Islam Mengatasi Prostitusi

prostitusi

Islam Mengatasi Prostitusi

Ketika Ahok Bicara Prostitusi

Praktek prostitusi terselubung hingga online yang marak di Jakarta menjadi sorotan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Meski mengaku sulit menemukan solusinya tetapi Ahok bertekad menertibkannya.

Terbaru, praktek prostitusi yang menjadi perhatian khalayak ramai yakni terbongkarnya pembunuhan Deudeuh ‘Tataa Chubby’ di Boarding House 15 C, Tebet Utara, Jakarta Selatan. Perempuan cantik itu ditemukan tewas menggenaskan di kamar kosnya. Ia dibunuh sang pelanggan, Prio Santoso alias Rio, yang tersinggung karena dikatai bau badan saat bercinta.

Usut punya usut, rupanya prostitusi di kos-kosan di kawasan yang dikenal dengan sebutan ‘vagina street’ itu sudah berlangsung lama.

Menanggapi fenomena ini, Ahok berpendapat prostitusi sulit diatasi selama manusia masih ada di muka bumi. Ahok bahkan menyebut prostitusi telah merambah di sejumlah kalangan termasuk para politisi. Kata dia, banyak oknum pejabat maupun oknum politisi yang ditawari pekerja seks komersial (PSK).

Prostitusi juga dianalogikannya sebagai sampah masyarakat. Untuk itu, Ahok telah memerintahkan anak buahnya untuk melakukan penertiban dan pengawasan. Ia segera menutup kos-kosan yang berubah fungsi menjadi sarang bisnis prostitusi.

1. Tutup Kos Jadi Prostitusi

Pemprov DKI Jakarta akan lebih memperketat pengawasan penggunaan kos-kosan. Berkaca dari kasus Dedeuh Alfisahrin yang menggunakan kamar kos tempat menjual ‘jasa’, penggunaan kos-kosan yang disalahgunakan sebagai tempat prostusi akan ditutup.

“Saya minta wali kota, masa nggak tahu tempat mana yang ada prostitusinya. Saya kasih tahu dia untuk dibongkar atau memeriksa,” kata Ahok di Balai Kota DKI Jakarta, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (20/4/2015).

Ahok mengatakan, pada masa kepemimpinan Sutiyoso (Bang Yos), lokalisasi di Jakarta Utara berhasil ditutup. Bang Yos mengubahnya sebagai tempat yang lebih bermanfaat, yaitu Islamic Center.

Namun kata Ahok, jangan sampai dengan ditutupnya lokalisasi, prostitusi justru terjadi di mana-mana. Seperti dengan ditutupnya lokalisasi Dolly di Surabaya, menurutnya prostitusi di kota Pahlawan tersebut belum benar-benar hilang.

“Jangan sampai lokalisasi ditutup terus terjadi (prostitusi) di kos-kosan,” ujarnya.

Namun demikian, Ahok yang semula berencana membuka lokalisasi, tidak berniat untuk membuka lokalisasi lagi. Sebab usulannya telah ditolak mentah-mentah oleh berbagai kalangan.

“Gak bisalah, ini mana mungkin. Bisa diserang habis saya,” tutur Ahok.

2. Sampah Masyarakat

Ahok bercerita mengenai sulitnya memberantas prostitusi di Jakarta. Namun meski sulit, ia mengatakan akan tetap memberantas hal itu.

Ahok mengatakan, dirinya belum menemukan solusi untuk mengatasi maraknya prostitusi di Jakarta. Dia menyebut, prostitusi tak akan hilang selama masih ada manusia.

Prostitusi dianalogikan Ahok seperti manusia dan kotorannya. Selama masih ada manusia, kotorannya tidak akan pernah hilang dari muka bumi.

“Kamu mau nggak kotorannya dimana-mana? Selama ada kotoran, walaupun tempatnya yang bersih namanya tetap t** toh,” ujar Ahok.

Ahok melanjutkan, dirinya pernah mengusulkan untuk membuka lokalisasi. Namun usulan tersebut ditolak mentah-mentah oleh berbagai kalangan.

Sebagai solusi mengatasi prostitusi, Ahok kini mengimbau para wali kota untuk mengawasi penggunaan kos-kosan di seluruh wilayah di DKI Jakarta. Jangan sampai kasus kematian pekerja seks komersial (PSK) Tata Chubby atau Deudeuh Alfi Sahrin di tempat kosnya di daerah Tebet, Jakarta Selatan, pada 10 April lalu terulang.

“Ibarat pelacuran itu kayak sampah masyarakat, selama ada masyarakat pasti produksi sampah, nah sampah itu tapi jangan dimana-mana dong harus dirapikan,” katanya. Apalagi saat ini bisnis prostitusi merambah ke dunia online sehingga pengawasan akan lebih sulit dilakukan.

“Online lebih pusing lagi toh. Semua kos-kosan mesti diperiksa. Dia (para walikota) lebih tahu dari pada kita,” ujar Ahok.

3. Politisi ‘Main Cewek’

Ahok menyebut prostitusi banyak terjadi di berbagai kalangan dan lokasi. Bahkan di kalangan politisi, prostitusi bukanlah hal yang baru.

“Saya juga sering dengar kok, oknum pejabat oknum politisi disiapin cewek,” kata Ahok di Balai Kota DKI Jakarta, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (17/4/2015).

Ahok mengatakan, ia kerap mendengar hal itu dari para tukang salon. Mereka sering menceritakan persyaratan perempuan yang diminta oleh para politisi.

“Tukang salon juga cerita maunya yang 21 tahun, putih, tinggi. Coba kamu potong rambut di salon, cerita semua tuh ibu-ibu,” ujarnya.

Oleh karena itu, kata Ahok, sebaiknya dibuat lokalisasi tersendiri bagi prostitusi. Sehingga tidak banyak lokalisasi terselubung di Jakarta.

“Saya dulu ngomong lokalisasi dicerca orang habis. Itu yang saya bilang kalau anda mau belajar sesuatu itu mesti jelas. Ini masalah penegakan hukum,” kata Ahok.

4. Usul Lokalisasi yang Dicerca

Ahok mengaku telah mengetahui adanya kawasan ‘vagina street’ itu sejak lama. Ia sudah berencana menutup kos-kos yang disalahgunakan untuk prostitusi.

Namun demikian, Ahok menilai salah satu solusi dari banyaknya prostitusi terselubung adalah dengan membuat lokalisasi. Sayangnya menurut Ahok, usulannya tersebut ditolak mentah-mentah oleh banyak pihak.

“Saya dulu ngomong lokalisasi dicerca orang habis. Itu yang saya bilang kalau anda mau belajar sesuatu itu mesti jelas. Ini masalah penegakan hukum,” kata Ahok di Balai Kota DKI Jakarta, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (17/4/2015).

Ahok mengatakan, saat ini prostitusi dapat terjadi di mana saja. Seperti di hotel mewah, apartemen maupun kos-kosan. Ia menyebut, prostitusi selevel dengan perselingkuhan dan korupsi.

“Prostitusi sama selingkuh sama nggak dosanya? Sama juga. Nyolong mark up UPS sama nggak dosanya, sama juga,” katanya.

Ahok kemudian mencontohkan kisah pelaku prostitusi pada zaman Nabi Sulaiman. Menurutnya, Nabi Sulaiman masih mau memberikan keadilan bagi para pelaku prostitusi.

“Nabi aja bilang, prostitusi yang baik, orang kasih makan anjing bisa masuk surga juga lho. Jadi zaman nabi pun sudah ada prostitusi. Betulkan,” tutur pria asal Belitung Timur ini.

Islam Mengatasi Prostitusi

Islam sebagai agama dan juga sistem hidup memiliki konsep yang sangat komprehensif untuk mengatasi prostitusi. Prostitusi merupakan aktivitas seks yang dilakukan di luar akad nikah yang sah. Meski demikian, di Indonesia, sudah jamak dikenal prostitusi legal di mana aktivitas tersebut dipantau pemerintah. Padahal, dari prostitusi inilah muncul berbagai masalah sosial masyarakat lainnya, seperti perceraian, aborsi, trafficking dan penyebaran penyakit seksual menular, termasuk yang paling berbahaya, HIV/AIDS.

Anehnya, pemerintah masih tutup mata dengan dampak berantai dari eksistensi pelacuran ini. Akibatnya, pelacuran makin menjadi, termasuk memakan korban dari kalangan anak-anak dan remaja.

Sistem Islam dapat menjadi solusi alternatif dalam mengatasi prostitusi melalui penyelesaian yang komprehensif. Setidaknya ada lima jalur penyelesaian yang dalam pelaksanaannya saling bersimultan. Yakni, jalur hukum, ekonomi, sosial, pendidikan dan politik.

Kelima jalur ini harus ditempuh karena munculnya aktivitas prostitusi bukan hanya karena satu alasan tertentu, misalnya faktor ekonomi. Adapun lima jalur ini adalah:

Hukum

Negara harus tegas memberikan sanksi pidana kepada para pelaku prostitusi yang telah berbuat zina. Jangan hanya mucikari atau germonya yang dikenai sanksi, juga pelacur dan pemakai jasanya. Selama ini, pelacur selalu dibela sebagai korban. Sementara para lelaki hidung belang bebas melenggang. Mereka adalah subyek dalam lingkaran prostitusi yang harus dikenai sanksi tegas. Hukuman di dunia bagi orang yang berzina adalah dirajam (dilempari batu) jika ia pernah menikah, atau dicambuk seratus kali jika ia belum pernah menikah lalu diasingkan selama satu tahun. Jika di dunia ia tidak sempat mendapat hukuman tadi, maka di akhirat ia disiksa di neraka. Bagi wanita pezina, di neraka ia disiksa dalam keadaan tergantung pada payudaranya.

Ekonomi

Negara harus mewujudkan jaminan kebutuhan hidup setiap anggota masyarakat, termasuk penyediaan lapangan pekerjaan harus terpenuhi. Sehingga, alasan mencari nafkah tidak bisa lagi digunakan untuk melegalkan prostitusi.

Pendidikan

Negara wajib menjamin pendidikan untuk memberikan bekal kepandaian dan keahlian pada warganya. Hal ini terkait dengan poin kedua di atas, yakni agar setiap individu mampu bekerja dan berkarya dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya dengan cara yang baik dan halal.

Sosial

Pembinaan untuk membentuk keluarga yang harmonis merupakan penyelesaian jalur sosial yang juga harus menjadi perhatian pemerintah. Hal ini disebabkan keluarga merupakan salah satu pilar dalam masyarakat yang ikut menentukan kualitas suatu generasi.

Politik

Penyelesaian prostitusi membutuhkan diterapkannya kebijakan yang didasari syariat Islam. Harus dibuat undang-undang yang tegas mengatur keharaman bisnis apapun yang terkait pelacuran. Negara merupakan satu-satunya institusi yang mampu menerapkan syariat Islam ini dalam bentuk Khilafah Islamiyah.

Dengan solusi di atas, diharapkan tidak akan ada lagi perempuan, khususnya anak-anak dan  remaja yang terjerumus pelacuran dengan alasan apapun. Juga, tidak akan ada laki-laki yang tergoda untuk berzina bukan dengan pasangan sahnya, baik cuma-cuma maupun berbayar dengan pelacur. (mediaumat/adj)

Categories