Islam Radikal Diawasi, Kristen Radikal Dibiarkan

pengawasan-muslim

Islam Radikal Diawasi, Kristen Radikal Dibiarkan

Pemerintah akan membentuk Badan Cyber Nasional untuk melawan propaganda ISIS. Menurut pemerintah lembaga itu untuk menangkal 9 ribu situs paham radikal.

Menkopolhukam Tedjo Edhy menyatakan bahwa ISIS menggunakan berbagai cara untuk menyebarkan propagandanya. Menurut Tedjo situs-situs radikal itu harus dihapuskan.

Sementara itu, peneliti Terorisme dari Rand Corporation (AS), Angel Rabasa menyatakan juga bahwa ISIS menggunakan media sosial untuk merekrut anggotanya. Menurutnya, hal ini yang membedakan antara ISIS dan organisasi radikal al Qaida. Penggunaan media sosial ini ditujukan untuk anak-anak muda.

Menurut Rabasa, anak muda dari pesantren yang memiliki keinginan mengubah masyarakat jadi tujuan utama.

Sedangkan pakar terorisme Rohan Gunaratna menyatakan bahwa Indonesia memiliki 18 kelompok radikal. Sebanyak 15 diantaranya diduga telah dibaiat pemimpin ISIS Abu Bakar al Baghdadi. Tiga lainnya menyatakan mendukung ISIS.

Di Filipina menurutnya ada tiga kelompok yang mendukung ISIS dan di Malaysia ada lima kelompok yang mendukung ISIS. Gunaratna, Guru Besar Universitas Nanyang Singapura ini lebih lanjut menyatakan bahwa masalah ISIS adalah masalah Asia Tenggara. Terutama di Malaysia, Indonesia dan Filipina.

Menurutnya, kelompok-kelompok itu kini perannya masih sekedar rekrutmen dan mengumpulkan dana untuk mendukung ISIS. Tapi perkembangan selanjutnya bisa mengkhawatirkan. “Semua itu mengarah pada keinginan untuk membuat negara,” terangnya.

Walhasil, para peneliti Barat ini memang sedang mengkhawatirkan perkembangan Islam Indonesia. Mereka tidak sekalipun mengkhawatirkan perkembangan Kristen atau Katolik Radikal di Indonesia. Baik di Maluku mapun Papua yang jelas-jelas mengadakan gerakan separatis untuk pisah dari Indonesia.

Entah mengapa Islam Radikal selalu diawasi, sedang Kristen, Katolik dan Hindu radikal dibiarkan bebas di negeri ini. Konspirasi Barat? Wallahu a’lam

SUMBER

Categories