Kebijakan Tanyai Murid SD di Inggris tentang Alasan Berhijab Dikecam

Papan reklame wanita berhijab (Ilustrasi)


MUSTANIR.COM, LONDON — Dewan Muslim Inggris (MCB) mengecam langkah yang akan dilakukan oleh badan pengawas pendidikan terhadap murid perempuan yang mengenakan hijab di sekolah dasar di Inggris. Badan pengawas pendidikan di Inggris, Ofsted, mengumumkan bahwa pihaknya akan secara khusus menargetkan dan menanyai murid perempuan di sekolah dasar alasan mereka mengenakan jilbab.

Sekretaris Jenderal MCB, Harun Khan, menilai, bahwa kebijakan untuk menanyai anak-anak perempuan itu sangat mengkhawatirkan dan salah arah. Menurutnya, kebijakan itu telah mengirim pesan yang jelas kepada semua wanita Inggris yang memakai jilbab bahwa mereka adalah warga kelas dua.

Padahal, mereka dibebaskan untuk mengenakan jilbab. Namun, langkah itu terkesan menunjukkan bahwa lembaga setempat lebih memilih agar mereka tidak mengenakan jilbab.

“Banyak Muslim Inggris yang memilih memakai jilbab telah melakukannya dengan sangat baik dalam pendidikan dan menghancurkan dinding penghalang. Sangat mengecewakan bahwa ini menjadi kebijakan bahkan tanpa melibatkan beragam suara dari arus utama Muslim mengenai topik ini,” kata Harun Khan, dilansir dari Asian Image, Selasa (21/11).

Khan menambahkan, bahwa pendekatan tersebut berisiko ‘kontraproduktif’ terhadap tekad Ofsted untuk menegakkan apa yang mereka sebut sebagai ‘nilai-nilai Inggris’. Ia mendesak, agar badan pengawas pendidikan tersebut menarik mundur keputusan itu.

Sebelumnya, kepala Ofsted, Amanda Spielman, mengatakan, bahwa mewajibkan anak-anak Muslim memakai jilbab di sekolah dasar dapat dipandang sebagai seksualisasi gadis-gadis muda. Yang mana, jilbab (kerudung) dan penutup lainnya dipakai sebagai simbol kesopanan atau kerendahan hati.

Ofsted kemudian mengumumkan bahwa pihaknya akan menanyai para murid perempuan Muslim di sekolah dasar mengapa mereka mengenakan jilbab. Langkah itu dilakukan setelah Spielman bertemu dengan juru kampanye dari Lembaga Penelitian dan Aksi Sosial pada Jumat (17/11) lalu.

Speilman mengatakan, pihaknya menghormati pilihan orang tua untuk membesarkan anak-anak mereka sesuai dengan norma budaya mereka. Namun, ia menilai, menciptakan lingkungan di mana murid sekolah dasar diharapkan memakai jilbab dapat ditafsirkan sebagai seksualisasi gadis-gadis muda.

“Dalam upaya mengatasi masalah ini, dan sejalan dengan praktik kami saat ini dalam hal menilai apakah sekolah tersebut mempromosikan kesetaraan untuk anak-anak sekolah, pengawas pendidikan akan berbicara dengan anak-anak perempuan yang mengenakan pakaian semacam itu mengapa mereka melakukannya di sekolah,” kata Spielman.

Dalam hal ini, Spielman mengatakan, pihaknya akan mendesak orang tua atau anggota masyarakat yang memiliki kepedulian tentang kelompok fundamentalis, yang mempengaruhi kebijakan sekolah atau yang melanggar undang-undang kesetaraan, untuk mengajukan keluhan ke sekolah. Jika sekolah tidak bertindak atas keluhan ini, Spielman mengatakan, mereka bisa mengajukannya ke Ofsted langsung.

Penelitian oleh National Secular Society pada September lalu telah menunjukkan, bahwa sekitar 59 dari 142 (42 persen) sekolah Islam, termasuk 27 sekolah dasar, di Inggris memiliki kebijakan mengenai seragam yang mewajibkan memakai penutup kepala atau kerudung. (republika.co.id/22/11/2017)

Categories