Kasus Pemerkosaan Di Arab Saudi Kerap Dirahasiakan

laki-laki-dan-wanita-bercadar

Kasus Pemerkosaan Di Arab Saudi Kerap Dirahasiakan

Sejak tahun 1998, sebuah penelitian di Arab Saudi yang dilakukan oleh Saudi Study menghasilkan data. Dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi al-Hurra, seorang narasumber dari Saudi Study mengungkapkan bahwa 23% mahasiswi Saudi pernah mengalami pemerkosaan saat masa kanak-kanak.

Sebanyak 62% di antara mereka tidak pernah melaporkan kasus perkosaan yang mereka alami. Ini karena pelakunya adalah seorang kerabat si korban. Dalam studi tersebut, disebutkan bahwa lebih dari 16% pelaku perkosaan adalah kerabat, terutama 5% adalah saudara kandung, 2% adalah guru, dan 1% adalah orangtua.

Dalam studi lainnya, yang dilakukan oleh Dr. In’am (al-Rabu’i) presiden untuk studi mengenai anak-anak di Rumah Sakit Angkatan Bersenjata di Jeddah, menyebutkan bahwa dalam tahun-tahun ke depan, masyarakat Arab akan semakin menderita dengan kasus kekerasan homoseksualitas. Sebab, ungkapnya semakin banyak kasus-kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak yang dibawa ke rumah sakit. Demikian pula kekerasan sosial yang ditimpakan kepada anak-anak. Ia juga menyebutkan bahwa rumah sakit menemukan rata-rata 3 kasus pelecehan seksual setiap minggu.

Seperti dilansir Emirates, Rabu (8/1/2014) lalu, sebuah survei tentang pelecehan seksual di Arab Saudi yang digelar oleh King Abdulaziz Center for National Dialogue di Riyadh menunjukkan hasil yang mengejutkan. Sekitar 80% warga Arab Saudi yakin bahwa yang harus disalahkan dalam pelecehan seksual terhadap perempuan adalah perilaku perempuan itu sendiri.

Survei yang melibatkan 992 responden, dengan jumlah antara lelaki dan perempuan yang hampir berimbang ini, sebagian besar responden, dalam survei itu, mengatakan bahwa perempuan meski mengenakan hijab sengaja mengenakan busana dan berdandan untuk menarik perhatian lelaki. Sementara 91% responden mengatakan kurangnya pemahaman agama menyebabkan maraknya pelecehan seksual di Arab Saudi.

Meski demikian, masih ada sekitar 80% responden yang mengatakan bahwa lemahnya sistem untuk mencegah pelecehan seksual yang menyebabkan tingginya angka kejahatan seksual di Saudi.

Arab Saudi sendiri adalah salah satu negara dengan tingkat kejahatan seksual tertinggi di dunia. Menurut angka statistik seperempat dari total jumlah anak-anak di Arab Saudi pernah menjadi korban pelecehan seksual atau pemerkosaan yang dilakukan oleh orang dewasa.

Sementara itu, menurut sebuah studi yang dilakukan oleh peneliti lokal Arab Saudi, yang melibatkan responden perempuan berusia 18 sampai 48 tahun, sekitar 78% perempuan di Saudi mengaku secara langsung pernah mengalami pelecehan seksual. Sementara 92% lainnya mengatakan bahwa pelecehan seksual di negara itu terus meningkat.

Sayangnya sejak belasan tahun dilakukan pendataan dan penelitian oleh Saudi Study, hingga kini situasi di Arab masih sama. Keluarga korban perkosaan sengaja tidak melaporkan kasus pemerkosaan karena ingin menjaga nama baik keluarga. Seorang ibu korban, yang tidak ingin disebutkan namanya menuturkan bahwa ketika mengetahui anaknya mengalami perkosaan, suaminya enggan melaporkan hal tersebut karena beranggapan akan membikin aib bagi keluarga.

“Waktu itu saya sedang pergi ke salah satu pusat perbelanjaan di Jeddah. Sampai di sana, saya menitipkan anak saya yang berusia delapan tahun di tempat penitipan anak. Ketika ingin menjemputnya, saya tidak menemukannya di tempat penitipan dan di dalam mall. Saya merasa ia diculik,” tuturnya.

Ia kembali bercerita,”Lama mencari, saya menemukannya diluar toko dengan kondisi tubuh yang memprihatinkan. Ia diperkosa dengan brutal sehingga mentalnya terganggu. Namun, suami saya tidak ingin melaporkan hal ini pada polisi,” tuturnya pada harian Arab News.

Hingga saat ini tidak ada angka spesifik yang menunjukkan jumlah rata-rata pelecehan seksual yang terjadi di Arab Saudi. Namun pihak berwenang di Arab Saudi melaporkan ada 2.797 kasus pelecehan seksual yang melibatkan perempuan dan anak-anak yang terjadi dalam kurun waktu 10 bulan terakhir di tahun 2013 lalu. (SUMBER: Emirates/ Al Arabiya/ suara.com/ arabnews.com/adj)

Komentar

Beginilah kondisi umat Islam saat hukum Islam tidak diterapkan secara sempurna. Sekalipun Saudi menganut sistem pemerintahan Monarki Absolut, namun ada hukum Islam yang berlaku. Tapi pemberlakuan hukum Islam tersebut masih belum sempurna. Karena dalam pelaksanaan hukumnya jjika bangsawan yang melakukan kriminal, hukum seolah tumpul. Wallahu a’lam.

Categories