Isu Radikalisme: Senjata Kapitalisme Global untuk Membungkam Umat Islam

MUSTANIR.netRadikal Kalau Peduli Palestina?

Lucu sekali kalau kita perhatikan narasi “radikalisme” yang hari-hari ini dipromosikan di kampus-kampus. Misalnya lewat poster seperti ini: membicarakan Palestina disebut bibit radikalisme. Jadi rupanya, peduli pada rakyat Palestina yang digilas tank Israel itu berbahaya. Sebaliknya, diam seribu bahasa ketika Amerika menginvasi Irak, atau ketika Freeport menguras emas Papua, itu dianggap wajar, bahkan cerdas.

Ya, inilah cermin dari politik adu domba. Narasi radikalisme sengaja digoreng untuk membuat umat Islam curiga terhadap saudaranya sendiri. Mahasiswa dicekoki ketakutan palsu agar alergi terhadap Islam ideologis. Mereka diarahkan agar sibuk mengejar sertifikat TOEFL, IPK cumlaude, dan lomba start-up. Namun, jangan sekali-sekali menyentuh ide besar tentang Islam sebagai solusi hidup.

Kampus: Pabrik Kaum Intelektual atau Pabrik Para Pembebek?

Katanya, kampus adalah tempat mahasiswa belajar berpikir kritis. Nyatanya, kritik hanya boleh diarahkan pada isu-isu receh: biaya UKT, parkiran penuh, atau harga makanan di kantin. Kalau kritiknya diarahkan pada sistem demokrasi yang sarat korupsi, atau kapitalisme yang menjarah sumber daya alam, langsung dicap radikal.

Jika demikian yang diinginkan, berarti kampus bukan lagi pabrik yang memproduksi kaum intelektual, melainkan pabrik yang memproduksi para pembebek. Mahasiswa Muslim dicetak agar pandai menyusun power point, fasih bahasa Inggris; tetapi gagap kalau bicara tentang Islam kaffah.

Padahal generasi mahasiswa dulu justru terhormat karena keberaniannya melawan penjajah. Mereka membaca dunia dengan kaca mata ideologis, bukan sekadar laporan penelitian setengah matang. Namun, hari ini, mahasiswa yang membaca kitab tentang khilafah dituding “berpotensi ekstremis”. Ironi? Tidak. Ini memang strategi.

Kapitalisme Butuh Musuh Palsu

Sejak keruntuhan khilafah Utsmaniyah 1924, dunia Islam tercerai-berai menjadi lebih dari 50 negara-bangsa (nation-state). Setiap negara punya bendera sendiri, nasionalisme sendiri, bahkan pasukan militernya sendiri. Satu hal yang sama: semua tunduk di bawah sistem kapitalisme global.

Namun, ada masalah. Para pengemban ideologi kapitalisme global tahu dan paham bahwa suatu hari umat Islam bisa sadar kembali. Mereka bisa mengingat bahwa Rasulullah ﷺ pernah membangun daulah Islam di Madinah, yang kemudian menjelma menjadi sistem pemerintahan Islam global, yakni khilafah, selama 13 abad. Jika kesadaran itu bangkit, kapitalisme global akan terguncang.

Jadi, apa yang harus dilakukan? Sangat sederhana: mereka menciptakan musuh palsu bernama “radikalisme”.

Jika ada mahasiswa bicara tentang ketidakadilan global, dia sebut dia radikal. Jika ada yang membahas khilafah, dia dicap ekstremis. Jika ada yang mengkritik demokrasi, dia dituduh anti-Pancasila.

Dengan begitu, umat Islam sibuk berantem dengan sesama Muslim. Mahasiswa Islam sibuk saling tuduh radikal. Sebaliknya, kapitalisme tenang menjarah kekayaan negeri lewat investasi asing, utang luar negeri, dan perjanjian perdagangan.

Demokrasi: Berhala Baru yang Wajib Disembah

Di poster itu disebutkan: kelompok yang menolak demokrasi dianggap radikal. Pertanyaannya, sejak kapan demokrasi jadi kitab suci?

Demokrasi jelas-jelas ciptaan manusia. Ia lahir dari rahim pemikiran Yunani kuno, kemudian dipoles oleh Barat modern. Demokrasi bukan berasal dari al-Quran, bukan pula dari sunnah Rasul. Namun anehnya, menolak demokrasi justru dianggap dosa besar.

Padahal demokrasi hanya menghasilkan politik transaksional. Kursi kekuasaan ditentukan oleh modal. Bukan oleh kualitas kepemimpinan. Tidak aneh, korupsi merajalela. Negara terjual kepada pemilik modal. Rakyat hanya diberi hak memilih lima menit, lalu lima tahun menderita.

Lalu, ketika mahasiswa sadar dan berkata, “Sistem ini busuk, kita perlu kembali pada Islam kaffah,” jawabannya: “Hati-hati, itu radikal!” Wah, ternyata demokrasi lebih sakral daripada al-Quran.

Khilafah: Hantu yang Selalu Ditakuti

Lihatlah bagaimana kata “khilafah” selalu ditampilkan sebagai sesuatu yang menakutkan. Setiap ada diskusi tentang khilafah di kampus, aparat intelejen merapat. Padahal, khilafah bukan hantu, melainkan ajaran Islam yang dicatat para ulama sepanjang sejarah.

Imam an-Nawawi, al-Mawardi, Ibnu Khaldun, as-Suyuthi, bahkan para ulama Nusantara, semuanya membahas kewajiban mengangkat seorang khalifah untuk memimpin umat. Ini bukan ide impor, bukan ciptaan ormas tertentu, melainkan bagian dari fiqih Islam.

Masalahnya, kapitalisme global sangat takut pada khilafah. Mengapa? Karena khilafah berarti hukum Allah yang berlaku, bukan hukum buatan manusia. Khilafah berarti ekonomi syariah yang menghapus riba, bukan utang berbunga. Khilafah berarti sumber daya alam dikuasai negara untuk rakyat, bukan diprivatisasi untuk asing. Singkatnya: khilafah berarti tamatnya kapitalisme.

Adu Domba Umat Islam

Narasi radikalisme adalah strategi divide et impera modern. Jika dulu Belanda memecah umat dengan politik etis dan sekat-sekat kultural, kini umat dipecah lewat isu radikalisme.

Muslim yang ingin kembali pada Islam kaffah dituding berbahaya. Muslim yang kritis terhadap Barat dilabeli ekstremis. Muslim yang membela Palestina dicurigai anti-NKRI.

Hasilnya, umat Islam saling curiga. Mahasiswa enggan berdiskusi tentang Islam ideologis karena takut disusupi. Aktivis dakwah dicurigai, sementara aktivis liberal dielu-elukan.

Padahal sejatinya, ancaman terbesar bukan datang dari sesama Muslim. Ancaman terbesar datang dari Kapitalisme global yang setiap hari merampok negeri-negeri Muslim.

Melumpuhkan Generasi Muda

Lihat bagaimana mahasiswa diarahkan hari ini. Mereka sibuk membicarakan personal branding, career planning, financial freedom, dan healing. Semua topik aman, tidak mengganggu status quo.

Namun, kalau ada yang bicara soal Islam sebagai ideologi? Bahaya. Segera bubarkan diskusinya. Kalau ada yang membicarakan khilafah sebagai solusi global? Bahaya. Segera stigmatisasi.

Dengan begitu, generasi muda Islam tidak lagi menjadi motor perubahan. Mereka hanya jadi pion pasar: pekerja korporasi, konsumen iklan, sekaligus voter lima tahunan.

Islam Kaffah: Jalan Keluar yang Ditutup

Narasi radikalisme pada akhirnya adalah upaya sistematis untuk menutup pintu kembali pada Islam kaffah. Islam dibolehkan sebatas ibadah ritual: shalat, puasa, zakat. Namun, kalau Islam bicara politik, ekonomi, sistem pemerintahan? Stop. Itu radikal.

Padahal Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً

“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kamu ke dalam Islam secara kaffah (menyeluruh).” (QS al-Baqarah: 208)

Ayat ini jelas memerintahkan kita untuk mengambil Islam secara total. Bukan sepotong-sepotong. Namun, kapitalisme global tahu, kalau umat kembali ke Islam kaffah, hegemoni Barat akan runtuh. Karena itu, narasi radikalisme terus dipelihara.

Radikal Itu Kalau Melawan Allah Subḥānahu wa Taʿālā

Mari kita balikkan logikanya. Sesungguhnya, yang paling radikal itu bukan mahasiswa yang bicara khilafah. Yang paling radikal adalah mereka yang menolak hukum Allah subḥānahu wa taʿālā, lalu memaksakan hukum buatan manusia.

Radikal itu kalau merampok kekayaan rakyat dengan dalih investasi. Radikal itu kalau menormalisasi penjajahan Israel atas Palestina. Radikal itu kalau mengkriminalisasi dakwah Islam kaffah.

Jadi, jangan terkecoh. Narasi radikalisme bukan untuk melindungi bangsa, melainkan untuk melindungi kapitalisme global. Umat Islam harus sadar, isu ini hanyalah jebakan adu domba agar kita takut kepada Islam kita sendiri.

Karena itu, tugas kita adalah membebaskan pikiran dari jebakan ini, mengembalikan umat pada kesadaran ideologis, dan berjuang menegakkan Islam kaffah. Hanya dengan itu, kita bisa menghentikan kezaliman global dan mengakhiri dominasi kapitalisme global.

Kesimpulan

Narasi “radikalisme” hanyalah propaganda murahan. Ia dipakai untuk menumpulkan daya kritis mahasiswa, mematikan semangat perjuangan Islam, dan menutup jalan menuju khilafah. Maka dari itu, jangan terjebak. Jangan takut disebut radikal hanya karena memperjuangkan kebenaran.

Sebabnya, sejatinya yang radikal itu adalah sistem kapitalisme global yang terbukti telah menimbulkan banyak kerusakan di muka bumi. Sama sekali bukan Islam. Islam justru —jika diterapkan secara kaffah— akan menjadi rahmat bagi dunia bahkan alam semesta.

WalLaahu a’lam. []

Sumber: Arief B Iskandar

About Author

Categories