Jangan Diam

Jangan Diam

MUSTANIR.COM – “Siapa saja yang menjadikan akhirat sebagai misinya, maka Allah puaskan hatinya, Allah kumpulkan apa yang masih tercerai, dan Allah berikan padanya dunia yang siap melayaninya. Siapa saja yang menjadikan dunia sebagai misinya, maka Allah menjadikan kemiskinan di antara kedua matanya, Allah cerai-beraikan apa yang terkumpul, dan Allah tidak memberikan padanya dunia, kecuali apa yang telah ditetapkan kepadanya.” (HR. At-Tirmidzi).

Menjadikan dunia sebagai tujuan hidup telah melupakan dan memalingkan manusia dari menaati Allah, dan dari menyembah kepadanya dengan sebenar-benarnya menyembah. Hadits di atas mengajak kita untuk selalu ingat dari apa yang sering kita lupakan, dan untuk menghasilkan kekuatan pendorong yang akan menambah ketenangan hati kita, serta mengarahkan kita untuk meninggalkan dan bersikap zuhud terhadapnya, karena berharap apa yang ada di sisi Allah, yaitu ridha Allah di dunia dan kenikmatan di akhirat.

Imam Ibnu al-Qayyim semoga Allah merahmatinya mengatakan: “Jika seorang hamba di waktu pagi dan sore tidak memiliki misi lain selain untuk Allah semata, maka Allah SWT yang akan menanggung seluruh kebutuhannya, dan menanggung semua keinginannya. Sehingga, ia mengosongkan hatinya hanya untuk mencintai-Nya, lisannya untuk selalu mengingat-Nya, dan anggota tubuhnya untuk senantiasa menaati-Nya. Jika seorang hamba di waktu pagi dan sore, sementara dunia sebagai misinya, maka Allah membebaninya dengan keprihatinan, kesedihan dan kesulitan. Bahkan Allah berlepas diri darinya.

Rasulullah Saw mendorong kita agar membebaskan tawanan, memberi makan yang lapar, dan mengunjungi yang sakit. Namun, telah lama bersarang dalam pikiran kita yaitu rasa pedih yang menyakitkan melihat kondisi umat Islam yang membutuhkan pembebasan. Sebab, umat Islam saat ini sedang dipenjara, kelaparan, dan sakit. Krisis multidimensi dan perpecahan di negeri-negeri Islam tidak lepas dari intervensi negara-negara Barat dalam melanggengkan hegemoni Barat atas Dunia Islam. Negara-negara Barat akan melakukan apapun untuk melemahkan Islam dan menghadang tegak kembalinya institusi penjaganya, Khilafah. Tentu mereka tidak akan duduk menunggu berdiam diri. Saat ini saja mereka sudah melakukan segala cara untuk menghentikan tegaknya Khilafah yang sesungguhnya.

    Kita telah mendengar bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya manusia apabila mereka telah melihat kemungkaran, namun mereka tidak berusaha mengubahnya, maka hampir Allah akan menjatuhkan hukuman-Nya kepada mereka semua—yang melakukan kemungkaran dan yang melihatnya namun tidak berusaha merubahnya”. (Sunan Ibnu Majah, 12/158)

    Alhamdulillah, Allah memberi petunjuk kepada kita bersama di antara para pengemban dakwah untuk menerapkan hukum Allah di bumi. di tengah-tengah umat ini kita mengerti betul manthûq (makna yang tersurat) dari ayat yang mulia “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (TQS. Al-Hasyr [59] : 7). Sementara hadits ini adalah menegaskan hakikat syara’, yaitu, bahwa Islam harus diterapkan secara penuh.

    Adanya Amirul Mukminin (Khalifah) berarti adanya orang yang akan mewujudkan keadilan dengan menerapkan semua perintah Allah dan larangan-Nya. Sebaliknya, tidak adanya Amirul Mukminin (Khalifah), berarti tidak adanya hukum-hukum Allah yang akan mencegah terjadinya permusuhan dan pertentangan, yang melindungi kehormatan kaum Muslim dari setiap bentuk penghinaan dan pelecehan.

Umar Syarifudin (pengasuh majelis taklim al ukhuwah)

Categories