
Tetap Istiqamah dalam Kebenaran Meski Berseberangan dengan Kebanyakan Orang
MUSTANIR.net – Baharuddin Lopa menyatakan, “Banyak yang salah jalan tapi merasa tenang karena banyak teman yang sama-sama salah. Beranilah menjadi benar meskipun sendirian.”
Sejatinya ini selaras dengan nilai-nilai Islam. Dalam pandangan Islam, kebenaran tidak diukur dari jumlah pengikut, melainkan dari kesesuaian dengan wahyu Allah ﷻ, yakni al-Quran dan as-Sunnah.
Allah ﷻ mengingatkan:
وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ
“Jika kamu menuruti kebanyakan orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka hanyalah berdusta.” (QS al-An‘ām: 116)
Ayat ini menegaskan bahwa mayoritas tidak selalu identik dengan kebenaran. Bahkan banyaknya pengikut justru bisa menjerumuskan jika yang diikuti adalah kesalahan.
Karena itu sistem demokrasi —yang menjadikan suara mayoritas sebagai standar kebenaran— jelas bertentangan dengan Islam. Sebabnya, standar kebenaran dalam Islam adalah syariah (wahyu Allah ﷻ). Bukan akal manusia meski itu mayoritas.
Selain itu Rasulullah ﷺ juga bersabda:
لَا تَكُنْ إِمَّعَةً، تَقُولُ: إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنْتُ، وَإِنْ ظَلَمُوا ظَلَمْتُ، وَلَكِنْ وَطِّنُوا أَنْفُسَكُمْ: إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَنْ تُحْسِنُوا، وَإِنْ أَسَاءُوا فَلَا تَظْلِمُوا
“Janganlah kalian menjadi seorang yang tidak punya pendirian (imma‘ah), yang berkata: ‘Jika manusia berbuat baik, aku ikut berbuat baik. Jika mereka berbuat zalim, aku ikut berbuat zalim.’ Namun, biasakanlah diri kalian: Jika manusia berbuat baik, kalian ikut berbuat baik; namun jika mereka berbuat jahat, janganlah kalian ikut berbuat zalim.” (HR at-Tirmidzi)
Hadis ini menegaskan pentingnya keberanian untuk tetap berpegang pada kebenaran, meski harus berbeda dari mayoritas.
Rasulullah ﷺ dan para Sahabat adalah teladan nyata tentang keberanian menjadi minoritas yang konsisten dengan kebenaran. Di tengah masyarakat jahiliyah yang mayoritas tenggelam dalam kesyirikan, mereka memilih jalan tauhid, walau awalnya hanya segelintir orang dan menghadapi tekanan besar.
Karena itu, Islam mengajarkan bahwa keberanian untuk sendirian di atas kebenaran adalah kemuliaan. Sebaliknya, beramai-ramai dalam kesalahan hanyalah bentuk kelemahan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
“Islam bermula dalam keadaan asing, dan ia akan kembali asing sebagaimana awalnya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing itu.” (HR Muslim)
Alhasil, yuk kita tetap istiqamah berpegang teguh di atas kebenaran (Islam) meski harus berseberangan dengan pendapat dan sikap banyak orang. []
Sumber: Arief B Iskandar
