Ghouta timur adalah daerah kantong yang dikepung selama bertahun-tahun. Daerah ini pernah menjadi daerahsumber pertanian gandum di dekat ibu kota, Damaskus.

Kekerasan ini menandai gagalnya konferensi nasional yang ditengahi oleh Rusia. Kekerasan ini juga menandai berakhirnya perjanjian de-eskalasi yang efektif yang ditengahi oleh Moskow, Ankara dan Teheran.

Tak hanya di Ghouta, serangan pemerintah juga meluas di Provinsi Idlib di Suriah.

Menurut perkiraan PBB, serangan di Idlib telah mengungsikan lebih dari 300 ribu orang. Jumlah inimeningkat dalam beberapa hari terakhir. Banyak yang mencari perlindungan didekat perbatasan Turki, mengancam masuknya pengungsi baru.
(republika.co.id/9/2/18)

Categories